Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Feed aggregator

Jaga Booth SABDA “Sendiri”? Inilah Pengalamanku ….

Blog SABDA - Thu, 2015-05-21 14:34

Bersyukur kepada Tuhan Yesus karena YLSA diberi kesempatan untuk melayani para pendeta GMII di Bogor. Kesempatan ini ada karena terselenggaranya acara sidang sinode GMII. Dalam acara ini, semua pendeta GMII hadir, ada sekitar 300 pendeta. GMII mempunyai 150 gereja, dan semua gereja diwajibkan mengutus dua orang (pendeta & majelis), jadi ya minimal 300 orang ada dalam acara ini, itu belum termasuk panitia dan tamu. Acara ini berlangsung selama tiga hari, 25 -- 27 Maret 2015, di Hotel Seruni, Bogor.

Saya mewakili tim SABDA hadir di sana untuk melayani banyak pendeta. Mulai dari mempersiapkan booth SABDA, menjelaskan produk, meng-"instal" HP/Laptop, dan membagikan produk-produk SABDA, saya melakukannya seorang diri. Ada sekitar 40 HP yang saya instal. Banyak dari mereka yang tertarik dengan Kamus Alkitab (karena 'kan pendeta ... hehe). Selain itu, semua gereja mendapatkan 1 paket SABDA (DVD Anak 1.3, DVD Dengar Alkitab, dan DVD TELAGA). Pengalaman saya jaga booth SABDA sendirian cukup berkesan. Ya awalnya sih semangat, tetapi waktu mulai buka booth ... baru terasa susah karena semua harus ditangani sendiri. Yang paling terasa waktu makan siang/malam. Awalnya, saya berpikir bahwa "pasti bisa saya tangani sendiri" dan juga "tempat makannya akan dekat dengan booth", tapi ya, kenyataannya tempat makan jauh sekali (di gedung yang berbeda), dan susah cari orang untuk bantu jaga booth waktu saya makan. Namun, saya bersyukur karena ada orang-orang yang akhirnya bisa membantu. Dari pengalaman ini, saya punya saran untuk SABDA. Kalau buka booth SABDA, minimal ada dua orang yang terlibat supaya bisa saling menolong kalau ada hal-hal yang "urgent"/tidak direncanakan sebelumnya. Kita harus bisa berkomunikasi aktif dengan panitia. Sering kali dalam acara-acara seperti ini, ada beberapa hal yang berubah tanpa sepengetahuan kita, jadi kita harus aktif menghubungi panitia untuk mendapatkan informasi.

Oh iya, anggota GMII yang sudah mendapatkan produk SABDA sangat senang dan bersemangat, khususnya mereka yang mendapatkan produk Android, seperti Kamus Alkitab. Ada juga pendeta-pendeta dari pedalaman Kalimantan, mereka senang bisa membawa banyak bahan (paket SABDA) ke gereja mereka. Puji Tuhan!

Dari pengalaman ini, saya belajar "you can't do it alone", seperti yang dipelajari teman-teman sewaktu training. Saya sudah sering melakukan roadshow , dan awalnya sih saya pikir bisa dilakukan sendiri karena acara gereja sendiri dan sudah kenal banyak orang. Akan tetapi, ketika acara berlangsung, panitia sangat sibuk untuk mengurus acara, apalagi karena acara dilakukan di luar (di hotel). Jadi, karena semua sangat sibuk, tidak ada orang yang punya waktu untuk membantu saya kalau saya butuh bantuan. Bersyukur kepada Tuhan karena memang saya tidak mengerjakannya ini sendirian. Selalu ada Tuhan yang menyertai pelayanan SABDA di mana pun dan kapan pun. Terpujilah Tuhan!

Ulang Tahun Pertama Mei di YLSA

Blog SABDA - Wed, 2015-05-13 07:57

Hari Minggu sore, tanggal 10 Mei 2015, saya membaca notifikasi dari Facebook tentang orang-orang yang berulang tahun hari itu. Eh, ternyata salah satunya adalah Mei, teman "semeja" di kantor Griya SABDA dari Divisi PESTA, yang belum genap setahun bergabung bersama kami di YLSA. Tanpa pikir panjang, saya pun langsung mengucapkan selamat ulang tahun di wall profil Facebooknya dengan ucapan, "Eh, ada yang ultah niy ... besok ada ting ting berarti. Selamat tambah tua ya, Mei. Tambah geulis, gesit, gempi, dan gemilang. Tak doakeun ^_^." Itu adalah ungkapan doa sekaligus harapan tulus dari lubuk hati terdalam (ciee ... :-p) untuk Mei, yang selama ini dikenal sebagai salah satu staf YLSA yang cekatan, baik hati, rajin, ramah, dan tidak sombong, plus selalu asyik untuk jadi ajang ledekan teman-teman di kantor. Seperti ungkapan yang sedang 'in' saat ini, "Mei mah emang gitu orangnya ...."

Nah, hari Seninnya, saat Persekutuan staf pagi di kantor, Mei pun didaulat untuk memberi kesan dan pesan untuk hari ulang tahunnya yang perdana di YLSA, sekaligus juga pokok-pokok doa untuk disharingkan kepada kami semua. Mei dengan bijak (cie ...) mengatakan bahwa ia sungguh bersyukur kalau ia dan sebagian besar anggota keluarganya telah mengenal Tuhan Yesus. Itu adalah anugerah terbesar yang ia terima, yang sangat berarti bagi diri sendiri beserta ibu dan kakak serta adiknya. Namun, di sisi lain, ia juga berharap agar ayah dan kakak keduanya yang masih belum mengenal Kristus juga dapat beroleh kesempatan untuk mendapat anugerah keselamatan dalam pengenalan akan Kristus. Itu kemudian menjadi pokok doanya, selain juga pokok doa lainnya untuk keluarga kakak pertamanya serta adik-adiknya agar semakin berakar dan bertumbuh di dalam Kristus. Kami pun kemudian mendoakan kerinduan Mei pada keluarganya itu, disertai dengan permohonan agar Mei sendiri semakin diteguhkan dalam pelayanannya, agar semakin menjadi berkat dan memberi dampak yang baik di mana pun ia ditempatkan oleh Tuhan.

Last but not least, i wish you a very Happy Birthday, Mei. May your life will be full of love, laugh, joy, and blessings from above. Semoga lima, sepuluh, atau dua puluh tahun lagi, kalau bertemu dengan Mei dan buntut-buntutnya (haha ... Amin!), masih tetap bisa menemukan Mei yang sama, yang suka ber-haha hihi dan membawa suasana ceria di kantor, di mana saja. Kami doakan.

Perjalanan Roadshow yang Menegangkan ke GKI Ngupasan

Blog SABDA - Tue, 2015-05-12 12:58

Oleh: Wiwin*

Suasana mendung siang hari, Sabtu, 2 Mei 2015, tidak menyurutkan persiapan kami untuk memulai perjalanan ke GKI Ngupasan, Yogyakarta. Kami (Bu Yulia, Jesica, saya, dan Yans) berangkat dari Solo sekitar pukul 14.00 WIB dengan menggunakan si "Opel" yang setia. Sebelum si "Opel" melaju, kami tentu tidak lupa berdoa bersama untuk pelayanan kami. Di tengah perjalanan, kami baru sadar bannernya ketinggalan di kantor, hemm. Kesedihan berlanjut ketika Pak Hartono, kontak person kami dari GKI Ngupasan, memberi tahu bahwa di Yogyakarta kendaraan ramai sekali, dan kami disarankan untuk tidak lewat Jalan Malioboro supaya tidak terjebak kemacetan. Ternyata belum sampai masuk Yogya, beberapa kilometer sebelum bandara Adi Sucipto, kemacetan sudah terjadi. Walaupun sempat tegang karena mobil kami hanya bisa berjalan merayap, kami berhasil keluar dari jalan utama sesuai dengan petunjuk Pak Hartono. Akan tetapi, karena ada beberapa jalan yang ditutup untuk demo buruh, maka kami terpaksa berhenti di alun-alun Keraton dan menunggu Pak Satpam gereja menjemput Bu Yulia, yang harus mengisi kebaktian jam 17.30. Walaupun tidak terlalu terasa, tetapi kami cukup panik mencari cara untuk sampai ke tempat tujuan tanpa terhalang macet. Waktu sudah menunjukkan jam 18.00 lewat ketika akhirnya Bu Yulia sampai di GKI Ngupasan bersama Pak Satpam.

Setelah melewati pengalaman yang cukup menegangkan itu, kami menjadi lega melihat Bu Yulia sudah bisa berdiri di atas mimbar dan memulai khotbahnya. Sedangkan kami juga tidak membuang waktu, langsung mengerjakan tugas kami menyiapkan booth SABDA untuk melayani jemaat GKI Ngupasan. Hadi yang sudah datang lebih dahulu di GKI Ngupasan juga langsung menyiapkan booth instalasi. Kami menyiapkan booth di Atrium di samping ruang utama ibadah. Selesai ibadah, Yans harus pulang ke Solo naik kereta api karena besok (hari Minggu) dia ada tugas di gerejanya. Malam itu, Hadi, Jesica, dan saya berjuang untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi mereka yang datang ke booth.

Booth langsung diserbu jemaat setelah ibadah usai. Booth SABDA menjadi penuh dengan gawai (handphone) Android untuk diinstalkan enam aplikasi SABDA, dan banyak jemaat melihat-lihat booth SABDA. Jemaat GKI Ngupasan sangat antusias mendapatkan aplikasi yang dipromosikan Bu Yulia di akhir khotbahnya. Mereka sangat berharap aplikasi-aplikasi itu akan menolong mereka belajar firman Tuhan dengan lebih luas dan menarik. Tidak hanya itu, mereka juga bisa menambah bahan-bahan audio dan DVD bahan pelayanan anak yang dipajang di booth SABDA. Untuk mereka yang tidak memiliki handphone Android, mereka cukup lega mendapatkan DVD Telaga, DVD Dengar Alkitab, dan DVD Anak serta CD Audio Alkitab dari berbagai bahasa. Bagi mereka yang ingin lebih praktis, tersedia SD Card 16 GB yang sudah diisi dengan bahan-bahan dari 3 DVD tersebut. Roadshow malam itu berhasil kami selesaikan sampai sekitar pukul 20.30 WIB. Akhirnya, kami bisa menghela napas dan mengisi perut kami di sebuah rumah makan bersama Pak Hartono dan keluarga Pak Natan. Kami beristirahat malam itu dengan nyaman di guest house gereja. Sedangkan Hadi pulang ke rumahnya di Yogya.

Antusias jemaat GKI Ngupasan untuk mendapatkan aplikasi Alkitab Android juga kami saksikan di hari Minggu, 3 Mei 2015. Setiap selesai ibadah, banyak jemaat yang menyerbu booth SABDA untuk instalasi handphone Android dan laptop, juga untuk mendapatkan CD Alkitab Audio, DVD bahan-bahan, SD Card, dan traktat. Saya senang dengan beberapa remaja dan anak sekolah minggu yang sempat mampir ke booth dan melihat video yang kami putar di Tablet. Dengan sangat semangat, saya menjelaskan isi DVD Library Anak dan menawarkan 2 traktat; Tuhan Yesus Menyelamatkanmu dan Hatiku Rumah Kristus. Semoga traktat-traktat itu mereka baca dan bagikan berkatnya kepada teman-temannya yang lain.

Ibu Yulia berkhotbah 3 kali dalam ibadah minggu di GKI Ngupasan dan senang sekali mendengar respons yang mereka sampaikan secara langsung ke Bu Yulia. Firman yang dikhotbahkan diambil dari Kisah Para Rasul 8:26-40. Khotbah itu sekaligus menjadi contoh cara penggalian ekspositori yang bisa dilakukan oleh jemaat dibantu dengan aplikasi Kamus Alkitab, AlkiPEDIA, dan Tafsiran.

Dalam 4 kali ibadah itu, Sabtu dan Minggu, antara Hadi dan Jesica telah sempat menginstal aplikasi SABDA di hampir 140 handphone dan beberapa laptop. Benar-benar kerja keras sehingga mereka tidak berinteraksi dengan bebas dengan para pengunjung. Saya juga bersukacita dapat membagikan 82 DVD Library Anak, 60 DVD Telaga, 78 DVD Dengar Alkitab sehingga jemaat dapat membawa pulang bahan-bahan yang dapat memperlengkapi pelayanan mereka. Pelayanan SABDA di GKI Ngupasan dapat berjalan baik karena didukung oleh pelayanan yang sangat bersahabat dari pihak gereja. Selain memberi perhatian, mereka juga ikut membuat kami bersemangat dan bersukacita, terutama Bapak Hartono dan ibu-ibu yang sangat ramah menemani kami melayani. Terima kasih Tuhan untuk teman sekerja yang baik dari GKI Ngupasan!

Yans datang lagi ke Yogyakarta sekitar jam 20.00 untuk membawa kami dan "Opel" pulang ke Solo. Kami tiba di kantor dengan selamat sekitar pukul 21.30. Terima kasih Tuhan untuk kuasa dan pemeliharaan-Mu yang menyertai kami! Terpujilah nama-Mu!

*Wiwin adalah staf magang YLSA.

Pengalamanku di SABDA

Blog SABDA - Mon, 2015-05-11 10:39

Oleh: Eben Gunadi*

Saya bersyukur bahwa selama lebih dari setengah tahun ke belakang ini diberi kesempatan untuk magang di SABDA. Jarang di dunia ini ada komunitas seperti SABDA -- komunitas yang dibenamkan di dunia teknologi modern yang begitu canggih, tetapi masih hidup dan berinteraksi di tengah-tengah pedesaan yang sederhana. Namun, justru karena kontradiksi itulah, saya bisa bertumbuh dalam dua aspek yang berbeda (tetapi sama pentingnya), yakni dalam keterampilan teknologi maupun dalam kebudayaan Kristen yang ditegakkan di SABDA.

Dalam segi teknologi, hal pertama yang harus dipelajari adalah bahwa tidak ada satu orang yang bisa memberi dampak besar kalau hanya sendirian. Karena dunia teknologi begitu luas dan berbagai jenis, sangat diperlukan kemampuan untuk berkerja sama sebagai satu tim dalam menyelesaikan tugas dengan efektif. Dalam konteks ini; hal-hal seperti workflow (sistem kerja), komunikasi (bahkan komunikasi yang berlebihan), dan sikap positif, menjadi hal-hal yang sangat penting dalam lingkungan IT. Ini tidak mudah karena IT menuntut perkembangan karakter dari pelakunya. Saya sendiri masih ingat bagaimana sulitnya berjuang untuk tetap fokus di rapat-rapat tim; untuk mendengar usulan rekan-rekan yang lain dengan terbuka, dan bahkan untuk bisa merasa senang ketika menemukan masalah (karena itu membuka kesempatan untuk perkembangan!).

Dunia teknologi yang berkembang secepat kilat juga menuntut para pekerjanya untuk senang belajar hal-hal yang baru. Bahkan, salah satu pengurus di SABDA merekomendasikan kami untuk membaca paling tidak 100 halaman buku IT setiap hari! Tapi memang sangat penting juga bagi setiap anggota dalam tim IT untuk bisa belajar secara mandiri. Akan sangat membebankan tim jika ada orang yang harus terus-menerus meminta bantuan/penjelasan dari rekan-rekannya, dan orang yang tidak gemar belajar hal-hal baru tentang IT kemungkinan besar juga tidak akan membawa sikap positif ke dalam kantor kerja. Bagi saya sendiri, butuh waktu yang cukup lama -- juga diperlambat dengan penyesuaian fisik, transisi dari LA ke Solo -- untuk menemukan rutinitas belajar yang produktif. Hal yang saya temukan berguna bagi saya adalah belajar memakai situs-situs interaktif, pertama-pertama dengan codeacademy.com, dan sekarang dengan teamtreehouse.com (codeschool.com juga situs yang layak diperiksa). Untuk membuat fondasi yang kuat sebagai web designer, saya sedang berusaha untuk menekuni HTML & CSS, JS & JQ, serta sedikit PHP untuk coding.

Di jam kerja SABDA sendiri ada banyak hal teknis yang harus dipelajari, mulai dari hal-hal mendasar seperti cara membuat proposal situs, menginventarisasi konten, dan merencanakan layout situs, sampai ke hal-hal yang lebih teknis seperti membuat script PHP yang bisa interaktif dengan database MySQL untuk mengelola data. SABDA memakai CMS Drupal untuk membuat situs-situsnya, dan program ini juga sesuatu yang tidak mudah dipelajari. Saya masih ingat, pada bulan-bulan awal di SABDA, saya menghabiskan banyak jam di kantor untuk menonton video tutorial satu demi satu untuk bisa menggunakan Drupal.

Mungkin semua hal teknis tersebut bisa pelajari di luar SABDA, tetapi hal yang membuat SABDA unik adalah cara semua hal itu dapat diintegrasikan ke dalam kebudayaan dan komunitas Kristen yang erat. SABDA memiliki fasilitas mess yang cukup luas, yang memungkinkan sekitar setengah dari stafnya bisa hidup bersebelahan dengan kantor dan dengan sesama. Ditambah lagi lingkungan pedesaan yang tidak memiliki terlalu banyak hiburan materi, dan hasilnya adalah sekelompok orang yang bisa berkawan akrab dan bukan sekadar rekan kerja biasa. Rata-rata, lebih dari satu jam kerja disisihkan setiap hari untuk kami merenungkan firman bersama, berbagi berbagai macam pergumulan yang sedang dialami, serta mendukung sesama dengan kata-kata penghiburan dan doa. Sekitar sebulan sekali, kami juga pasti ada semacam acara di luar kantor, misalnya persekutuan di salah satu rumah staf ataupun retret ke tempat wisata.

Bagi orang luar yang mendengar kisah ini pasti berkata alangkah indahnya komunitas erat seperti ini. Namun, dalam aspek ini pun, saya membutuhkan waktu cukup lama untuk penyesuaian. Saat kita ada persekutuan staf yang bisa berlanjut sampai dua jam atau lebih, dibutuhkan disiplin yang tinggi untuk saya bisa fokus terus-menerus, apalagi kalau topik yang sedang dibahas tidak terkait dengan saya secara langsung. Saya masih ingat perjuangan untuk melawan pikiran saya yang melayang-layang, sampai mencoba menerapkan metode-metode meditasi ataupun mengambar muka-muka orang yang sedang berbicara. Metode-metode tersebut adalah temuan instan yang saya pakai ketika akar masalahnya, yaitu kurangnya hati yang peduli akan orang lain, sedang diperbaiki dengan perlahan. Sebab, memang tidak ada jalan pintas untuk mengembangkan kebesaran hati seperti itu. Untuk keluar wedangan bersama ketika ada kesempatan, atau untuk "nongkrong" seolah-olah tidak ada tujuan, atau menggunakan bahasa Jawa (apalagi Jawa kromo!) ketika saya bisanya hanya memakai bahasa Indonesia atau Inggris -- hal-hal kecil inilah yang sedikit demi sedikit mengubah hati saya untuk lebih peduli dengan rekan-rekanku di SABDA.

Untuk maju di masa depan, saya merasa cukup diperlengkapi SABDA; untuk bisa masuk ke dalam dunia IT maupun untuk bertumbuh secara rohani dengan konsisten dan dengan tujuan. Banyak pelajaran di dunia ini yang kita tidak bisa pelajari lewat sekolah, sebaliknya harus dengan pengalaman. Walaupun tidak dengan cara yang mudah, SABDA telah memfasilitasi pengalaman ini untuk saya agar saya bisa belajar berkerja sama dengan orang lain, mengembangkan visi dan misi yang sehat untuk hidup ini, mengubah sikap terhadap pekerjaan, dan membangun relasi dengan sesama dan dengan Allah.

Sekali lagi, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bu Yulia dan keluarganya, serta semua rekan di SABDA, termasuk Snoopy, untuk pengalaman yang tak akan terlupakan untuk saya. Kiranya Tuhan terus memberkati dan menyertai pelayanan SABDA di abad-abad yang akan datang.

SABDA di Kongres X Gabungan Gereja Baptis Indonesia

Blog SABDA - Fri, 2015-05-08 15:23

Berawal dari tawaran Pak Bambang Sriyanto yang saat itu sedang memimpin seminar "Menjawab Tantangan Kepemimpinan Kristen Abad 21", yang diselenggarakan oleh STT Berita Hidup, kami mendapat kesempatan untuk membuka booth di acara Kongres X Gabungan Gereja Baptis Indonesia yang diadakan pada Maret yang lalu di Surabaya. Pada roadshow ini, saya pergi dengan ditemani Khenny dan anak saya, Jesica, yang kebetulan sedang libur sekolah.

Selama dua hari, YLSA membagikan produk-produk SABDA, di antaranya 3 macam DVD sumber bahan, CD-CD Alkitab Audio dari berbagai bahasa, traktat, dan informasi-informasi produk YLSA supaya para hamba Tuhan Gereja Baptis yang hadir bisa membawa pulang bahan-bahan SABDA untuk memperlengkapi pelayanan mereka. Ada cukup banyak hamba Tuhan yang datang di booth SABDA, bahkan tidak saya sangka ada banyak yang tertarik dengan DVD Alkitab Aksara Jawa dan juga DVD bahan-bahan dalam bahasa Chinese .

Selain membagikan produk-produk tersebut, YLSA juga menjalin relasi dengan hamba-hamba Tuhan dari Gereja Baptis. Itulah salah satu tujuan saya ikut dalam roadshow ini. Walaupun cukup kecewa karena tidak mendapat kesempatan untuk memberikan presentasi, tapi kami cukup bersemangat melayani para hamba Tuhan yang datang ke booth kami, termasuk teman-teman dari STBI. Semoga melalui pertemuan ini, akan disambung dengan pertemuan-pertemuan berikutnya.

Ketika kami sedang berjalan keluar dari tempat pertemuan, kami bertemu dengan Bu Anna dari STTIAA Pacet yang sedang kunjungan ke rekan pelayanan dari Gereja Baptis yang ikut kongres. Pertemuan itu ternyata berbuntut panjang ... karena gara-gara pertemuan ini, beberapa minggu kemudian Bu Anna mengirim Mas Anin untuk mengikuti training di SABDA.

Kesempatan ke Surabaya juga kami manfaatkan untuk berkunjung ke rekan pelayanan yang sudah lama sekali kami kenal, yaitu Pdt. Jusuf B.S. dari Gereja Bukit Zaitun, Surabaya. Sambil saling berbagi berkat, kami banyak berbincang-bincang tentang proyek penerjemahan yang sedang dikerjakan, baik oleh Pdt. Jusuf (Alkitab Wasiat Baru) maupun oleh SABDA (Alkitab Yang Terbuka). Sungguh senang bertemu dengan hamba Tuhan yang punya passion terhadap penerjemahan Alkitab. Semoga Tuhan terus mendorong kami untuk berbagi berkat sebagai sesama pelayan Tuhan.

Perjalanan pulang ke Solo cukup unforgetable karena terjebak macet setelah Mojokerto karena ada trailer yang terguling di jalan ... wow, berjam-jam kami menunggu jalan dibuka lagi. Kami bersyukur bisa pulang dengan selamat.

To God be the glory.

Training Kepenulisan Divisi Publikasi

Blog SABDA - Fri, 2015-05-08 11:10

Pada bulan April, divisi Publikasi mengadakan training kepenulisan. Training kepenulisan bulan ini membahas tentang penggunaan tanda baca dan huruf kapital sesuai EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), bagaimana menyusun paragraf yang logis, dan dasar-dasar jurnalistik. Divisi Publikasi mengadakan training kepenulisan secara rutin. Dengan adanya training kepenulisan, setiap staf Publikasi diperlengkapi dengan pengetahuan dan wawasan yang mendukung kemampuan staf dalam membuat karya tulisan. Training kepenulisan sangat penting diadakan karena staf Publikasi setiap hari bergelut dengan dunia literatur. Oleh karena itu, setiap staf dituntut untuk dapat meningkatkan keterampilan tulis-menulis, sesuai aturan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Pada umumnya, peserta yang dilibatkan dalam training kepenulisan divisi Publikasi adalah seluruh Pemimpin Redaksi (PemRed), tetapi pada bulan ini divisi-divisi YLSA yang lain juga dilibatkan dalam training kepenulisan, khususnya dalam training bagaimana menyusun paragraf yang logis. Semua staf yang lain diikutsertakan dalam training ini karena mereka pun dijadwalkan menulis blog, baik untuk menceritakan pelayanan yang diikuti, mempromosikan produk-produk baru divisi, dll.. Oleh karena itu, training bagaimana menyusun paragraf yang logis sangat perlu dibagikan kepada semua staf YLSA.

Saya senang karena diberi kesempatan untuk terlibat dalam training kepenulisan, baik yang ditujukan untuk staf Publikasi maupun seluruh staf YLSA. Dengan mengikuti training kepenulisan ini, saya semakin didorong untuk mencintai dunia literatur dan tata bahasa yang berlaku di negara kita, Indonesia. Dengan adanya training kepenulisan, saya ditolong untuk semakin kritis khususnya tentang bagaimana menyusun kalimat yang benar, logis/masuk akal, dan jelas, sekaligus tidak menyalahi aturan bahasa yang berlaku. Jika bukan kita, siapa lagi yang harus menjunjung bahasa Indonesia secara tertulis dan lisan?

Training Intern di SABDA

Blog SABDA - Thu, 2015-04-30 16:31

Oleh: Liana*

Inilah training intern SABDA. Hari pertama, kami diberikan rencana materi training. Banyak istilah yang masih asing di telingaku, tetapi aku berusaha mengikuti terus karena materi training menarik, dan ternyata SABDA pun sudah mempersiapkan proyek untuk menyambut tahun 2020. Luar biasa .... O ya, pada awal training ini ada satu motto yang selalu kami ingat yaitu "We can't do it alone".

Hari kedua, kami mempelajari tentang scrum. Scrum adalah cara sistem kerja manajemen yang bertumpu pada kekuatan kolaborasi tim. Tanpa kerja sama tim yang baik, kerjaan pasti banyak yang tersendat. Sangat penting ada komunikasi dan koordinasi antartim. Kemudian, diajarkan juga "agile development", yaitu sebuah proyek manajemen yang terfokus pada user dan fleksibel terhadap perubahan-perubahan sehingga tujuan dapat tercapai, tanpa harus mengulang dari nol bila terjadi kesalahan. Kami juga belajar PACE, yaitu Planning, Act, Check, dan Evaluation. Dalam dunia kerja, "P" artinya planning. Namun, kami membuat "P" yang berarti 'Pray' sehingga sebelum kami memulai sesuatu, baiklah kita berdoa dan memohon hikmat Tuhan. Jam terakhir training, kami diminta menggambar model rumah seperti yang ada di pikiran kami. Mulailah kami menggambar seperti yang terlintas dalam pikiran kami. Daaaaannnnnn ..., tiba-tiba kami diminta memperlihatkan hasil gambar kami. Kami tertawa karena ternyata kami mempunyai berbagai konsep model rumah unik. Ada yang berbentuk apartemen (seperti punyaku), model perpustakaan, model rumah makan padang, model rumah eskimo, bahkan sampai model rumah susun dengan tinggi 100 meter dengan 100 kamar tetapi dengan super mini design. Wah, teman-teman memang kreatif.

Hari berikutnya, kami mulai mengaplikasikan "planning" kami. Kami juga membantu teman kami dari Scripture Union Indonesia (SUI) dan STTIAA Pacet supaya apa yang sudah dipelajari di SABDA dapat menjadi bahan masukan yang positif bagi kemajuan masing-masing tim. Dari banyak diskusi selama training, kami jadi tahu kesulitan yang dialami teman-teman dari luar; membuat proposal, menentukan visi dan misi, membuat sitemap sampai membuat situs. "Full day but fun" karena ilmu adalah harta yang paling berharga.

Kami juga mempelajari SWOT (strength, weakness, opportunity, threat). Ternyata SWOT itu penting lho supaya kelebihan kita bisa dimaksimalkan dan peluang-peluang baru bisa kita raih. Kami juga belajar memberi feedback yang interaktif, dan yang terakhir kami melakukan studi banding.

Selama training 10 hari, kami selalu ingat bahwa kami tidak dapat melakukan semua ini sendiri dan tanpa penyertaan Tuhan, kami pasti sudah lelah. Bersyukur teman-teman antusias dan bisa menciptakan tim yang kompak. Semoga ini bisa berlangsung terus dan semakin hari semakin baik dan solid. Untuk teman-teman dari SU dan STTIAA Pacet, kalian harus tetap semangat ya..... bersama Tuhan kalian pasti bisa. Terima kasih untuk semua teman yang sudah mendukung dan membantu hingga training ini dapat menjadi bekal bagi kami di masa yang akan datang. Karya dan perubahan yang kami ciptakan bukan semata-mata untuk menyenangkan bos di tempat kami bekerja, tetapi yang terpenting kiranya apa yang kami buat itu mendapat perkenanan Tuhan. Immanuel!

Awal harimu dengan doa....

Galau; “I Survived SABDA Training”

Blog SABDA - Thu, 2015-04-30 16:15

Oleh: Yusak*

Begitu mendarat di kota Solo, ternyata tidak seperti yang kubayangkan. Biasanya, ada background musik gamelan Jawa atau tembang-tembang Jawa (seperti kalau di film-film Indonesia jika mengambil setting di kota-kota di Jawa). Benar-benar salah besar dugaanku. Tapi ya wes lah, toh tidak sedang main film atau sinetron. Dijemput oleh salah seorang staf SABDA, kami langsung menuju ke tempat tujuan, Griya SABDA.

Aktivitas pertama yang kami lakukan adalah sharing dengan staf SABDA secara keseluruhan, yang kesan keramahan dan kekeluargaannya erat dan kental terjalin di antara staf SABDA. Setelah percakapan singkat dalam pertemuan pertama itu, mulailah kami dengan aktivitas training. Tadinya sempat kupikir semua staf SABDA juga akan mengikuti training. Ternyata hanya beberapa rekan saja, ditambah seorang peserta dari STTIAA di Jawa Timur.

Saat pemaparan materi training dan rencana training, mataku jadi terbelalak. Alamaaaak! Buanyaaknyaa rancangan materi training. Dan, masih ditambah dengan kalimat "Seharusnya training ini dibuat dalam 3 minggu ...." Tada! Seperti ada kejutan ulang tahun yang tidak pernah diduga. Terlebih lagi, materi yang hendak disampaikan adalah intisari pengalaman perjalanan SABDA selama kurang lebih 20 tahun. Dan, lebih dahsyatnya lagi ... harus di-"compress", diajarkan selama kurang lebih 2 minggu.

Tugas hari pertama diawali dengan laporan kegiatan, yang harus dikirim via email tiap malam; "Ya, dicatat ya, tiap malam" ... Next day, harus bergumul dengan materi baru, tugas baru, dan laporan kegiatan hari itu.

Galau juga rasanya, mengikuti materi yang benar-benar memeras otak. Materi sekian lama dipadatkan dalam beberapa hari. Sepertinya, bertanya-tanya sanggup tidak menerima materi yang terkompres. Bersyukur, tiap hari sebelum memulai aktivitas, ada persekutuan doa kelompok staf yang melibatkan peserta secara aktif. Walaupun dibagi dalam kelompok kecil, tetapi rasanya cukup membantu mengatasi kegalauan karena melalui firman Tuhan, dikuatkan bahwa "aku harus semakin kecil, dan Dia harus semakin besar".

Semangat Guys!

Salah satu anggota kelompok persekutuan doaku adalah mas Yans. Perawakannya besar, tapi friendly. Mungkin bisa dikatakan "badan gedhe, hati hello kitty ...." Setiap kali membahas renungan pagi dalam persekutuan doa, semua peserta membagikan apa yang diperoleh dari ayat Alkitab yang dibaca, apa yang dipelajari dari renungan yang diambil dari Oswald Chambers, sharing mengenai pokok doa, dan apa yang ingin diterapkan dalam hidup atau aplikasinya.

Suasana yang akrab dan nyaman menjadikan persekutuan doa pagi kami tidak monoton. Namun, malah menjadi lebih hidup dan mengakrabkan kami dengan 6 peserta persekutuan doa lainnya. Banyak sekali pemahaman-pemahaman baru mengenai firman Tuhan yang kami peroleh dari persekutuan doa ini dan tambahan-tambahan pengalaman pribadi di balik setiap ayat yang kami pelajari. I think I’m gonna miss all of you guys ....

Memang hari-hari berat di minggu pertama cukup membuat kebingungan, kegaduhan, dan kegalauan luar biasa. Saking fokusnya kami pada materi, kami tidak sempat tahu bahwa harga BBM mengalami perubahan. Lagian, mana sempat mikirin dampak kenaikan BBM, ngerjain tugas untuk presentasi besok saja sudah bikin galau. Tapi, setiap kali mulai galau, kita ingat kata-kata mas Yans "Semangat guys!" dengan logat Jawanya yang kental.

I survived SABDA Training Facility

Pada minggu kedua, semuanya mulai berubah. Walaupun kegiatan tetap kurang lebih sama dengan hari-hari sebelumnya di minggu pertama, tetapi beban rasanya mulai berkurang. Gambaran besar mengenai visi dan misi mulai dipertajam dan mulai mengerti apa yang akan dan harus dikerjakan untuk diterapkan di tempat pelayanan selanjutnya.

Dalam sebuah percakapan saat makan siang bersama dengan seorang rekan yang biasa dipanggil Iben (actually his name is Eben), ada sebuah jargon ringan dan lucu namun memiliki makna yang dalam "I survived SABDA Training." Dan, benar, walaupun secara jasmani kegiatan demi kegiatan yang dikerjakan setiap hari cukup menguras tenaga dan memeras otak, tetapi di akhir kegiatan semuanya memberikan kekuatan dan pengetahuan baru. Starts with 'We cannot do it alone' dan diakhiri dengan pemahaman bahwa proses itu akan membawa kepada 'With Him we can do it'.

Thanks buat all of you guys, Mbak Evi SCRUM master yang sering "mak jleb" kata-katanya, Mas Yans yang "gokil dan pecinta batu", Mas Hadi dengan kata-kata kuncinya,... Wah, kalau disebut satu persatu bakal jadi panjang seperti credit title di film...

Keep on the spirit to serve our Lord, and God Bless you all.

Happy Birthday, Mbak Elly!

Blog SABDA - Thu, 2015-04-30 07:47

Oleh: Yohanes*

Di hari Kamis yang cerah ini, ada sedikit suasana yang berbeda dalam persekutuan staf YLSA. Selain membaca dan sharing mengenai Firman Tuhan dan bahan renungan, ternyata dalam persekutuan kali ini ada acara menonton film yang sangat menarik. Film yang ditampilkan bukanlah film yang biasa, karena film yang ditampilkan ini mengenai pengantar Injil Lukas. Banyak sekali pengetahuan mengenai Alkitab yang ditampilkan dalam film dokumenter itu, yang tentu saja menambah wawasan kami mengenai kebenaran Firman Tuhan.

Dan ternyata, hari ini juga ada staf YLSA yang sedang berulang tahun, yaitu Mbak Elly, salah satu staf YLSA yang terkenal kocak, unik dan menarik. Tepat pada tanggal 30 April 2015 ini Mbak Elly genap berusia 43 tahun, yang ternyata juga menandakan 14 tahun pelayanannya sebagai staf YLSA. Usia boleh dikata tidak muda lagi, namun semangat jiwa muda masih terpancar dalam raut wajah Mbak Elly.

Hal yang menarik adalah ketika Ibu Yulia bertanya kepada Mbak Elly, setelah kami menyanyikan lagu Happy Birthday untuknya, "Elly, kamu mau minta apa?" Dengan kalem dan tenang, Mbak Elly mengatakan bahwa hal yang paling dia rindukan adalah agar anaknya dapat bertumbuh sesuai dengan Firman Tuhan dan semakin mencintai Firman Tuhan. Sesudah itu, kami semua secara bergilir menyampaikan ucapan berkat untuk Mbak Elly, mulai dari damai sejahtera, sukacita,kesabaran, kesehatan,
awet muda dan sebagainya. Dengan semakin bertambahnya usia, kiranya Mbak Elly dapat dijadikan teladan bagi semua staf yang lebih muda untuk tetap setia dalam melayani Tuhan.

Kiranya ucapan berkat dan sukacita yang diucapkan teman-teman semua dapat menjadi dorongan dan berkat untuk Mbak Elly agar semakin semangat di dalam melayani Tuhan. Nah, selamat ulang tahun, Mbak Elly, salam IT for God (^_^)

*Yohanes adalah staf paruh waktu YLSA.

Berbagi Pengalaman Mengikuti Klub e-Buku SABDA

Blog SABDA - Wed, 2015-04-29 12:31

Oleh: Linda Cheang*

Saya mau bercerita sedikit tentang "dahsyatnya" isi buku "Gods At War" (oleh: Kyle Idleman), yang diskusinya saya ikuti di Klub e-Buku SABDA (KBS) tahun lalu.

Setelah saya merasakan sendiri banyaknya pengetahuan yang dibukakan melalui pembacaan dan pembahasan buku ini di kelas diskusi KBS di Facebook, saya tergerak memberikan buku ini kepada beberapa orang yang saya pikir layak dan perlu untuk membacanya. Maka beberapa kali saya membeli buku ini, yang kebetulan di jaringan Toko Buku Kristen "Visi Bookstore" di kota saya ada. Menantu keponakan saya adalah penginjil, jadi saya bisa nebeng beli buku dengan menggunakan keanggotaan menantu saya itu di jaringan toko buku tersebut sehingga dapat diskon sampai 20%.

Salah satu penerima adalah Bp. Pdt. Hada Adriata, pengajar mata kuliah Etika Kristen serta Filsafat Fenomenologi di STT Kalam Mulia dan Universitas Kristen Maranatha, Bandung. Beberapa minggu setelah saya memberikan buku tsb., beliau mengatakan sangat bersyukur mendapatkan buku tersebut karena isinya sangat berguna bagi pembinaan iman umat di gereja tempat beliau menjadi gembala sidangnya. Isi buku tersebut akhirnya dibahas dalam pertemuan khusus acara pembinaan jemaat karena membahas langsung tentang pergumulan sehari-hari yang dialami jemaat.

Bp. Pdt. Hada Adriata meneruskan buku tersebut kepada salah seorang muridnya yang bernama Ev. Yaman, seorang penginjil, yang sekarang menjadi pengajar Dogma Kristen di STT Kalam Mulia. Pada Minggu, 19 April, beliau juga menyampaikan kepada saya ucapan terima kasih atas buku tersebut. Namun, yang saya tidak sangka, beliau memberitahukan bahwa buku "Gods at War" sekarang menjadi buku bacaan wajib bagi para mahasiswanya untuk mata kuliah tsb..

Saya bersyukur pernah mendapat kesempatan untuk ikut dalam Klub e-Buku SABDA dan berdiskusi bersama tentang buku tsb. sehingga saya mendapatkan manfaatnya. Namun, yang membuat saya lebih bersukacita dan lebih bersyukur adalah ketika saya membagikan buku itu, sehingga manfaatnya bisa dirasakan banyak orang juga, apalagi untuk pembinaan umat gereja dan mahasiswa sekolah tinggi teologi.

Dari manfaat yang disampaikan Pdt Hada dan Ev. Yaman, saya memberanikan diri memberikan 1 eksemplar lagi buku itu kepada Uskup Bandung, Mgr. Antonius Subianto, pemimpin umat Katolik se-Keuskupan Bandung. Saya memberikan buku tersebut sebagai hadiah untuk ulang tahunnya, beberapa waktu yang lalu. Saya belum bertemu Bapak Uskup lagi untuk menanyakan tanggapannya, tapi saya yakin beliau pasti menyediakan waktu untuk membacanya.

Demikian cerita pengalaman saya. Saya berharap, diskusi buku, khususnya buku-buku yang berkaitan dengan dogma Kristen, bisa diadakan kembali. Mana tahu, manfaat dari buku-buku tsb. bisa dibagikan oleh para peserta diskusi kepada teman-temannya sehingga dapat menyentuh lebih banyak orang lagi. Memang tentunya harus ada inisiatif dulu dari para peserta diskusi untuk berbagi, membangun sesama saudara-saudarinya di dalam Kristus.

Salam dan Tuhan memberkati.

*Ibu Linda Cheang adalah anggota aktif komunitas PESTA dan Klub e-Buku SABDA (KBS). Seorang yang menyukai filsafat, kulinari, dan jurnalistik. Ibu Linda adalah sosok yang memiliki semangat tinggi dalam belajar. Oleh karena itu, ia mengikuti kelas Teologi Online yaitu PESTA, dan mengikuti diskusi buku "Hatiku Rumah Kristus" (HRK), "Membesarkan Anak dengan Kreatif", dan "God's at War".

SABDA dan Generasi Digital di PPA GBIS Samaan

Blog SABDA - Thu, 2015-04-23 11:38

Tanggal 14 April 2015 yang lalu, tim SABDA mendapat kesempatan untuk melayani para remaja di PPA (Pusat Pengembangan Anak) GBIS Samaan, Surakarta, dengan memberikan presentasi bertema "Media Digital: Kawan atau Lawan?" Sebelumnya, ada briefing oleh Mbak Evie dan Bu Yulia kepada tim yang akan berangkat untuk membahas persiapan dan apa yang akan dilakukan di sana. Tim SABDA yang berangkat untuk melayani dalam roadshow kali ini adalah Mbak Santi, Mbak Indah, Odysius, dan saya sendiri, Bayu. Briefing dilakukan setelah makan siang dan hanya berlangsung selama 30 menit. Pukul 14.00 WIB, kami berangkat dari kantor dengan mengendarai motor. Kami berangkat pkl. 14.00 supaya kami dapat mengantisipasi acara, kalau-kalau ada perubahan susunan acara, sekaligus untuk melakukan persiapan dengan matang di sana. Dalam perjalanan, Mbak Santi menjadi penunjuk jalan, sedangkan kami bertiga mengikutinya.

Sampai di sana, yakni sekitar pukul 14.30, kami bertemu dengan para mentor PPA dan langsung diantar ke ruangan yang akan digunakan untuk acara presentasi. Dalam ruangan tersebut, lebih tepatnya ruang perpustakaan, di sana telah disiapkan LCD untuk menolong jalannya presentasi, dan kami pun langsung menyiapkan alat-alat yang akan kami gunakan. Setelah memastikan semuanya berjalan lancar, kami juga menyiapkan perlengkapan untuk meng-"instal" HP sembari menunggu kedatangan peserta. Berangsur-angsur adik-adik PPA berdatangan. Setelah pkl. 15.00, sudah banyak dari mereka yang berkumpul sehingga kegiatan PPA pun dimulai. Acara dimulai dengan doa, kemudian dilanjutkan dengan presentasi tentang media digital oleh Mbak Santi.

Presentasi ini disambut dengan meriah oleh adik-adik PPA. Selama presentasi berlangsung, Mbak Santi cukup kewalahan dengan suasana yang gaduh karena ada beberapa anak yang terlambat serta adanya gangguan dari teman-teman mereka sendiri. Mbak Santi cukup tegas dalam menangani adik-adik PPA ini dengan beberapa kali mengingatkan mereka untuk tenang, terutama para peserta anak laki-laki. Dalam presentasinya, cukup banyak peserta yang yang merespons Mbak Santi sehingga presentasi tidak hanya berjalan satu arah, melainkan ada partisipasi aktif dari beberapa peserta. Di akhir sesi, diadakan diskusi kelompok untuk mereka, yang bertujuan agar kami dapat mengetahui sejauh mana mereka mengerti dan menangkap presentasi yang telah diberikan.

Ada 26 peserta PPA yang datang ke acara ini, dan ada 12 HP yang di-instal untuk aplikasi Alkitab SABDA, Renungan PSM, dan Kamus Alkitab. Dari sekian banyak HP yang dibawa oleh peserta, mayoritas menggunakan Android sehingga memudahkan saya untuk meng-instal semua HP tersebut. Meskipun saat presentasi ada beberapa gangguan kegaduhan dari peserta serta microphone yang tidak lancar, tetapi hal-hal itu dapat diatasi berkat anugerah Tuhan. Kami dapat merasakan penyertaan Tuhan dalam roadshow kali ini sehingga segala sesuatunya dapat berjalan dengan lancar.

Saya bersyukur dapat mengikuti roadshow kali ini dan belajar bahwa segala sesuatu harus dilandasi dengan doa, sekecil apa pun itu. Dengan menyerahkan semua kepada Tuhan, kita pun akan merasakan penyertaan Tuhan serta dimampukan-Nya untuk melakukan apa yang menjadi bagian kita. Selain itu, saya juga belajar untuk terus rendah hati dan mengembalikan segala kemuliaan itu hanya bagi Tuhan.
Soli Deo Gloria!

Selamat Tua Ayub!

Blog SABDA - Fri, 2015-04-17 14:05

Hari ini, tanggal 16 April adalah momen bahagia bagi Ayub, karena hari ini merupakan hari ulang tahunnya yang ke 25 tahun. Ayub adalah staf YLSA dari divisi PESTA, yang rumahnya di Karanganyar dan tiap hari naik motor ke kantor, hehehe. Nah, kembali ke topik ulang tahun, kebetulan tadi pagi saat baru tiba di kantor, saya bertemu dengan Ayub di parkiran kantor. Setelah itu, kami menuju ke kantor masing-masing karena kantor kami berbeda tempat. Saat saya sedang berada di kantor bersama Mbak Eli, tiba-tiba Ayub datang dan mengatakan sesuatu. "Mbak, aku ulang tahun," katanya. ^o^ Dalam hati saya berucap, "Ulang tahun kok malah ngomong-ngomong." Hehehehe. Yah, lalu saya memberi ucapan kepada Ayub bersama dengan Pak Gunung dan Mbak Eli.

Dan, karena saya sudah mengetahui bahwa dia berulang tahun hari ini, maka muncullah gosip di sana sini. "Ayub ulang tahun ya?" Tanya staf yang lain. Nah, baru pada waktu makan siang, gosip itu terjawab.:-) seperti biasa, jika ada staf yang berulang tahun, maka akan ada sesi kesan dan pesan, serta pokok doa dari yang bersangkutan. Dalam kesannya siang itu, Ayub mengatakan kalau dia bersyukur bisa berada di YLSA. Lalu, dalam bagian pokok doa, Ayub minta kepada kami untuk mendoakan keluarganya, khususnya untuk Ibunya yang baru saja mengalami kecelakaan tangannya dan mengalami patah di bagian bahunya sehingga harus digibs. Satu lagi doa pergumulannya adalah kiranya Tuhan selalu memberi hikmat dan kebijaksanaan seperti pada renungan pagi kami dari Oswald Chambers yang mengingatkannya supaya jangan hanya berangan-angan tetapi untuk segera melakukan apa yang Tuhan inginkan. Lalu, saya diberi tugas untuk berdoa syafaat bagi Ayub sekaligus berdoa untuk makanan jasmani yang telah disiapkan oleh Mbah Reso dan Bu Dikem.

Kiranya dengan umur yang sudah semakin bertambah ini Ayub semakin dekat dengan Tuhan, dan segala pergumulan serta keinginannya akan dijawab oleh Tuhan.

Selamat ulang tahun Ayub. Tuhan Yesus memberkati!

Persekutuan Doa Staf di Rumah Yans

Blog SABDA - Thu, 2015-04-16 14:50

Oleh: Indah*

Jumat 10 April 2015, tidak seperti hari Jumat biasanya. Persekutuan doa siang hari itu digantikan dengan training kepenulisan yang dibawakan oleh Pak Berlin , sedangkan acara persekutuan staf akan diadakan setelah pulang kerja. Saat jam sudah menunjukkan pukul 16.48, Mbak Evie pun woro-woro kepada kami untuk segera kumpul dan bersiap-siap untuk berangkat. Kami segera saja bergegas menyelesaikan laporan dan siap-siap berangkat ke lokasi persekutuan staf diadakan, yaitu di rumah Yans.

Pukul 17.30 kami tiba di rumah Mas Yans dan disambut oleh Bapak Daniel Widi, ayahnya Mas Yans. Mas Ayub , Pak Berlin, saya, Mbak Anik, dan Mbak Mei tiba lebih dulu karena kami naik motor. Kami pun lalu menunggu kedatangan teman-teman lainnya yang datang dengan naik mobil bersama-sama dari kantor.

Acara dimulai dengan doa dan lagu pembukaan, yang kemudian disusul dengan keluarnya makanan kecil yang sudah disiapkan oleh ibu Mas Yans. Karena kami juga sudah cukup kelaparan, makanan kecil itu pun kami nikmati dengan senang Setelah lumayan kenyang, Mbak Setya membuat acara games dengan membagi kami ke dalam 2 kelompok. Acara sore itu pun menjadi lebih seru berkat acara games karena membuat kami banyak tertawa dan bercanda ria. Sesudah itu, acara berlanjut dengan membaca renungan dari Oswald Chambers. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, dan masing-masing kelompok membaca dari 1 hari renungan yang berbeda-beda, sehingga hari itu kami membahas tiga hari renungan sekaligus. Banyak berkat yang kami dapat dari renungan malam itu. Kesimpulan saya dari membaca ketiga renungan adalah kita harus disalib, mati, dan bangkit bersama Tuhan Yesus, karena kita tidak bisa melakukannya sendiri.(Roma 6:5,6; Roma 9-11). Setelah acara renungan, para staf yang kost di mess YLSA memberikan persembahan pujian mereka "Hanya Kau" dengan iringan gitar.

Setelah pujian lagu dibawakan, kami segera menyantap makanan yang sudah dimasak dan dipersiapkan oleh Ibu Reso dari kantor. Makanan yang kami persiapkan sangat banyak sehingga banyak juga yang menambah makannya pada saat itu Sebagai makanan penutup, ada tape ketan yang dituang dengan air hangat serta puding yang disediakan oleh tuan rumah. Wah, pokoknya, kami kenyang sekali malam itu.

Dengan beramai-ramai, kami kemudian mengakhiri acara persekutuan malam itu untuk membersihkan semua kotoran dari sisa makanan di piring, mencuci gelas yang kotor, serta membersihkan lantai dan tikar. Sesudah berterima kasih dan berpamitan kepada tuan rumah, kami pun pulang ke rumah dan kost masing-masing dengan membawa berkat dari persekutuan staf YLSA di bulan April itu.

Bagi saya yang baru saja bergabung dengan YLSA, banyak berkat yang diperoleh melalui persekutuan staf tersebut. Saya merasakan pertemanan antar staf yang sangat baik dan akrab, yang menciptakan suasana kekeluargaan yang kuat dalam YLSA. Tidak ada sekat atau perpecahan antar teman atau kelompok meskipun YLSA terdiri dari beberapa divisi yang berbeda. Semua saling membantu dan mendukung, dan kekompakan itu terlihat sekali dalam acara persekutuan staf. Senang rasanya memiliki keluarga baru di YLSA

Nah, sampai jumpa lagi di persekutuan rumah staf YLSA selanjutnya!

Sekolah di SABDA

Blog SABDA - Thu, 2015-04-16 11:09

Oleh: Yuni Liem*

Tidak banyak penjelasan yang aku terima ketika aku diminta untuk mengikuti pelatihan di SABDA. Dengan segala kebingungan dan ketidaktahuan itulah, tanggal 23 Maret 2015, aku berangkat ke Solo.

Setelah menikmati delay di bandara Soekarno Hatta, akhirnya aku mendarat juga di Solo. Dijemput oleh salah seorang staf YLSA, yang mengantarkan kami ke kantor Griya SABDA. Kami tiba di sana bertepatan dengan akan dimulainya persekutuan doa staf. Hal ini menarik perhatianku karena di dalam persekutuan doa ini, firman Tuhan dan renungan dibacakan lalu didiskusikan sejenak secara berdua-dua, kemudian hasil diskusi disharingkan ke dalam kelompok besar. Saya juga mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan sharing dari teman-teman yang baru pulang dari roadshow SABDA di Malang . Setelah itu, dilanjutkan dengan perkenalan seluruh staf dan kami, para tamu. Karena keterbatasan memory, rasanya sampai hari ini pun tidak semua nama staf aku hafal...^^''

Siang harinya, peserta training berkumpul di ruang rapat, kemudian disharingkan terlebih dahulu konsep pelayanan IT yang digunakan oleh SABDA. Lalu, dilanjutkan dengan berbagai materi training yang sudah dipersiapkan. Wooohooo ... rencana materi trainingnya banyak bangettt .... Tidak hanya itu, di hari pertama kami pun sudah mendapat PR.

Pada pertemuan pertama dijelaskan akan pentingnya membuat catatan saat mengikuti training. Hal itu membuat aku merasa seperti kembali ke sekolah, dan ... ya, we are back to school. Training yang diadakan tidak bersifat satu arah, tetapi interaktif. Setiap hari ada tugas yang diberikan, yang dapat membantu saya mengerti apa yang telah diajarkan. Ada presentasi, di mana setiap presentasi diakhiri tanya jawab, diskusi, dan tentu saja akhirnya menerima berbagai ide baru.

Sekolah di SABDA, diawali dengan ber-PA bersama. Kami dibagi dalam kelompok kecil dan kami saling sharing tentang apa yang kami dapat dari firman dan renungan yang dibaca. Di kelompok itu pun, kami saling mendoakan satu sama lain. Setiap hari, sebelum memulai materi training atau presentasi, diawali dengan yang namanya stand up meeting (meeting sambil berdiri) -- sebuah meeting singkat, di mana tiap anggota tim saling meng-update tiga hal: apa yang sudah dikerjakan, hambatan apa yang dialami, dan apa yang akan dilakukan. Tentu saja, yang paling utama adalah dimulai dengan doa.

Seperti yang aku katakan di awal tulisan ini, aku datang ke SABDA dengan segala kebingungan dan ketidaktahuanku. Tetapi tugas yang diberikan, memaksa aku berpikir lebih lagi dalam mempersiapkan project yang akan segera dimulai ketika nanti aku kembali ke Jakarta. Hasil presentasi dan diskusi, malah memberikan berbagai ide baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Suasana kekeluargaan yang ada di SABDA membuatku feel at home, canda tawa dengan teman-teman memberikan hiburan tersendiri untukku ketika merasa lelah mengikuti training dan mengerjakan tugas yang diberikan. Dan, tidak henti-hentinya mereka terus memberikan semangat dan bantuan.

Sekolah di SABDA telah berakhir. Memang tidak semua materi yang telah direncanakan disampaikan. Masih banyak yang belum tersampaikan. Tinggal bagaimana menerapkan apa yang sudah dipelajari ke dalam proyek yang akan segera dikerjakan.

Teknologi terus berkembang pesat sehingga mau tidak mau, setiap kita dituntut untuk tidak henti-hentinya belajar. Berpikir kreatif bagaimana menggunakan perkembangan teknologi yang ada untuk menjadi berkat bagi banyak orang. "You can't do it alone", adalah kalimat yang diulang-ulang selama training, membuatku menyadari bahwa apa pun yang kita kerjakan di dalam pelayanan (baik digital maupun nondigital), tidak pernah dapat dilakukan seorang diri. So... mari bersama melayani di dunia digital, hingga pada akhirnya Kristus saja yang dimuliakan.

Sugeng Ambal Warsa Bu Reso!

Blog SABDA - Tue, 2015-04-14 15:47

Hari ini ada sesuatu yang istimewa di kantor YLSA. Bu Reso berulang tahun. Siapa yang tak kenal Bu Reso??? Ya, Bu Reso adalah orang yang sangat terkenal di kantor YLSA, sekaligus juga orang yang paling senior di antara seluruh staf YLSA. Beliau adalah orang yang berjasa dalam menyediakan kebutuhan makan siang kami setiap hari di kantor, snacks pada saat break, maupun makanan-makanan untuk staf jika kami mengadakan persekutuan staf atau beberapa acara perayaan di kantor

Sesaat sebelum makan siang, kami berkumpul untuk mendengar sepatah dan dua patah kata dari Bu Reso. Ternyata, beliau secara spontan langsung memberikan ucapan syukur bahkan sebelum MC mempersilakannya.:) Pada ulang tahunnya yang ke 64 ini, Bu Reso mengucap syukur karena pemeliharaan Tuhan yang tiada habis dalam hidupnya. Beliau sangat bersyukur karena sejak tahun 1994 sudah melayani di YLSA, sehingga bisa menyaksikan betapa besarnya karya Tuhan dalam memelihara Yayasan ini. Ibu yang memiliki 6 anak ini juga bersyukur karena anugerah Tuhan sehingga beliau bisa membesarkan anak-anaknya menjadi dewasa dan mandiri serta atas kesehatan yang telah Tuhan berikan kepadanya selama hidupnya.

Selain memberikan ucapan syukur, Bu Reso juga memberikan pokok doa untuk didoakan bersama. Bu Reso minta didoakan agar beliau dan seluruh keluarganya diberikan kesehatan sehingga dapat senantiasa melayani Tuhan. Dipimpin oleh Pak Viktor, kami semua secara bersama-sama mendoakan pokok doa dari Bu Reso di hari istimewanya ini. Setelah itu, kami semua segera mengantri untuk memberi ucapan selamat ulang tahun kepada beliau

Selamat ulang tahun Bu Reso, Tuhan Yesus memberkati selalu!

Training Tanpa Judul di SABDA

Blog SABDA - Mon, 2015-04-13 14:37

Oleh: Anin*

Lho, kok judulnya begitu ya? Lebih jelasnya lihat tulisan aneh di bawah ini ya. ^_^

Senin, 23 Maret 2015. Satu hari yang penuh dengan tanda tanya. Hari itu adalah hari pertama training di kantor SABDA. Training apa? Tidak tahu karena nggak ada judulnya training apa . Tapi yang jelas, banyak yang diajarkan. Tentang Digital Ministry, konsep pembuatan proyek web, prosesnya, teknisnya, dll..

Hari pertama harusnya pengenalan (harusnya sih, karena kalau pelatihan yang lain biasanya seperti itu), tapi langsung dikasih PR!! Luar biasa!! PR-nya buat inventarisasi bahan yang akan digunakan untuk proyek E-Library STTIAA yang saya kerjakan. Padahal datang tanpa persiapan sama sekali, nekat ya?! . Tiap hari dikasih PR lagi, mantab yak?! Oh iya, trainingnya dari tanggal 23 Maret -- 2 April 2015 atau satu setengah minggu di kantor Griya SABDA. Di sana, saya tidak sendiri dengan tim dari SABDA saja, tapi juga ada tim dari Scripture Union (SU) Indonesia, ada Pak Yusak dan Mbak Yuni. Kalau lihat tulisan ini: Halo Pak Yusak! Halo Mbak Juni! Apa kabar? Siap tempur buat proyeknya nggak nih? Semangat ya guys!! .

Lanjut ke cerita singkat trainingnya...

Hari pertama diajarkan tentang zaman yang berubah ke dunia digital, kemudian teknis pembuatan proyek dan tentang skill juga. Yang menjadi fokus di sini adalah tentang pembuatan web/situs. Selama training, diajarkan tentang tahap-tahap pembuatan situs, dari pembuatan proposal, ngumpulin bahan-bahannya, sitemapstoryboard, mock up, rapid prototype juga diajarkan tentang SWOT. Bahasanya tinggi, jadi saya sulit memahami . Ternyata dalam pembuatan situs itu bukan cuma buat saja, tapi juga harus tahu nantinya atau tujuan pembuatan situs itu apa. Bagaimana situs itu menyenangkan pengunjung situsnya, konten apa aja yang ada di situ, fungsi yang disediakan apa saja, dll.. Nah, dari situ akan tahu situs yang ingin dibuat seperti apa. Ribet? Sangat ribet guys . Selama pelatihan itu banyak pusingnya, tapi akhirnya tahu tujuan semuanya itu apa. Hampir setiap hari presentasi PR yang dikerjakan, bingung iya, pusing iya. Pokoknya campur aduk. Selama presentasi itu banyak dikasih masukan, bukan hanya masukan untuk proyeknya tapi juga buat diri sendiri. Banyak melakukan brainstorming juga.

Dari situ, saya mulai tahu. Ternyata itu adalah training Sistem Manajemen Proyek. (Kalau nggak salah lho ya?! )

Bukan cuma di training aja, tapi setiap hari sebelum training pasti ada Pemahaman Alkitab. Seperti yang diajarkan dalam training, segala sesuatu itu diawali dengan doa. Ketika diawali dengan doa, akan diakhiri dengan syukur. Jadi bukan hanya ilmu saja, tapi juga membangun iman kita agar lebih lagi pada Tuhan.

Dari training itu, saya belajar banyak hal. Selain tentang pengetahuan teknis, yang lebih penting itu pelajaran di balik training itu. Pertama jelas, kita tidak bisa melakukan semuanya itu sendiri. Kemudian kita menjadi tahu kelemahan diri kita, belajar terima kritik dan saran yang membangun pastinya, belajar memecahkan masalah, dan tentang kerja tim juga. Di SABDA, saya mendapat teman baru yang saling mendukung. Yang jelas, banyak hal yang tidak ada di tempat lain, ada di training SABDA ini.

Terima kasih buat semua yang terlibat dan yang sudah memberikan saya ilmu baru yang sangat bermanfaat. Sebenarnya, selama di sana itu saya pusing dan ribet, tapi rasanya pingin lagi ketemu dengan orang-orang yang ternyata mengasyikkan . Yang jelas, terima kasih untuk teman-teman di SABDA yang sudah membantu, dan sukses terus untuk pelayanan SABDA di dunia digital. Akhir tulisan, "We can’t do alone, but with GOD, we can".

Tuhan memberkati SABDA.

Ku Menang dalam Salib-Mu

SABDA Space Teens - Fri, 2015-04-10 09:49

Salib Tuhan adalah sebuah anugerah yang sungguh besar dan ajaib dalam hidup setiap orang percaya. Salib memberikan pendamaian antara manusia yang berdosa dengan Allah yang kudus dan benar. Salib menjalin kembali relasi yang sekian lama telah terputus. Salib Tuhan adalah pintu gerbang untuk memasuki kehidupan-Nya. Salib-Nya membawa banyak orang untuk masuk dalam kemuliaan-Nya.

baca selanjutnya

Kantin Kejujuran di SABDA

Blog SABDA - Thu, 2015-04-09 13:39

Setiap hari, pada jam 10.00, selama 15 menit, adalah waktu-waktu break bagi kami, staf YLSA . Di waktu break itu, kami biasa menikmati makanan yang kami bawa sendiri dari rumah, atau jajan di warung dekat kantor. Karena waktu break hanya sebentar, sementara banyak teman yang jajan ke warung sehingga menghabiskan waktu, akhirnya kami membuka "kantin kejujuran". Kantin ini dikelola oleh Mbak Elly yang setiap pagi membeli aneka jajanan di pasar, lalu menyediakannya bagi kami di buffet kecil yang terbuat dari kaca, yang khusus disediakan untuk kantin. Ada banyak aneka jenis makanan yang tersedia di sana, mulai dari snack kering, jajan pasar, mie atau nasi kuning, aneka roti, plus aneka minuman instan yang disediakan oleh Mbak Anik seperti kopi susu, susu, cereal instan, dll.. Setiap orang boleh mengambil sendiri makanan atau minuman yang ingin dibeli, lalu membayarnya di tempat khusus yang sudah disediakan di atas buffet. Nah, sesuai dengan namanya, setiap orang wajib untuk membayar apa yang diambilnya dengan jujur, plus mengambil sendiri uang kembalian dengan jujur pula.

Dengan adanya kantin kejujuran di kantor, maka ada banyak waktu yang dapat dihemat dibanding jika harus pergi ke warung. Dengan begitu, waktu makan dan ngobrol kami juga bisa lebih lama. Selain bersih dan dijamin tidak ada yang kedaluwarsa, harga makanan di kantin ini juga tidak mahal karena tidak mengambil banyak keuntungan. Cocoklah untuk kantong kami, selain itu juga cukup untuk mengganjal perut sampai waktu makan siang tiba. Karena hampir setiap hari kami break di kantin kejujuran, tidak heran jika satu sama lain akan hafal dengan makanan favorit atau jajanan kesukaan dari masing-masing teman. Ada yang suka jajan pasar dan aneka gorengan, ada yang selalu bawa bekal sendiri dari rumah atau tempat kost, ada juga yang cuma suka ngemil snack-snack kering, bahkan ada juga yang tidak jajan sama sekali. Yang jelas, apa pun makanannya, saat break di kantin kejujuran selalu jadi waktu-waktu yang menyenangkan buat kami semua di sela-sela aktivitas dan kesibukan kantor.

Hore, Benny Ulang Tahun! :-)

Blog SABDA - Tue, 2015-04-07 14:42

Oleh: Wiwin*

Enam April adalah hari yang spesial bagi saudara kami, Benny Kusumanegara. Hari ini, Benny akhirnya masuk ke tahap "prime age". Kami bersama-sama merayakan hari ulang tahunnya sewaktu kami makan siang, sembari menyantap bakso yang Benny bawa sebagai wujud ucapan syukurnya. Wah, nikmat .

Programmer YLSA ini begitu bersyukur atas karunia Tuhan yang memberi kesempatan baginya untuk hidup dan melayani Tuhan. Benny merindukan hidupnya semakin bijaksana dalam mengatur waktu antara keluarga dan pelayanan, serta semakin maksimal dalam pelayanannya di YLSA. Kerinduan Benny ini kami aminkan serta kami dukung bersama dalam doa kami siang itu.

Di hari ulang tahunnya, selain berbagi bakso bagi kami semua, Benny juga membagi sebuah karya yang khusus dibuat untuk memaknai hari ulang tahunnya. Karyanya ini tidak dibagikan hanya kepada kami di YLSA, tetapi juga kepada seluruh pembaca serta semua orang yang membutuhkannya. Dari jauh-jauh hari Benny mempersiapkan mimpinya dan menyelesaikannya di hari Paskah kemarin. Benny yang begitu mencintai kebudayaan Jawa akhirnya tidak saja meluncurkan DVD Alkitab Aksara Jawa tahun 2014 lalu, tetapi juga membuat Kamus Bahasa Jawa dalam bentuk cetak, yang dicetak pada hari ulang tahunnya. Wow, Benny memang unik dan keren!

Selamat ulang tahun Benny!! Kiranya hidupmu semakin menjadi berkat bagi banyak orang!!

*Wiwin adalah staf magang YLSA.

Selamat Paskah Sahabat YLSA

Blog SABDA - Thu, 2015-04-02 12:50

Renungan Paskah

Mengapa Yesus turun dari sorga, masuk dunia g'lap penuh cela;
berdoa dan bergumul dalam taman, cawan pahit pun dit'rima-Nya?
Mengapa Yesus menderita, didera, dan mahkota duri pun dipakai-Nya?
Mengapa Yesus mati bagi saya?

Kasih-Nya, ya kar'na kasih-Nya ...

Sumber lirik: NKB 85, situs kidung.co

Ya, karena kasih Allah, Yesus rela berkorban bagi kita. Pengorbanan Yesus telah menyelamatkan hidup kita dari kebinasaan. Seperti yang dikatakan dalam Yohanes 3:16, AYT Draft, "Karena Allah sangat mengasihi dunia ini, Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal."

Kami, keluarga besar Yayasan Lembaga SABDA mengucapkan "Selamat Paskah" kepada semua Sahabat YLSA. Kiranya kita yang sudah diselamatkan oleh-Nya, dengan penuh kesungguhan hati turut ambil bagian menceritakan kasih Allah kepada mereka yang belum mengenal-Nya. YLSA rindu berbagi berkat berupa bingkisan Paskah untuk Anda semua, berupa bahan-bahan Paskah yang bisa Anda temukan di situs Paskah, Paskah.co, dan Facebook Paskah. Segala puji, hormat, dan kemuliaan hanya bagi nama Tuhan Yesus. Amin.