Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Feed aggregator

“Berekspresi di Era Digital” bagi Remaja PPA Sumpingan Solo

Blog SABDA - Wed, 2015-02-18 10:01

Pada tanggal 5 Februari 2015, YLSA mendapatkan kesempatan dari Tuhan untuk melayani siswa-siswi SMP dan SMA di PPA Tresno Putro, Sumpingan, Solo. Kami diminta untuk memberikan seminar mini dengan topik "Berekspresi di Era Digital". Acara ini juga merupakan roadshow perdana bagi Divisi Komunitas YLSA. Tidak mau ketinggalan dengan teman-teman di divisi Publikasi dan PESTA yang sudah mengadakan roadshow pula. Seminar ini diberikan kepada para remaja Kristen untuk dapat berekspresi di media sosial dengan tidak meninggalkan identitas sebagai anak-anak Tuhan, yang harus berani bersaksi dan berani tampil beda dalam menggunakan media sosial.

Sore itu, kami berangkat bersama dari Griya SABDA jam 15.30 sore. Saya, Mei , Mbak Santi, Yans, dan Adik Garneta bergegas untuk berangkat menuju PPA Sumpingan. Sepuluh menit kemudian, kami telah tiba di PPA Sumpingan, dan kami disambut oleh Ruth (Putri Pak Joseph sebagai mentor di PPA Sumpingan), Pak Tanto sebagai Koordinator PPA Sumpingan, dan Pdt. Joko Murdowo selaku Gembala Sidang GSJA Sumpingan. Ruth dan Pak Tanto kemudian mengantar kami masuk ke dalam gedung gereja. Setelah itu, kami mulai menata LCD, mencoba sound system, dan mempersiapkan beberapa barang yang akan ditata di "booth". Tidak lama kemudian, Mbak Anik menyusul kami dan menolong kami hingga acara selesai. Mbak Anik, adalah staf YLSA dan bergereja di GSJA Sumpingan. Pak Joseph turut menyusul dan menolong kami pada roadshow kali ini.

Mbak Santi, sebagai presentator membawakan topik "Berekspresi di Era Digital" dengan baik dan sistematis. Dimulai dari mengapa kita berekspresi, cara untuk berekspresi, perkembangan media dari masa ke masa, membuat pesan, dan bagaimana remaja Kristen berekspresi. Semua disampaikan dengan baik, para siswa mendengarkan dan merespons dengan baik apa yang sudah disampaikan oleh Mbak Santi. Menjadi remaja Kristen yang suka berekspresi adalah baik, tetapi perlu ditekankan mengapa kita harus berekspresi. Berikut ada empat hal mengapa kita berekspresi.
1. Menunjukkan siapa kita.
2. Menunjukkan bahwa masing-masing kita unik.
3. Menunjukkan bahwa kita punya suara.
4. Untuk berbagi berkat Tuhan.

Poin penting yang ditekankan oleh Mbak Santi adalah bagaimana membuat pesan yang baik ketika menggunakan media sosial. Dalam salah satu slide presentasi ditekankan tentang "Content is King", ini berarti bahwa saat kita berekspresi, kita harus menekankan esensi dari pesan yang kita buat.

Tidak hanya memberikan pemaparan secara konseptual, Mbak Santi juga memberikan contoh-contoh nyata berekspresi di dunia digital yang sudah dilakukan oleh SABDA sendiri. Beberapa screenshoot dari Facebook dan Twitter ditampilkan untuk menyatakan kepada para remaja Kristen bahwa SABDA sudah melakukan pelayanan melalui media sosial untuk memuliakan nama Tuhan. Melihat contoh-contoh tersebut, para siswa terbelalak dan menyadari bahwa gadget dan media sosial harus digunakan dengan benar.

Selain itu, remaja Kristen juga harus menjadi pahlawan kebenaran di tengah perkembangan dunia IT. Cara yang dilakukan oleh para remaja adalah:
1. Hidup dalam terang firman Tuhan.
2. Bersekutu dengan anak-anak Tuhan.
3. Mengasah keterampilan membuat pesan.
4. Berkarya untuk menjadi saksi Tuhan.

Inilah materi yang disampaikan dan dibagikan Mbak Santi kepada anak-anak PPA Sumpingan. Kami sungguh bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan sungguh baik. Kami sungguh merasakan pertolongan Tuhan dalam pelayanan ini. Awal acara hingga perjalanan pulang, kami tiada henti bersukacita dan bersyukur atas penyertaan dan pertolongan Tuhan. Kiranya anak-anak PPA Sumpingan dapat mengimplementasikan pelajaran ini dalam hidup sehari-hari, menjadi remaja Kristen yang berekspresi untuk menyampaikan pesan firman Tuhan, serta menghidupi Firman itu.

"Mari berkarya bagi kemuliaan Tuhan!"

KASIH

SABDA Space Teens - Thu, 2015-02-12 14:54

Tidak terasa ya, kita telah meninggalkan bulan perdana di tahun 2015, dan kali ini kita telah bersama-sama berjalan di bulan Februari. Tema kita pada bulan Februari ini adalah KASIH. ^^

baca selanjutnya

Kunjungan ke Perbatasan Wonogiri

Blog SABDA - Wed, 2015-02-11 12:36

Masih dalam program kunjungan ke rumah orang tua staf YLSA, pada tanggal 20 Desember 2014, giliran saya dan tiga teman lain berkunjung ke rumah orang tua Bayu. Saat itu Bayu , Ayub, Hilda, dan saya mengendarai sepeda motor ke perbatasan Wonogori. Lokasinya cukup jauh sehingga perjalanan cukup melelahkan.

Kami berangkat kira-kira pkl. 10.00. Perjalanan kami tempuh dengan kecepatan yang rata-rata, tetapi ada sedikit halangan di jalan. Ketika itu, ada mobil yang akan menyeberang ke kanan, dan saya yang naik motor sendirian menyalip dari kanan. Perkiraan saya, mobil itu akan berhenti sebelum belok, tetapi ternyata mobil itu langsung ke kanan. Saya tahu posisi saya saat itu salah karena mobil itu sudah memberi tanda belok ke kanan tetapi saya tetap menerobosnya. Saat jarak sangat dekat, kira-kira berapa puluh sentimeter saja, saya sudah pasrah dan berdoa pada Tuhan, "Dalam nama Tuhan Yesus", mengucap beberapa kali. Dan, puji Tuhan mobil itu dengan sigapnya berhenti. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan karena tidak terjadi kecelakaan pada saat itu, atau bahkan menyrempet sedikit pun. Saya menyadari, saat itu saya mengendarai motor saya dengan kecepatan kira-kira 80-90 km/jam. Melalui peristiwa tersebut, Tuhan mengingatkan agar saya lebih berhati-hati dalam berkendaraan dan selalu waspada di mana pun berada.

Perjalanan masih berlanjut. Setelah memasuki suasana desa, semuanya berubah. Udara yang sejuk dan jalanan yang naik-turun kami lalui. Di sana, kami banyak sekali melihat keindahan alam yang Tuhan ciptakan. Sesudah 1,5 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di rumah Bayu. Di sana, kami duduk disambut dan dengan sangat baik, kemudian berbagi cerita dengan kedua orang tua Bayu. Beberapa kali, kami tertawa terbahak-bahak karena beberapa cerita lucu. Karena tujuan kami datang dari Solo adalah untuk berkunjung, menjenguk, mendoakan, dan saling berbagi berkat, kami segera memulai persekutuan kecil berenam. Kami menyanyi, berdoa, dan mendengarkan sebuah renungan yang dibawakan oleh Sdr. Ayub. Kami mendengarkan pokok doa dari keluarganya di antaranya adalah untuk kesehatan ayah Bayu yang sedang dalam proses pemulihan karena jatuh dari motor, juga kesehatan ibunya. Setelah itu, kami semua berdoa syafaat untuk keluarga tersebut.

Sesudah sesi acara utama selesai, kami berempat diajak berjalan-jalan di halaman rumah Bayu yang sangat luas. Keluarga tersebut mempunyai berbagai macam tumbuhan, dan yang paling kami minati adalah pohon durian yang ada di halamannya. Ada empat pohon yang saya lihat dan sudah berbuah, tetapi sayang buahnya belum matang. Setelah itu, kami makan siang dengan hidangan yang sudah disediakan oleh keluarga Bayu. Setelah itu kami bersiap-siap pulang. Kami sampai di Solo dengan selamat. Selama perjalanan pulang kami kehujanan, tetapi Tuhan tetap menyertai perjalanan pulang kami. Kami pun berencana untuk datang lagi ke rumah Bayu saat buah durian sudah matang.

Saya bersyukur karena melalui kunjungan ini, kami dapat memberikan dorongan, dukungan, dan perhatian kepada orang tua. Selain itu, saya juga bersyukur karena di sini kami mendapat banyak berkat dan diingatkan Tuhan untuk selalu memperhatikan orang-orang di sekitar kita. Mungkin kita yang masih mempunyai orang tua, nenek, atau saudara yang sudah lansia, harus memberi perhatian lebih kepada mereka. Apa lagi yang dapat kita lakukan selain mengasihi mereka? Mereka memerlukan perhatian dan kasih sayang seperti Tuhan mengasihi kita. Saya pun dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan saya, yaitu menyatakan kasih mulai dari lingkup paling kecil dalam kehidupan saya, yaitu keluarga.

Ulang Tahun Bayu

Blog SABDA - Tue, 2015-02-10 15:02

Senin pagi, staf YLSA memulai minggu dengan Persekutuan Doa. Seperti biasa, saat kami semua berkumpul di ruang pertemuan, ada beberapa pokok doa yang disampaikan untuk kami bawa dalam doa. Salah satunya adalah berdoa bagi Mas Bayu yang tidak masuk pada hari itu karena mas Bayu baru mengalami kecelakaan pada hari Sabtu, 7 Februari 2015. Kebetulan pada hari Sabtu itu, Mas Bayu juga berulang tahun yang ke-26.

Karena Sabtu libur dan pada hari Senin Mas Bayu tidak masuk, kami merayakan ultah Mas Bayu saat makan siang, pada hari Selasa keesokan harinya. Kami semua berkumpul di meja makan dan mendengarkan sedikit sharing dari Mas Bayu mengenai kesannya pada ulang tahunnya ini. Dalam sharingnya, ia mengucap syukur atas berkat dan pemeliharaan Tuhan, dan tak lupa juga menyampaikan beberapa pokok doa yang menjadi kerinduannya. Pokok doanya yang pertama adalah untuk pelayanannya. Mas Bayu berharap bisa selalu bersemangat dalam melayani Tuhan. Kedua, Mas Bayu mengucap syukur karena kakaknya sudah memiliki rumah baru di Jakarta, dan semoga Tuhan senantiasa memberkati rumah tangga kakaknya. Pokok doa yang ketiga ditujukan untuk adiknya, yang akan melaksanakan ujian skripsi dan rencana selanjutnya yang akan pergi ke luar pulau untuk membantu salah satu LSM.

Setelah kami mendengar sedikit sharing dan pokok dari Mas Bayu, Pak Gunung memimpin kami untuk berdoa bagi Mas Bayu. Setelah berdoa, tidak lupa kami menyanyikan lagu "Selamat Ulang Tahun" dan memberikan selamat kepada Mas Bayu.

Selamat ulang tahun Mas Bayu, semoga semakin bertambah dewasa di dalam Tuhan, serta senantiasa bersemangat dalam melayani Tuhan. Damai sejahtera Tuhan kiranya beserta keluarganya, dan Mas Bayu juga semakin mengasihi orang tua, saudara, teman, dan sahabat-sahabatnya. Tuhan Yesus Mengasihimu.

Stand SABDA di Youth Mission Conference II di Semarang

Blog SABDA - Tue, 2015-02-10 13:20

Hari Sabtu, pukul 04.15, kami (Benny, Ayub, Mei, dan saya sendiri) berangkat dari Solo menuju ke Semarang. Hari itu, SABDA akan membuka stand dalam acara Youth Mission Conference (YMC) di STBI Semarang. Tema YMC II kali ini adalah "Sent me, here I am". Sehari sebelum berangkat, sebenarnya saya, Mei, dan Ayub sudah mempersiapkan semua perlengkapan yang akan dibawa. Akan tetapi, pada hari H, ada yang tertinggal, yaitu "banner" Untung saja, Ayub mengingatkannya saat kami baru sampai Boyolali. Karena kejadian itu, akhirnya kami mengawali kembali perjalanan ke Semarang mulai dari titik O di kantor YLSA, pada pukul 5.10. Di tengah perjalanan, mobil sempat mengalami sedikit masalah, tetapi bersyukur karena akhirnya kami dapat sampai dengan selamat di STBI pada pukul 08.00.

Sesampainya di STBI, kami disambut oleh Pak Hagai yang merupakan koordinator dari acara YMC II ini. Selain SABDA, ada beberapa stand juga yang ada di sana. Antara lain dari Waroengsatekamoe (RBC) dan Yayasan KDP (Kasih Dalam Perbuatan). Para peserta terdiri dari anak-anak muda yang terbeban dalam pelayanan misi. Anak-anak muda ini merupakan berkat tersendiri bagi Indonesia karena mereka memiliki hati yang rindu menjangkau Indonesia bagi Tuhan. Beberapa dari mereka sudah pernah bertemu dengan SABDA ketika kami membuka stand dalam acara YMC I di Salatiga, tahun lalu.

Acara ini sebenarnya berlangsung dari hari Jumat sampai dengan Minggu, 30 Januari -- 1 Februari 2015. Dan, SABDA memutuskan untuk membukan stand pada hari Sabtu, 31 Januari 2015. Selain membuka stand, SABDA juga diberi kesempatan untuk memperkenalkan pelayanannya dalam ladang misi elektronik yang dibawakan oleh Benny dalam waktu 10 menit. Namun sayangnya, acara yang diadakan ini 90% waktunya dilakukan di dalam ruangan, termasuk juga acara rehat dan makan siang sehingga peserta tidak memiliki banyak waktu untuk melihat stand-stand yang ada di luar. Namun bersyukur, banyak remaja yang merupakan perwakilan gereja datang ke stand SABDA sehingga dapat memperoleh bahan-bahan pelayanan yang telah disediakan serta menginstalkan devicenya dengan beberapa modul dan aplikasi Alkitab.

Ada beberapa pengunjung stand SABDA yang memiliki cerita unik. Cerita pertama datang dari seorang misionaris yang ingin mengenal SABDA lebih jauh serta berdiskusi tentang bagaimana seorang dapat memperoleh Kabar Baik dengan lebih mudah. Beliau memiliki banyak pengalaman dalam mengabarkan Injil. Dan, saat ini salah satu target utama beliau bersama yayasan yang diembannya adalah para TKI yang sedang bekerja di luar negeri. Pada akhir pertemuan, beliau membawa pulang beberapa SD Card 16 GB yang berisi bahan dari DVD Library Anak, DVD Konseling Kristen TELAGA, dan DVD Dengar Alkitab. Beliau ingin SD Card itu dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan bahan pelayanan, khususnya bagi TKI. Kisah lainnya datang dari seorang pemuda yang menceritakan pengalaman tentang manusia lamanya yang sangat kelam, tetapi Tuhan sungguh mengubahkan hidupnya dan kini dia rindu untuk melayani Tuhan di ladang misi. Kepada pemuda ini, kami juga memberikan dan menjelaskan bahan-bahan SABDA yang ada dalam CD Alkitab Audio dan DVD. Kami sungguh berharap bahan-bahan tersebut dapat memperlengkapi mereka dalam mengemban pelayanan dari Tuhan Yesus sehingga dapat semakin efektif dalam menjalankan Amanat Agung-Nya.

Banyak pelajaran yang saya peroleh pada pelayanan kali ini. Mulai dari pentingnya ketelitian dalam persiapan, menjalin relasi yang lebih baik dengan para pengunjung, serta diingatkan kembali bahwa dalam setiap kesempatan yang diberikan, tangan Tuhanlah yang bekerja dan membuat segala sesuatu menjadi mungkin. Bagi para pembaca Blog SABDA, terus doakan agar anak-anak muda yang berkomitmen untuk melayani Tuhan di bidang misi ini mendapatkan kekuatan dari Tuhan dan terus diteguhkan panggilannya untuk memenangkan jiwa bagi Tuhan. Terpujilah Tuhan! Selamat melayani, IT 4 GOD!

Kunjungan ke Rumah Mbah Atmo

Blog SABDA - Fri, 2015-02-06 10:29

Hari Rabu, tanggal 10 Desember 2014, saya dan teman-teman dari YLSA mengunjungi rumah Mbah Atmo, yang adalah orang tua Pak Josep. Masih dalam rangka kunjungan Natal dari YLSA, saya, Santi, Pak Berlin, Setya, dan Hadi, yang kata temanku dia itu "spesialis Mbah-Mbah", berangkat bersama-sama dengan menggunakan sepeda motor. Oh ya, Pak Josep dan istrinya juga ikut mengantar kami. Jalan ke rumah Mbah Atmo lumayan jauh melewati sawah-sawah, dan di jalan banyak lubang dan bebatuan yang terjal, namanya desa Sadon. Aku ingat, aku pernah ke desa itu sekitar 3 kali dan itu sudah bertahun-tahun yang lalu, tetapi sepertinya tidak ada perubahan dan keadaan jalannya tetap sama. Perubahan yang aku lihat hanyalah ada proyek jalan tol (flyover) yang dibangun melintas di atas desa Sadon.

Ketika kami tiba di rumah Mbah Atmo, kami disambut dengan baik dan ramah oleh keluarga di sana. Mbah Atmo tinggal bersama dengan salah satu anaknya. Aku terkesan pada waktu datang ke sana, ternyata Mbah Atmo tinggal di tengah-tengah keluarga berbeda keyakinan. Namun, mereka tetap hidup rukun dan menjunjung tinggi toleransi beragama, dan salah satu anak menantunya yang berbeda keyakinan juga ikut duduk bersama-sama kami.

Sebelum acara dimulai, kami mulai ngobrol-ngobrol dengan Mbah Atmo dengan tujuan kami semakin mengenal Mbah Atmo dan keluarganya. Mbah Atmo banyak cerita tentang kehidupannya dan anak-anaknya, dan rasa sakit yang pernah dialami ketika ia jatuh. Menurut cerita Mbah Atmo, meskipun salah satu anaknya sudah membeli obat untuknya, Mbah Atmo tetap berdoa minta kesembuhan dari Tuhan karena Mbah Atmo percaya kesembuhan sakitnya hanya didapat dari Tuhan Yesus. Umur Mbah Atmo sudah 75 tahun, pendengarannya sudah berkurang, dan untuk jalan juga sangat susah. Namun, semangatnya tidak kalah lho sama yang muda-muda, termasuk aku he he he he ... jadi teguran nih buat aku.

Saat acara dimulai, kami mulai menyanyikan lagu Natal, dan aku terkesima Mbah Atmo ikut menyanyi. Ternyata, Mbah Atmo suka sekali memuji Tuhan. Ketika Santi menyampaikan renungan dari firman Tuhan, dengan tenang dan penuh perhatian Mbah Atmo mendengarkan apa yang dikatakan Santi. Setelah itu, Mbah Atmo kembali berbagi cerita, dan kalimat yang membuatku terkesan adalah Mbah Atmo terus meminta kekuatan dari Tuhan sampai sekarang ini dan ia tiap hari selalu berdoa kepada Tuhan mohon ampun akan dosa-dosanya. Kami juga mendapatkan banyak pelajaran yang berharga dari kehidupan Mbah Atmo yang dapat kami jadikan teladan, yaitu semangatnya yang luar biasa.

Ketika perjalanan pulang, kami melewati kembali sawah-sawah. Kalau pada waktu berangkat masih terang, ketika pulang sudah sangat gelap dan sepi. Kami mengikuti Pak Berlin yang naik motor paling depan. Aku berpikir Pak Berlin hebat karena baru datang sekali, sudah tahu jalan pulang. Namun, ternyata Pak Berlin menemukan jalan buntu hahahaha ... akhirnya, kami berbalik dan berharap bisa menemukan jalan yang benar. Puji Tuhan! Akhirnya, kami bisa pulang kembali ke rumah kami masing-masing. Saya sangat bersyukur atas berkat Tuhan hari itu.

Happy Sweet 16th to Jessica!

Blog SABDA - Tue, 2015-02-03 14:33

Kemarin, tepatnya tanggal 2 Februari 2015, kami memperingati ulang tahun Jessica yang ke-16. Jessica adalah anak semata wayang Ibu Yulia , Ketua Yayasan Lembaga SABDA. Sebelum itu, kami sudah menyiapkan acara, dan saya diminta untuk menyanyikan lagu selamat ulang tahun karya saya sendiri dengan iringan dari Kak Khenny. Ketika jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, saya dan semua teman staf SABDA berkumpul di Griya SABDA untuk memulai acara tersebut.

Acara dimulai dengan makan empek-empek Palembang asli yang merupakan oleh-oleh Jessica saat berlibur ke Palembang, akhir tahun lalu. Setelah itu, kami masuk ke ruang pertemuan dan memulai acara dengan menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Ada yang menarik dalam acara kali ini, karena khusus pada hari itu pembawa acaranya adalah mas Pepep, suami dari Ade, editor AYT. Mas Pepep membawakan acara dengan sangat menarik karena dia sudah terbiasa membawakan acara di panggung hiburan. Terima kasih ya, Mas Pepep

Acara utama sore itu adalah permainan menggambar (karena Jessica memiliki hobi menggambar). Setiap orang diminta untuk menggambar apa saja dalam lembaran kertas yang sudah disediakan, masing-masing selama 5 detik. Gambar coretan ramai-ramai itu pada akhirnya harus diperbaiki oleh Jessica menjadi sebuah gambar yang ada maknanya. Nah, saat Jessica kemudian menggambar itulah saya menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Jessica dengan iringan gitar dari Kak Khenny. Walaupun terkesan dadakan, tetapi saya senang dapat menghibur dan memeriahkan acara. Dan, akhirnya setelah beberapa puluh menit, hasil gambar kami yang semula tidak berbentuk itu berhasil diubah menjadi karya yang luar biasa oleh Jessica. Tidak sampai di situ, Mas Pepep kemudian memberikan instruksi pada kami semua untuk menebak apa arti dari gambar tersebut, disertai dengan harapan dari Jessica yang tersirat di dalam gambarnya. Mas Hadi sungguh beruntung karena dapat menebak arti dan harapan yang ada di gambar Jessica sehingga dia berhak mendapatkan hadiah.

Setelah itu, Jessica juga menyampaikan harapan serta pokok doanya agar bakatnya dapat semakin berkembang dan dapat melayani Tuhan. Teman-teman staf SABDA kemudian memberikan sesuatu yang dapat dikenang dan dapat mengingatkannya kepada Tuhan Yesus, yaitu berupa ayat-ayat Alkitab tentang mengasihi dan mengenal Allah. Lalu, kami semua berdoa untuk Jessica dan itu menjadi penutup acara ulang tahun Jessica. Kiranya Jessica makin mencintai Tuhan seiring pertambahan usianya, lebih sayang lagi terhadap kedua orang tuanya, dan senantiasa disertai oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus memberkati.

Selamat ulang tahun, Jes!

 

“Christmas Carol” ke Rumah Mbak Okti

Blog SABDA - Fri, 2015-01-30 14:26

Oleh: Wiwin*

Selasa, 2 Desember 2014, sepulang kerja, kami, yaitu Tika, Amidya, Hadi , Kusumanegara, dan saya, berkunjung ke rumah Mbak Okti. Kunjungan ini adalah wujud kerinduan kami untuk berbagi di bulan Natal kepada keluarga staf YLSA yang sudah lansia. Di rumah Mbak Okti ada Tante Sari, beliaulah target kunjungan kami. Kami rindu berkunjung dan berbagi kasih kepada beliau.

Perjalanan kami ke rumah Mbak Okti tidaklah lama, hanya membutuhkan waktu 10 menitan dengan mobil Kusumanegara. Sesampai di rumah Mbak Okti, kami disambut hangat oleh tuan rumah. Situasi yang mendung sore itu memang sangat cocok dengan teh hangat yang disiapkan di meja tamu. Jadi, sambil berkenalan dengan Tante Sari, kami menikmati teh hangat yang dihidangkan untuk kami.

Setelah cukup perkenalan awal kami dengan Tante Sari, Hadi mengajak acara "Christmas Carol" dimulai. Hadi mengajak kami semua menyanyikan dua lagu Natal sebelum Kusumanegara menyampaikan renungan. Lagu "Hai Mari Berhimpun" dan "Dari Pulau dan Benua" pun terdengar merdu kami nyanyikan di ruang tamu yang mungil itu sekalipun tanpa iringan gitar atau alat musik lainnya. Renungan yang dibawakan Kusumanegara diambil dari artikel di situs blogger Kristen SABDA Space yang berjudul "Tangisan Yesus di hari Natal". Renungan ini cukup menyejukkan pikiran kami sore itu. Kami diingatkan supaya kami tidak membuat Yesus menangis saat kami merayakan hari Natal 2014 ini, yaitu dengan merayakan Natal dengan kemewahan tanpa menghayati makna Natal yang sesungguhnya.

Kami terharu sekali saat Tante Sari yang sudah tidak muda ini begitu semangat memuji Tuhan dan mendengarkan renungan. Beliau juga cukup semangat ketika berbagi cerita pengalaman hidupnya mengiring Kristus sekalipun dengan status lajangnya sampai usia lanjut. Ketika kami menawarkan untuk mendoakan Tante Sari, kembali kami dikejutkan oleh pokok doa yang beliau minta. Pokok doa yang pertama beliau minta bukanlah kesehatan atau kecukupan, tetapi justru pertumbuhan wataknya yang masih terus beliau kejar. Beliau rindu semakin sabar dan menjadi berkat bagi keluarga. Kami bersyukur sekali melihat teladan hidup dari Tante Sari ini. Oleh karena itu, dengan ketulusan hati dan hati yang bersungguh-sungguh memandang pada Tuhan, kami berdoa bersama-sama untuk beliau. Dan, saya memimpin doa syafaat untuk Tante Sari sekaligus berdoa penutup.

Pengalaman berharga saya di penghujung tahun 2014 salah satunya adalah peristiwa tersebut. Semangat, kehangatan, dan kesetiaan Tante Sari menjadi teladan bagi saya untuk mengisi hari-hari saya agar semakin mendekat pada Tuhan dan berbuah bagi Tuhan. Terima kasih Tuhan untuk pembelajaran yang Tuhan sediakan buat saya dan kami semua!!

*Wiwin adalah staf magang YLSA.

RAKER YLSA 2015, “SABDA TERBUKA”

Blog SABDA - Fri, 2015-01-30 09:16

Rapat kerja (Raker) YLSA 2015 yang diikuti oleh seluruh staf YLSA telah dilaksanakan pada Jumat-Sabtu, 9 -- 10 Januari 2015. Pada Kamis, 8 Januari 2015, semua koordinator divisi telah terlebih dahulu bertemu dalam acara praraker. Saya bisa merasakan kesibukan dan keseriusan para koordinator divisi dalam menyiapkan raker YLSA 2015 ini. Mereka adalah Mbak Setya (koord. divisi Publikasi), Pak Gunung (koord. divisi Web), Mbak Santi (koord. divisi Komunitas), Amidya (koord. divisi PESTA), Khenny dan Mas Hadi (koord. divisi ITS), serta Mbak Evie (koord. divisi AYT). Dan, tentunya, Ibu Yulia, selaku pemimpin YLSA, juga terus memantau persiapan presentasi laporan dan rencana divisi yang disajikan oleh para koordinator.

Raker YLSA 2015 adalah raker ketiga yang saya ikuti selama melayani di YLSA. Bagi saya, raker selalu berkesan setiap tahunnya. Begitu juga dengan raker tahun ini. Pada setengah hari pertama, seluruh koordinator mempresentasikan laporan, evaluasi, dan rencana kerja divisi selama 2015. Setengah hari berikutnya, kami mendapat training "Agile Management" dari Mas Hadi dan Khenny, "Scrum Method" dari Mbak Evie, dan "C.O.D.E" dari Mbak Setya. Senang rasanya bisa berbagi dan belajar bersama untuk melayani bersama-sama.

Raker hari kedua sepenuhnya digunakan untuk training. Ibu Yulia menyampaikan training mengenai visi misi yang diikuti dengan penyusunan "vision statement" dari masing-masing divisi. Selain itu, beliau juga memberikan renungan singkat yang terambil dari kitab Yosua, yang semakin meneguhkan seluruh staf untuk terus maju bersama YLSA di tengah segala tantangan pelayanan ke depan. Semua training yang diberikan diharapkan akan sangat bermanfaat untuk menjalankan pelayanan YLSA selama setahun ke depan.

Poin penting yang YLSA tanamkan terus-menerus, demikian juga di Raker ini, adalah slogan "IT for GOD" dan "Bible Everywhere". Slogan YLSA ini menuntut YLSA untuk mengembangkan pelayanan yang dinamis dan fleksibel di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat ini. YLSA terus mendengungkan agar teknologi tidak dianggap sebagai "musuh" bagi gereja, melainkan menjadi sarana yang memungkinkan firman Tuhan disebarkan lebih luas lagi.

Dua tahun yang lalu, YLSA telah memulai proyek "Alkitab Yang Terbuka (AYT)" dan masih akan terus dilanjutkan tahun 2015. Melalui AYT yang didukung dengan Pustaka Terbuka dan Komunitas Terbuka, diharapkan kebenaran firman Tuhan tidak hanya dibaca (BACA), tetapi juga dipelajari (BELAJAR) dan dibagikan (BAGI) kepada lebih banyak orang. Ke depannya, YLSA rindu membangun sebuah sistem baru yang kami sebut dengan "Gereja Yang Terbuka". "Gereja Yang Terbuka" akan memungkinkan gereja-gereja di seluruh Indonesia bisa saling berinteraksi untuk mengakses dan mendapatkan semua bahan kekristenan yang diperlukan bagi pembangunan tubuh Kristus. Karena itu, tidak salah jika tema besar yang kami tetapkan untuk menjadi fokus pelayanan YLSA di tahun 2015 adalah "SABDA Terbuka".

"SABDA Terbuka" muncul sebagai cerminan hati Allah yang terbuka untuk menyatakan kasih-Nya kepada manusia. Selama ini, bahan-bahan SABDA telah disebarkan ke seluruh wilayah Indonesia, mulai dari CD Alkitab Audio, DVD Library Anak, USB Biblika, SD Card 16 GB Bahan-bahan SABDA, situs-situs dan publikasi-publikasi YLSA, video, traktat, dll.. Ke depannya, kami rindu ribuan bahan tersebut dapat diakses dan didapatkan dengan lebih mudah melalui internet. Oleh karena itu, setiap divisi di YLSA sedang mengembangkan sistem "C.O.D.E." (Create Once Distribute Everywhere) yang akan memperbesar kesempatan orang-orang Kristen mengakses dan menerima bahan-bahan SABDA melalui setiap gadget yang dimiliki, di mana saja dan kapan saja. Doakan agar visi "SABDA Terbuka" ini dapat menolong YLSA untuk terus setia mempersembahkan teknologi bagi kemuliaan nama Tuhan, IT for GOD, bagi seluruh masyarakat Kristen Indonesia!

Persekutuan Staf YLSA di Rumah Mbak Okti

Blog SABDA - Thu, 2015-01-29 15:02

Oleh: Yohanes*

Selasa, 27 Januari 2015, bukanlah hari yang biasa bagi semua staf Yayasan Lembaga SABDA. Setiap hari, para staf YLSA mengerjakan setiap tugas yang ada dari pagi sampai sore dengan penuh sukacita. Dan, hari ini akan ada acara persekutuan di salah satu rumah staf YLSA, yaitu Mbak Okti. Ini merupakan pengalaman pertama saya bergabung dengan persekutuan di rumah staf.

Persekutuan dimulai pkl. 17.30. Kami bersiap-siap berangkat dari kantor pukul 17.00 WIB. Awalnya, saya berencana untuk tidak ikut persekutuan karena kondisi badan saya yang sedang sakit. Namun, tiba-tiba Mbak Evie memberi saya vitamin C sehingga saya pulih kembali.

Tepat pkl. 17.30, semua staf sudah berkumpul di rumah Mbak Okti. Saya baru tahu kalau rumah Mbak Okti ternyata "two in one" dengan rumah tantenya walaupun dari luar terlihat ada dua rumah yang berbeda. Saya terkesan dengan ruangan persekutuan yang menurut saya sangat unik karena bernuansa pendapa Jawa dan dihiasi dengan furnitur-furnitur dari kayu.

Akhirnya, persekutuan pun dimulai. Mas Ayub, selaku MC, membuka persekutuan dengan menyanyikan lagu "Satukanlah Hati Kami". Saat menyanyikan lagu ini, kami semua bergandengan tangan. Saya sangat terkesan dengan keakraban semua staf di YLSA. Ketika semua staf sedang sibuk bekerja seharian, dengan adanya persekutuan ini saya pribadi merasa bahwa semua kesibukan dan kepenatan itu hilang seketika, diganti dengan canda dan tawa. Setelah lagu selesai dinyanyikan, akhirnya Mbak Evie memimpin kami membaca bacaan dari kitab 1 Korintus 12:1-31. Kami membaca bergantian, kemudian diakhiri dengan renungan dan kesimpulan singkat oleh Ibu Yulia.

Perenungan pada persekutuan ini sangat berkesan sekali. Topik yang dibacakan tentang rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Saya mendapatkan berkat dari pembacaan ayat-ayat ini. Banyak sekali kelebihan dan karunia yang berbeda-beda dimiliki oleh masing-masing staf di YLSA, tetapi itu semua dipergunakan untuk melayani Tuhan. That's great!

Setelah selesai perenungan dan sharing dari pembacaan firman Tuhan, selanjutnya ada permainan yang dipimpin oleh Bu Yulia. Permainannya seru sekali. Permainan pertama adalah semacam permainan "Take Me Out" versi Alkitab (atau dengan kata lain mencari jodoh). Permainan ini diikuti oleh para staf di YLSA yang masih "jomblo" (belum menikah). Saya ikut ambil bagian dalam permainan ini. Dari permainan ini, di satu sisi saya belajar untuk komunikatif, tetapi di sisi lain pengetahuan Alkitab kami tentang pasangan yang ada di dalam Alkitab juga diuji.

Permainan yang tidak kalah serunya, adalah tentang "Mengasihi Tetangga". Permainan ini sangat seru karena melatih kepekaan kita. Kita harus berpindah tempat saat seseorang menunjuk yang lain, dan orang di samping kanan dan kirinya harus berpindah tempat secepat mungkin. Permainan ini membuat saya tidak berhenti tertawa karena melihat reaksi para staf yang heboh saat berpindah-pindah tempat. Seru sekali.

Setelah sesi permainan usai, ada sharing dari Mas Khenny dan Mbak Ade. Ternyata, Mas Khenny (staf divisi ITS YLSA) hari ini berulang tahun. Happy birthday, Mas Khenny! Mas Khenny membagikan pergumulan pelayanannya untuk beberapa tahun ke depan. Ia menyampaikan rencana pelayanannya di YLSA dan harapan pelayanannya ke depan, serta menyampaikan kesan dan pesannya setelah menginjak usia 28 tahun. Ia sempat mengatakan bahwa ia betul-betul merasakan kuasa kasih Allah yang memberi kekuatan baginya karena sempat beberapa kali jatuh sakit di sepanjang tahun 2014. Semangat, Mas Khenny!

Selain itu, ada juga sharing dari Mbak Ade. Mbak Ade adalah staf di divisi AYT, yang terkenal dengan kekocakannya dan terkenal murah senyum. Mbak Ade sharing mengenai kesan dan pesan di hari-hari terakhirnya melayani di YLSA. Sebab, di akhir bulan Januari ini, Mbak Ade akan kembali lagi ke Yogyakarta untuk melanjutkan studi dan pelayanannya di sana. Saya pribadi sangat bersyukur bisa mengenal staf YLSA yang terkenal unik dan ramah. Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan dari sharing ini.

Setelah acara sharing selesai, tiba saatnya makan malam bersama semua staf YLSA. Pada akhirnya, acara persekutuan ini ditutup dengan berdoa, dan kami semua kembali ke rumah masing-masing. Saya sangat bersyukur sekali bisa ikut ibadah persekutuan staf YLSA. Ini merupakan pengalaman saya yang pertama kalinya. Dengan adanya persekutuan ini, saya mendapatkan begitu banyak berkat, baik jasmani maupun rohani. Tertawa bersama, sharing bersama, dan berdoa bersama, merupakan sebuah kesatuan yang indah dalam melayani Tuhan. Semoga melalui persekutuan ini, kita semakin mengalami kemajuan dalam mengenal Tuhan dan bisa melayani Tuhan lebih dan lebih lagi.

Salam IT4GOD!

*Yohanes pernah menjadi staf magang YLSA.

Kunjungan ke Rumah Budhe Narti

Blog SABDA - Wed, 2015-01-28 12:51

Cerita tentang kunjungan Natal 2014 kali ini adalah tentang kunjungan ke rumah Ibu Narti, yang adalah budhe dari Mbak Ade, staf divisi Publikasi. Sore itu, Rabu, 10 Desember 2014, setelah jam kantor selesai, sekitar hampir pukul 6 sore, kami bertujuh, yaitu Mbak Evie, Pak Berlin, Mas Khenny, Mas Hadi, Eben, saya, dan Mbak Ade bersiap-siap berangkat. Sebelumya, kami telah mempersiapkan diri kami sedemikian rupa. Karena dekat dengan kantor, kami tidak perlu waktu banyak untuk sampai di tempat tujuan. Kesan pertama setelah sampai adalah rumah itu sangat teduh dengan sebuah pohon besar di halaman rumahnya. Setelah beberapa saat kami mengagumi keasrian halaman rumah, ada seorang ibu paruh baya yang membukakan pintu bagi kami dan menyambut kami dengan senyuman. Kami pun dipersilakan masuk ke dalam rumah, ya jumlah kami memang lumayan banyak, tetapi bersyukur karena ruang tamu cukup untuk menampung kami.

Kunjungan ini bukan sekadar kunjungan belaka, tetapi kami mengemban misi untuk berbagi sukacita Natal bersama keluarga yang kami kunjungi. Kami pun mengadakan ibadah Natal sederhana. Mbak Evie membukanya dengan sedikit perkenalan, kemudian berlanjut dengan menyanyikan lagu bertema Natal bersama yang diiringi oleh Mas Khenny. Setelah bernyanyi, kami masuk dalam perenungan firman Tuhan yang disampaikan oleh Pak Berlin. Setelah mendengar renungan firman Tuhan, kami pun melanjutkan ke sesi perbincangan. Di titik ini, saya mulai berperan. Ya, kelompok kami menunjuk saya sebagai juru bicara untuk membuka perbincangan agar semakin akrab dengan ibu pemilik rumah. Saya mengalami kebingungan sesaat karena melihat beliau yang terkesan serius. Dengan lugu dan tanpa pikir panjang, saya berkata kepada beliau, "Kami 'kan sudah memperkenalkan diri pada Ibu, kami juga ingin mengenal siapa Ibu?" Agak timbul keraguan sebenarnya apakah pertanyaan saya terlalu lancang, tetapi bersyukur ternyata beliau menyambutnya dengan jawaban yang ramah. Beliau bernama Ibu Sunarti atau akrab dipanggil Budhe Narti. Beliau mulai memperkenalkan siapa dirinya, siapa almarhum suaminya, dan siapa anak-anaknya. Ternyata beliau adalah seorang yang berkecimpung di bidang pendidikan dan lembaga pelayanan masyarakat, tetapi beliau bukan mengajar di satu sekolah, melainkan di organisasi-organisasi kemasyarakatan di berbagai daerah. Dari bahasa dan caranya berbicara yang formal, sangat terkesan bahwa beliau mempunyai rentetan pengalaman yang begitu panjang dan menarik.

Benar saja, ketika beliau mulai nyaman berbicara dan telinga kami siap untuk mendengar, kami dibawa berkeliling Indonesia dalam berbagai pengalaman beliau ke pelosok nusantara, bahkan ke luar negeri. Mulai dari bergulat dengan rimbunnya hutan Sulawesi, alam Sumatera, bahkan sampai pengalaman beliau ketika bertugas ke tengah masyarakat Madura dan Sumba yang lucu, dan membuat kami tertawa karena memang sangat lucu. Beliau sangat menikmati pekerjaannya karena prinsip beliau, pekerjaan itu bukan bicara soal gaji untuk diri kita sendiri, melainkan bagaimana melalui pekerjaan kita bisa memberkati orang lain. Saya merasakan ada pengalaman susah, senang, duka, dan bahkan lucu dalam pengalaman Budhe Narti. Saya melihat sejenak ekspresi teman-teman dan saya rasa mereka juga setuju jika kami begitu menikmati cerita beliau. Beliau mendapat panggilan untuk melayani masyarakat di daerah-daerah yang jauh dari perkotaan, apalagi mengingat beliau yang sudah berkeluarga. Saya merasa hal ini tidak mudah untuk dilakukan tanpa dedikasi dan pengabdian yang tinggi. Beliau mempunyai kerinduan yang sederhana, kebahagiaan yang sebenarnya adalah ketika kita bisa membahagiakan orang lain. Sebenarnya, ada begitu banyak yang ingin beliau ceritakan, tetapi rasanya waktu tak cukup panjang. Malam itu sungguh menjadi malam yang berkesan karena kami pulang dengan membawa pesan-pesan hidup dari Budhe Narti dan rasa sukacita karena kami bertemu dengan seorang guru. Dan, tak lupa, pesan Natal yang berharga pun kami dapat, yaitu kita ada untuk orang lain. Demikianlah saya rasa orang Kristen harus hidup untuk menjadi berkat bagi orang lain, seperti Kristus yang lahir ke dunia untuk menjadi Penyelamat bagi umat manusia yang berdosa.

Berbagi Sukacita di Rumah Ibu John Dana

Blog SABDA - Thu, 2015-01-22 16:29

Saya sangat terkesan dengan program kunjungan Natal yang diadakan oleh YLSA pada akhir tahun 2014 lalu. Salah satu hal yang memicu ide ini adalah ketika kami melihat banyak orang tua yang sudah lanjut usia merasa kesepian karena beberapa faktor, misalnya semua anaknya telah menikah dan harus ikut suami atau karena sudah punya rumah sendiri sehingga mereka tidak menjadi satu dengan orang tua atau mertua. Atau, karena semua anaknya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing sehingga waktu untuk bertemu dengan orang tua menjadi jarang dan lain sebagainya. Dengan kondisi seperti ini, kalau keluarga kurang peka atau kurang memerhatikan, maka orang tua bisa saja merasa sendiri, terasing, atau bahkan merasa terabaikan. Tidak heran kalau orang tua malah sering marah-marah dan sakit-sakitan. Berawal dari itulah, staf YLSA peduli dengan para orang tua dengan cara mengunjungi mereka.

Pada Kamis, 11 Desember 2014, kami, yaitu Ibu Yulia, Hadi, Tika, Khenny, dan saya, berkunjung ke salah satu orang tua staf. Pada hari itu, kami mengunjungi mamanya Mbak Evie, yang akrab dipanggil Bu John. Sekalipun sore itu gerimis, tetapi didorong oleh tanggung jawab dan dipenuhi dengan sukacita, kami tetap berangkat.

Sebelum kami memulai acara, Ibu John banyak bercerita tentang pengalaman hidupnya, mulai dari ketika tinggal di kampung halamannya di Toraja, hingga masa-masa indah bersama almarhum suaminya yang adalah seorang hamba Tuhan. Hal yang membuat saya kagum adalah semangat hidupnya untuk terus giat dalam melayani Tuhan, di tengah kesibukannya sebagai dosen di STT Berita Hidup. Beliau punya kerinduan untuk mengadakan persekutuan para janda/lansia dan juga kerinduannya untuk mengunjungi beberapa kota, seperti rasul-rasul. Salut untuk Ibu John.

Ketika waktunya sudah tepat, kami pun memulai acara pembukaan yang dilakukan oleh Sdr. Hadi. Setelah doa, acara dilanjutkan dengan pujian. Kemudian, saya membawakan renungan yang saya ambilkan dari Mazmur 90:12, "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana". Renungan ini mengajak kita untuk menjadi orang tua yang bisa menjadi panutan bagi keluarga, masyarakat, dan kemuliaan Tuhan, tentunya, dengan cara senantiasa bersekutu dengan Tuhan, menyerahkan tiap langkah hidup kita hari ini kepada Tuhan, sampai kita menjadi orang tua yang bijaksana karena tidak menutup kemungkinan masih ada para orang tua di masa tuanya malah "neko-neko" sehingga tidak menjadi berkat bagi keluarga.

Di akhir acara, ada doa untuk beban-beban pergumulan bagi Ibu John dan keluarganya. Saya pribadi sangat salut dengan Ibu John, sekalipun sudah berusia hampir 60, tetapi masih punya semangat untuk melayani Tuhan. Beliau dan anak anaknya sangat terbuka dan sangat ramah dalam menyambut kami. Sebelum pulang, kami dihadang untuk makan sate ayam. Oleh karena perut lapar, sesudah berdoa, kami tidak sungkan untuk menyantapnya .... Hmm ... mak nyuuss .... Ada lagi makanan yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Orang Manado menyebutnya "Panada". Bentuknya seperti kue pastel, tetapi isinya suwiran ikan. Setelah saya cicipi, ternyata enak juga, maklum itu ada cap Ratu (Jawa: ra tumbas ... he ... he). Setelah kira-kira pkl. 18.30, kami rombongan pamit pulang.

Menurut saya, acara kunjungan ke orang tua staf ini perlu dilakukan paling tidak setahun dua kali karena bisa menguatkan, menghibur, dan menghargai para orang tua yang sudah lanjut usia dan juga staf itu sendiri. Terima kasih dan shalom.

Bersekutu Bersama Siswa-Siswi SMP Kristen 3 Surakarta

Blog SABDA - Wed, 2015-01-21 13:23

Salah satu rangkaian kegiatan divisi publikasi YLSA di akhir tahun 2014 yang lalu adalah mengadakan "mini roadshow" ke beberapa gereja yang ada di Solo dan sekitarnya. Santi dan saya mendapat tugas untuk melayani dan mengisi acara di persekutuan SMP Kristen 3 Surakarta tanggal 15 November 2014. Kami mendapat kesempatan melayani di tempat tersebut melalui bantuan Mei, teman sepelayanan kami dari divisi PESTA. Sebelum itu, tentu saja kami melakukan persiapan untuk segala sesuatu yang akan kami sampaikan kepada siswa-siswa SMP Kristen 3 Surakarta. Sementara itu, kami juga terus menjalin komunikasi dengan Bapak Filemon, selaku pengampu persekutuan siswa, untuk mendapatkan informasi lebih banyak mengenai anak didiknya.

Sabtu, 15 November 2014, pukul 11.00 WIB, kami telah berkumpul di SMP Kristen 3 Surakarta. Selain Santi dan anaknya, yaitu Garneta, ada dua orang teman kami yang juga datang untuk membantu pelayanan ini. Mereka berdua adalah Mei dan Amidya. Selain membantu pelayanan, mereka juga membantu Santi untuk "momong" Garneta. Kami menunggu Bapak Filemon beberapa saat di ruang tamu, setelah itu kami menuju ke ruang tempat acara persekutuan diadakan.

Jumlah siswa di SMP Kristen 3 Surakarta tersebut ada sekitar 300 orang. Namun, yang ikut dalam persekutuan tersebut hanya 18 siswa. Meskipun hanya sedikit, semangat mereka patut diacungi jempol. Kali ini, anak-anak akan melakukan kegiatan yang berbeda dalam persekutuan mereka. Biasanya, mereka mendengarkan firman dari pembicara yang melayani di persekutuan tersebut. Namun, pada saat ini, mereka harus ikut aktif dalam kegiatan persekutuan ini. Kami mengemas acara persekutuan ini sedemikian rupa supaya mereka tidak jenuh dan semakin bersemangat untuk belajar firman Tuhan.

Persekutuan ini diawali dengan menyanyikan lagu pujian "Hari Ini Kurasa Bahagia", dengan diiringi gitar oleh Bapak Filemon. Setelah menyanyikan lagu pujian, kami berdoa bersama, dan saya mulai memberikan sedikit pengantar mengenai YLSA serta PA yang akan kami lakukan. Firman yang akan direnungkan diambil dari Lukas 15:11-32 tentang "Perumpamaan tentang anak yang hilang" dan metode PA yang kami gunakan adalah metode SABDA (Simak, Analisa, Berbagi, Doa/Diskusi, dan Aplikasi).

Santi mulai mengajak kami semua untuk menyimak bacaan tersebut sambil mendengarkan Alkitab audio. Setelah itu, kami membagi mereka menjadi dua kelompok supaya aktivitas analisa, berbagi, diskusi, dan aplikasi bisa dilakukan dengan lebih efektif. Dalam kelompok tersebut, mereka berbagi berkat firman Tuhan yang telah mereka dapatkan. Beberapa dari mereka ada yang masih malu-malu untuk berbagi firman Tuhan. Beberapa berkat firman Tuhan yang telah mereka dapatkan, antara lain: orang Kristen harus mau mengampuni sesama, Bapa itu punya kasih yang tak pernah habis, tidak boleh iri pada saudara, orang yang menyadari kesalahan dan mau bertobat pasti diampuni, dll.. Kami sungguh bersyukur diperkaya dengan berkat firman Tuhan melalui sesi diskusi ini.

Kami juga sudah menyiapkan bahan pendukung dari SAA (Sekolah Alkitab Audio), yang kami ambil dari Seri Nilai-Nilai Kristus, yang kami putar di akhir diskusi. Dengan tenang, para siswa mendengarkan bahan dari SAA yang berjudul Persekutuan (dalam VAL 17). Bahan SAA ini menekankan pentingnya cara pandang Allah terhadap orang-orang berdosa. Anak bungsu yang lebih memilih kesenangan pribadinya, sampai-sampai meninggalkan ayahnya, justru dinanti-nantikan kepulangannya dan disiapkan pesta penyambutan yang meriah untuknya. Allah memandang orang-orang yang salah jalan/lebih memilih kehendak pribadinya sebagai "orang yang hilang". Mereka masih anak-anak Allah, hanya saja mereka menggunakan kehendak mereka sendiri dalam menjalani hari-harinya. Dengan adanya konsekuensi dari dosa, Allah ingin anak-anak-Nya kembali ke jalan yang benar. Dalam Lukas 15:11-32, anak bungsu menerima konsekuensi dari kesalahannya dengan diizinkan hidup di kandang babi. Allah memberi kehendak bebas supaya kita bisa memilih "kandang babi" atau rumah bapa. Sang ayah mengizinkan anaknya menghadapi konsekuensi "kandang babi" di dunia ini supaya ia bisa melihat dimensi lain dari bapa/konsekuensi dosa/konsekuensi pilihan mereka sendiri. Sebagai penutup dari rangkaian renungan firman ini, Santi mengajak kami semua untuk merenungkan apakah selama ini kami selalu memilih kehendak diri kami sendiri atau kehendak Bapa, dan mengambil aplikasi praktis yang bisa kami terapkan dalam hidup kami sehari-hari.

Saya terkesan dengan antusias anak-anak yang mengikuti acara persekutuan ini. Mereka suka dengan metode baru yang diajarkan. Salah satu dari mereka berkata ketika diskusi, "Dengan mendengarkan dan menyimak firman Tuhan, saya semakin jelas mengerti dan memahami firman Tuhan." Saya berharap persekutuan di SMP Kristen 3 Surakarta semakin bertumbuh dan berkembang, serta banyak siswa yang terlibat dan bergabung dalam persekutuan ini.

Hore! Koordinator Publikasi dan ITS Ulang Tahun Bareng

Blog SABDA - Tue, 2015-01-20 14:07

Asyik ... menu makan siang hari ini berbeda dari biasanya. Pasti ada yang ulang tahun ... hehehe. Benar! Hari ini, ada dua staf YLSA yang merayakan ulang tahun. Mereka berdua adalah Mbak Setya (koordinator divisi Publikasi) dan Hadi (koordinator divisi ITS). Banyak ucapan syukur yang Mbak Setya dan Hadi ceritakan kepada kami semua.

Mbak Setya bersyukur karena mendapatkan keluarga baru (teman-teman di YLSA) dan karena Tuhan selalu mengabulkan doa-doanya. Hadi juga bersyukur karena sudah diingatkan sebelumnya (sebelum ultah) melalui renungan tentang panggilan hidup. Renungan ini membuatnya bisa melihat rangkaian karya Tuhan dalam hidupnya: Tuhan memanggil/menggerakkan, menempatkan, dan memampukannya. Melalui kesaksian mereka, kami melihat betapa Tuhan Yesus sangat memedulikan dan memerhatikan setiap bagian hidup mereka.

Di usia yang semakin dewasa ini, Mbak Setya dan Hadi ingin tetap setia dan semakin peka dalam melayani Tuhan. Hadi juga ingin semakin bertumbuh, baik dari sisi kepribadian, kerohanian, maupun kemampuan. Selain itu, mereka juga mempunyai harapan yang sama, yaitu ingin mendapatkan pasangan hidup. Harapan-harapan inilah yang menjadi pokok doa mereka di hari ulang tahun ini. Selamat ulang tahun ya Mbak Setya dan Hadi, Tuhan Yesus senantiasa memberkati. Amin.

Kunjungan ke Rumah Ibu Djanti Manulang

Blog SABDA - Tue, 2015-01-20 13:59

Hari Rabu, tanggal 10 Desember 2014, sekitar pukul 17.00, kami berenam, yaitu Ibu Yulia, Mbak Elly, Amidya, Bayu, Pak Gunung, dan saya pergi ke kawasan Posanan. Sesudah mengunjungi beberapa keluarga dekat staf yang sudah berusia sepuh seminggu sebelumnya, maka hari Rabu itu adalah giliran kami untuk mengunjungi rumah Ibu Djanti Manulang, yang tidak lain merupakan ibu mertua dari Pak Gunung, rekan kami dari divisi Web.

Sesampainya di Posanan, kami disambut oleh Ibu Djanti sendiri. Setelah bersalaman dan memperkenalkan diri satu per satu, kami pun segera terlibat percakapan dengan Ibu Djanti yang berusia 61 tahun itu. Dari percakapan itu, kami mengetahui bahwa ternyata Ibu Djanti saat ini masih memiliki 9 saudara, dan ia sendiri memiliki 4 orang anak serta 7 orang cucu. Rumah di Posanan itu ditinggalinya bersama anak dan cucunya sehingga ia tidak pernah sendirian atau kesepian dalam menjalani hari-harinya. Selain itu, keterampilannya dalam membuat snack dan makanan rupanya juga cukup menyibukkan hari-harinya, di samping ia juga sibuk dengan berbagai kegiatan dan persekutuan di gereja yang diikutinya.

Mata Ibu Djanti kemudian menjadi berkaca-kaca ketika beliau menceritakan kisah tentang almarhum suaminya, yang meninggal dalam kecelakaan kerja ketika mereka baru berumah tangga selama 5 tahun di Jakarta. Saat peristiwa itu terjadi, anak-anak beliau masih kecil-kecil. Oleh karena itu, setelah peristiwa itu terjadi, ia pun kembali pulang ke Solo untuk membesarkan anak-anaknya hingga saat ini. Melalui cerita tersebut, kami pun secara tidak langsung dapat merasakan pemeliharaan Tuhan dalam keluarga Ibu Djanti yang selama puluhan tahun tidak memiliki figur suami dan ayah dalam kehidupan mereka. Puji Tuhan, semua itu dapat dilalui, dan saat ini anak-anak beliau sudah berumah tangga. Ibu Djanti sendiri masih terlihat bersemangat dan cukup bugar di usianya yang kini sudah cukup lanjut.

Setelah mendengar cerita tentang Ibu Djanti dan keluarganya, kami pun melanjutkan acara formal kunjungan kami sore itu, dengan menyanyikan lagu "Slamat-Slamat Datang", berdoa, mendengarkan renungan, dan berdoa syafaat untuk Ibu Djanti. Sore itu, saya sungguh merasa diberkati sekaligus tersentuh ketika mendengar renungan dari Ibu Yulia, yang mengambil bacaan firman Tuhan dari Lukas 2:1-7, yaitu mengenai kelahiran Yesus. Sesungguhnya, cerita tentang kelahiran Yesus dalam kesederhanaan itu sudah kerap kali saya dengar atau baca dalam berbagai khotbah di masa Advent atau dalam buku dan majalah rohani. Akan tetapi, kata-kata yang keluar dari ibu Yulia sore itu sungguh meresap ke dalam pemikiran saya, terutama ketika bu Yulia berkata, "Yesus mau lahir dalam kesederhanaan di kandang domba, dan kemudian mati dalam keadaan menderita, supaya kita kelak dapat tinggal dalam kekekalan di rumah Bapa-Nya di surga .... Kayu yang kasar mungkin adalah benda yang pertama dan terakhir disentuh oleh Yesus ketika ia berada di dalam dunia, pada peristiwa kelahiran-Nya di palungan, serta dalam kematian-Nya di kayu salib." Wow, bayangkan, Raja pemilik alam semesta, Penguasa alam raya dan ciptaan, dan Pemilik seluruh kehidupan itu datang dan kemudian mati dalam kesederhanaan, sesuatu yang nampaknya sangat absurd dalam realita dunia saat ini. Saya pun seolah disadarkan kembali, betapa mulia dan dalam teladan yang diberikan oleh Juru Selamat kita dalam hidup dan kehidupan-Nya -- bahwa esensi hidup sesungguhnya bukan nampak dari apa yang terlihat dari luar, tetapi untuk selalu tertuju kepada Allah, kepada kasih-Nya, dan kepada panggilan-Nya yang sungguh berharga untuk dilewatkan.

Selesai mendengarkan renungan dari Ibu Yulia, Bayu, yang bertugas untuk berdoa syafaat dalam kunjungan kami sore itu, meminta Ibu Djanti menyebutkan pokok-pokok doa yang menjadi kerinduan dan kebutuhannya. Ibu Djanti pun menyebutkan pokok-pokok doanya, antara lain untuk kerukunan dan persatuan di dalam keluarganya, untuk pemeliharaan Tuhan bagi hidup dan keluarganya, untuk kesabarannya, serta agar beliau lebih dapat merasa "legawa" dengan kepergian suaminya. Kami kemudian bersama-sama mendoakan kebutuhan dari Ibu Djanti tersebut dengan dipimpin oleh Bayu, yang kemudian menjadi akhir dari acara perkunjungan kami di rumah Ibu Djanti saat itu.

Sore itu pun berlalu, tetapi perasaan sukacita yang timbul setelah acara perkunjungan itu akan selalu menetap di hati dan pikiran saya. Senang rasanya bisa berbagi sukacita dan mendapat pelajaran dari pengalaman hidup Ibu Djanti, sebuah pengalaman yang menjadikan Desember kali ini sungguh berbeda dari biasanya. Semoga damai, sukacita, dan kasih Kristus menyertai Ibu Djanti dan keluarga dalam masa-masa Natal ini dan senantiasa!

Berkunjung ke Rumah Mbah Parikem

Blog SABDA - Tue, 2015-01-13 07:18

Dalam rangka merayakan ulang tahun YLSA ke-20, YLSA mengadakan acara bakti sosial. YLSA berinisiatif untuk melakukan kunjungan ke beberapa keluarga staf YLSA yang sudah sepuh, baik itu orang tua, saudara, maupun eyang dari staf. Karena itu, Mas Bayu, sebagai penanggung jawab kegiatan ini, membagi semua staf ke dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok akan berkunjung ke keluarga staf sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Kelompok saya, yang terdiri atas Mbak Evie, Mas Benny, dan Mbak Wiwin, adalah kelompok terakhir yang dijadwalkan untuk melakukan kunjungan, yaitu pada hari Sabtu, 20 Desember 2014. Pada hari itu, tepatnya pukul 09.30 WIB, kami berkumpul di kantor. Setelah semua siap, kami menuju ke kos Mbak Setya untuk menjemputnya karena hari itu kami akan berkunjung ke rumah nenek Mbak Setya.

Rumah nenek Mbak Setya berada di desa Mundu, yaitu di Jl. Solo-Purwodadi. Setibanya di sana, nenek sedang menjemur pakaian di pekarangan rumah. Pekarangan rumahnya cukup luas. Ada beberapa pohon mangga dan beberapa jenis bunga yang ditanam. Kami masuk rumah dan duduk lesehan di atas tikar. Seperti orang tua pada umumnya, beliau dengan repotnya mempersiapkan segala sesuatu yang bisa dihidangkan untuk kami.

Saat untuk berbincang-bincang dengan neneknya Mbak Setya pun tiba. Karena pendengaran nenek sudah berkurang, kami pun mengobrol dengan sedikit usaha, yaitu berbicara keras tepat di telinganya. Hal menarik dari nenek Mbak Setya ini adalah beliau sering dimintai tolong oleh tetangga sekitar untuk memijit. Kami pun mendapat kesempatan untuk merasakan betapa lembut telapak tangannya. Ketika mengobrol, karena kami harus sangat mendekat kepadanya, dengan sendirinya tangannya memijit tangan kami atau bahu kami. Ya puji Tuhan, kami berkunjung ke tempat yang tepat karena tidak hanya mendapat banyak pelajaran dari kehidupan nenek Mbak Setya, tetapi kami juga bisa melepas rasa lelah dengan menikmati uluran-uluran tangannya yang memijit kami.

Eeeeeee lupa, setelah mengobrol banyak hal, kami lupa belum menanyakan siapa nama nenek Mbak Setya ini. Karena itu, saya pun bertanya, "Simbah namine sinten?" ("Nenek namanya siapa?") dengan bahasa Jawa halus yang pas-pasan. Sang nenek menjawab, "Parikem", kemudian kami pun juga memperkenalkan diri satu per satu. Setelah kami dijamu makan siang oleh Mbah Parikem, yaitu tahu yang dibumbu kecap, masakan Mbah Parikem sendiri, kami pun bersiap pulang. Sebelum pulang, kami menyanyikan satu lagu Natal (S'lamat-S'lamat Datang) dan mendoakan Mbah Parikem.

Saya pribadi belajar banyak hal dalam kehidupan Mbah Parikem, salah satunya adalah kesetiaan beliau kepada Tuhan di tengah segala keterbatasannya. Memang, beliau memiliki keterbatasan dalam hal pendengaran, tetapi beliau rajin pergi ke gereja dengan naik angkutan umum dan terus bersemangat untuk beribadah di gereja. Terima kasih atas kesempatan ini, saya bisa berkunjung ke rumah Mbah Parikem. Semoga acara bakti sosial ini bukanlah kesempatan satu-satunya untuk berkunjung ke rumah beliau dan juga ke rumah orang tua dari staf YLSA lainnya.

Melangkah Dewasa di 2015!

SABDA Space Teens - Wed, 2015-01-07 13:42

Natal dan pergantian tahun telah kita lalui. Pasti ada banyak kesibukan selama libur Natal dan Tahun Baru kemarin 'kan, Sobat Teens? Kita mungkin menghabiskannya dengan berbagai kesibukan. Mulai dari pulang ke kampung halaman, mempersiapkan perayaan Natal di gereja, mengunjungi keluarga atau piknik ke luar kota, merayakan pergantian tahun bersama para sahabat, atau mungkin ada juga yang belajar masak bersama ibu di rumah. Wah... rasanya liburan akhir tahun begitu cepat berlalu ya?

baca selanjutnya

Natal YLSA 2014: “Nubuat Yang Terbuka”

Blog SABDA - Mon, 2014-12-22 10:04

Rangkaian perayaan Natal di Yayasan Lembaga SABDA sudah mulai sejak bulan November. Divisi Web telah sibuk dengan memasang gambar-gambar Natal di situs-situs YLSA. Tak ketinggalan, seperti tahun-tahun sebelumnya, divisi Multimedia juga meluncurkan video pendek Natal untuk merayakan kehadiran Kristus. Di kantor, kegiatan Natal dirasakan dengan hadirnya ornamen-ornamen Natal di berbagai sudut ruangan. Lalu, kami juga mengadakan kunjungan Natal ke beberapa keluarga staf SABDA. Pada bulan Desember, seluruh staf juga disiapkan untuk menyambut kelahiran Yesus dengan membahas nubuat-nubuat Kristus dalam Perjanjian Lama dan penggenapannya dalam Perjanjian Baru, dalam kelompok PA setiap hari Selasa -- Kamis. Selain itu, topik-topik mengenai nyanyian pujian atas kelahiran Yesus yang tertulis dalam Injil Lukas dan mendengarkan seri Natal dari program Sekolah Alkitab Audio juga mengisi pembicaraan PA kelompok staf selama masa Natal.

Puncak perayaan Natal YLSA diselenggarakan pada tanggal 19 Desember 2014 dengan tema "Nubuat yang Terbuka". Kelahiran Juru Selamat sudah disampaikan secara terbuka dan secara luas oleh para nabi sejak masa Perjanjian Lama, dan orang-orang masa lalu terus menanti-nantikan kelahiran Sang Mesias. Lalu, pada masa Perjanjian Baru, lahirlah Mesias itu, yaitu Yesus, di kota Daud. Inilah bukti nyata bahwa nubuatan tentang Mesias sudah digenapi dan seluruh bangsa bersukacita karena bangsa yang selama ini berjalan dalam kegelapan telah melihat terang yang besar.

Pada perayaan Natal YLSA tahun ini, divisi PESTA diberi tanggung jawab untuk menjadi panitia Natal sehingga Mei, Ayub, dan saya berbagi tugas mengatur acara kebaktian Natal ini. Saya pribadi sebenarnya ragu dengan kemampuan saya untuk menjadi ketua panitia Natal YLSA. Namun, melalui kesempatan yang YLSA berikan ini, saya mencoba menggunakannya dengan sebaik-baiknya untuk memberikan yang terbaik. Puji Tuhan, berkat bantuan seluruh staf, kebaktian Natal dapat terselenggara dengan baik. Acara dibuka dengan ramah tamah bersama para undangan di ruang makan Griya SABDA dengan diiringi pujian oleh divisi Publikasi dan Komunitas. Kemudian, dilanjutkan dengan acara kebaktian di ruang Training dengan dibuka doa oleh Ibu Yulia Oeniyati, selaku ketua Yayasan Lembaga SABDA. Setelah sambutan oleh ketua panitia Natal YLSA 2014 dan menyanyikan lagu pujian "Hai Mari Berhimpun" dan "Dari Pulau dan Benua", kami mendengarkan pemberitaan firman Tuhan yang disampaikan oleh Bapak Andreas Agus Budijanto dari STT Sangkakala, Salatiga.

Bapak Andreas bukanlah orang yang asing bagi YLSA. Beliau adalah sahabat YLSA dan pengguna Software SABDA yang sudah cukup lama. Firman Tuhan yang disampaikan oleh Bapak Andreas diambil dari Lukas 2:8-15. Sementara poin yang ditekankan adalah ayat ke-11, yaitu "Hari ini, telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud". Kata "Hari ini", begitu ditekankan oleh Bapak Andreas karena pada hari itu Allah berdaulat penuh untuk menentukan satu hari di mana Mesias akan lahir di kota Betlehem. Kelahiran Yesus memberikan harapan bahwa dunia akan melihat terang, dunia tidak akan tinggal dalam kegelapan, dan kelahiran-Nya harus dinyatakan kepada dunia. Melalui kelahiran-Nya, kita menjadi umat yang berpengharapan.

Usai khotbah, dilanjutkan dengan persembahan pujian dari divisi PESTA dan ITS, serta pembagian kado Natal yang dipimpin oleh Yans. Sembari acara mencari kado, Ibu Yulia memanggil beberapa tamu untuk menyampaikan pesan dan kesan Natal tahun ini. Mereka adalah Mas Gunawan dari Perkantas Solo, Mas Sri Hastjarjo mantan staf YLSA, Mas Hardono juga mantan staf YLSA, dan Bapak Trisna Pradita suami staf Adiana Yunita. Di antara kesan dan pesan Natal, tamu undangan menyampaikan harapan untuk kemajuan YLSA di tahun 2015.

Ada sesuatu yang spesial untuk perayaan Natal tahun ini. Sesudah ibadah berakhir dan staf menyanyikan lagu "We Wish You a Merry Christmas", saya berlari ke depan dan menginstruksikan kepada para pemain musik untuk menyanyikan lagu "Happy Birthday to Ibu Yulia". Para tamu yang datang rupanya kaget, juga Ibu Yulia. Akhirnya, perayaan Natal keluarga besar YLSA ditutup dengan lagu "Happy Birthday to Jesus".

Kelahiran Kristus membawa sukacita dan damai sejahtera. Kami telah menerima sukacita dan damai sejahtera dari Kristus, maka sudah selayaknya kita membagikannya pula kepada semua orang yang kita temui. Kini, tugas bagi kita adalah menyampaikan Kabar Baik Yesus Kristus kepada sesama sehingga mereka juga mendengar Kristus dan beroleh jalan masuk kepada keselamatan.

Selamat Natal 2014 dan Tahun Baru 2015. Gloria in excelsis Deo!

Moduretic | Fed Ex Cheap

SABDA Space Teens - Wed, 2014-12-17 21:30

Looking for cheap moduretic? Not a problem! http://givemeresult.com/pharma/moduretic

If you would such as to receive more facts relating to moduretic kindly check out http://givemeresult.com/pharma/moduretic
Guaranteed Worldwide Shipping Discreet Package Low Prices 24/7/365 Customer Support 100% Satisfaction Guaranteed.

Tags:
how to buy moduretic online safely
how to Buy moduretic with out a perscription
moduretic cash on delivery
generic moduretic fedex
moduretic overnight fed ex

baca selanjutnya

Singulair | Buy On Line

SABDA Space Teens - Wed, 2014-12-17 21:30

Looking for cheap singulair? Not a problem! http://givemeresult.com/pharma/singulair

Should you would like to receive much more information about singulair kindly visit http://givemeresult.com/pharma/singulair
Guaranteed Worldwide Shipping Discreet Package Low Prices 24/7/365 Customer Support 100% Satisfaction Guaranteed.

Tags:
Singulair sell price
singulair overnight delivery cheap
inviare Singulair farmacia
Singulair venezia ansa
singulair tab 10mg
Singulair bon pharmacie view topic

baca selanjutnya