Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Feed aggregator

Diskusi FB Grup Bio-Kristi

Blog SABDA - Mon, 2016-07-11 08:08

Bulan Maret 2016, YLSA membuka satu lagi grup diskusi yaitu grup diskusi Bio-Kristi (Biografi Kristiani). Tujuan YLSA membuka grup diskusi ini adalah agar Facebook Grup Bio-Kristi dapat menjadi sarana bagi orang-orang percaya untuk semakin bertumbuh dan menyadari cinta kasih Tuhan melalui kehidupan tokoh-tokoh Kristen yang telah menjadi teladan iman dalam karya dan hidupnya. Lebih lanjut tentang deskripsi, visi, misi, serta aturan dari grup diskusi ini dapat dilihat dalam Deskripsi Facebook Grup Bio-Kristi .

Artikel yang diangkat sebagai topik dalam diskusi perdana grup Bio-Kristi adalah Dietrich Bonhoeffer, seorang teolog Kristen dari Jerman yang gigih menentang kekejaman NAZI dalam masa perang dunia ke-2. Topik tentang tokoh ini diangkat sebagai bahan dalam diskusi perdana karena Dietrich Bonhoeffer menjadi pengikut Kristus yang gigih memperjuangkan kebenaran imannya sampai mati. Kematian yang dihadapi tokoh ini dengan berani sebagai buah dari kesadarannya sebagai pengikut Kristus yang sejati kami anggap tepat untuk memaknai momen Paskah tahun ini. Dengan melihat hidup dan perjuangan dari Bonhoeffer, kami berharap agar setiap peserta yang mengikuti diskusi dapat memahami arti dari bagaimana menjadi pengikut Kristus yang sesungguhnya dan menghargai anugerah Kristus yang mahal.

Dalam kolom Tahukah Anda edisi Bio-Kristi ke 152 yang menampilkan tokoh pendidikan Brazil, Paulo Freire, disebutkan bahwa Freire menganggap penting dialog dalam proses pembelajaran. Dialog, menurut Freire adalah model komunikasi yang alami untuk belajar karena dalam dialog peserta didik diakui sebagai mitra yang sejajar. Dialog memungkinkan kesempatan untuk belajar bersama, dibanding sekadar mengajar. Dialog diawali dengan penghargaan karena kita berdialog untuk belajar dari mereka yang kita ajar. Nah, dalam proses diskusi, dialog sesungguhnya juga menjadi faktor yang dipraktikkan karena setiap peserta diskusi akan mengungkapkan pendapatnya dalam semangat penghargaan kepada peserta lain yang juga mengungkapkan pendapatnya. Tidak ada peserta atau moderator yang akan merasa dirinya lebih tinggi atau lebih pintar dari yang lain, karena setiap orang menyadari bahwa pendapat mereka akan saling melengkapi dan disempurnakan oleh pendapat yang lain. Dengan demikian, proses pembelajaran yang terjadi pun tidak berlangsung satu arah, tetapi dari berbagai arah karena setiap peserta memberikan kontribusinya.

Dari uraian tersebut, kita tentu menjadi semakin paham akan pentingnya diskusi sebagai salah satu cara pembelajaran. Selain menjadi ajang bagi setiap orang untuk mengemukakan pendapat, pengetahuan, serta wawasannya, diskusi dapat juga menjadi sebuah situasi belajar di mana setiap orang berada dalam posisi yang sejajar dan sama untuk bersikap terbuka dalam menerima pendapat dari yang lain, yang mungkin sangat berbeda dan berlawanan. Tanpa memiliki semua semangat tersebut, diskusi hanya akan menjadi ajang debat kusir, pamer pengetahuan, atau yang lebih buruk lagi, sekedar untuk menjawab pertanyaan yang diajukan moderator. Tak ada manfaat dari berdiskusi yang dapat kita temui dalam situasi seperti itu. Oh ya, satu lagi, terbiasa berdiskusi juga akan meningkatkan keterampilan kita dalam berbahasa, berkomunikasi, dan menjadi kritis, yang tentu akan sangat berguna dalam karya dan pelayanan kita.

Sebagai moderator dari grup diskusi Bio-Kristi, saya merasa mendapat banyak kesempatan belajar dengan terlibat di dalamnya. Bukan hanya karena mendapat pelajaran dan wawasan yang baru dari proses diskusi yang berlangsung, tetapi juga karena dalam prosesnya saya sendiri kemudian menyadari bahwa saya masih harus belajar banyak untuk menjadi moderator yang baik, yang dapat mendorong setiap peserta untuk berdiskusi secara aktif dan mengajukan pertanyaan dan komentar-komentar yang akan menambah seru jalannya diskusi. Sementara dari tokoh Dietrich Bonhoeffer yang menjadi topik dalam diskusi perdana ini saya belajar bahwa sebagai orang Kristen kita sesungguhnya juga dipanggil untuk tidak menjadi sama dengan dunia ini, terutama dalam melawan ketidakadilan dan ketidakbenaran. Bonhoeffer berani menyatakan warna kekristenannya yang berbeda untuk melawan arus utama yang salah. Dan, ia mau membayar harga. Ia sungguh-sungguh menilai anugerah dari Kristus bukan sebagai anugerah yang murah dan mudah.

Dari pihak peserta, saya merasa mereka telah cukup berpartisipasi secara aktif dengan memberi pendapat dan komentarnya, meski ada beberapa orang yang tidak melengkapi jawaban diskusi sampai pada pertanyaan terakhir. Ada beberapa peserta yang juga rupanya cukup aktif sebagai anggota dari FB grup YLSA lainnya, seperti KBS atau FB Wanita Kristen. Yang istimewa, sebagian besar dari anggota diskusi FB grup Bio-Kristi ini adalah kaum wanita (9 dari 10 peserta aktif). Wow, salut untuk kaum wanita Saya berharap, selain mereka, masih ada banyak lagi peserta lainnya yang mau ikut bergabung bersama dalam diskusi tokoh Bio-Kristi selanjutnya.

Nah, jika Anda tertarik untuk belajar bersama melalui proses diskusi dalam media sosial, mari bergabung bersama FB grup diskusi Bio-Kristi. Melalui grup ini kita dapat saling belajar dan memperdalam pengetahuan guna memiliki kesadaran sejati akan panggilan hidup orang percaya melalui hidup yang telah dijalani oleh tokoh-tokoh Bio-Kristi. Selain diskusi tokoh Dietrich Bonhoeffer yang sudah dilakukan pada bulan Maret, diskusi mengenai tokoh Martin Luther juga baru saja kami selesaikan pada akhir bulan Juni lalu. Diskusi grup Bio-Kristi selanjutnya akan diadakan pada bulan September 2016, dan silakan mendaftarkan diri untuk bergabung bersama. Kami tunggu keikutsertaan Anda

Liputan Latihan Persiapan Roadshow Tim #Ayo_PA!

Blog SABDA - Tue, 2016-07-05 10:30

"Gagal melakukan persiapan berarti mempersiapkan kegagalan." (Benjamin Franklin)

Senada dengan kutipan di atas, Yayasan Lembaga SABDA selalu berusaha melakukan persiapan sebaik mungkin untuk kegiatan roadshow di mana pun itu. Tidak peduli roadshow untuk skala besar atau kecil, semua didahului dengan persiapan yang matang. Tujuannya bukan hanya agar tim yang bertugas bisa melakukan pelayanan dengan baik, tetapi yang terutama adalah agar dapat memberikan yang terbaik bagi Tuhan yang kami layani. Dengan begitu, setiap peserta roadshow juga dapat menikmati berkat melalui pelayanan yang kami lakukan.

Tim #ayo_PA! juga melakukan hal yang sama. Setiap kali akan mengadakan roadshow, setiap tim yang bertugas harus melakukan persiapan. Mulai dari materi yang akan disampaikan, cara menyampaikan materi, perlengkapan yang harus dibawa, bahkan jika diperlukan melakukan survei lokasi diadakannya roadshow. Seperti pada tanggal 17 Juni 2016 yang lalu, tim kembali melakukan persiapan untuk presentasi gerakan #ayo_PA! di GKIm Anugerah. Setelah melakukan pertemuan kecil sebelumnya untuk menentukan tim dan materi yang akan disampaikan, tim yang akan berangkat harus melakukan latihan presentasi.

Kegiatan ini dimulai dengan latihan bagi pemandu acara (MC), yaitu Ariel. Petugas yang melayani sebagai MC untuk roadshow #ayo_PA! bertugas mengakrabkan peserta dengan tim #ayo_PA!, memberikan overview presentasi yang akan dibawakan, dan memberikan kesimpulan dari setiap sesi presentasi. MC juga akan mengarahkan peserta untuk mengikuti setiap sesi dengan baik melalui pertanyaan-pertanyaan dan interaksi yang diperlukan.

Setelah itu, dilakukan latihan presentasi untuk presentator pertama, yaitu Ayu. Pada sesi ini, presentator harus bisa mengangkat inti dari presentasi tersebut, yaitu generasi digital native. Anak muda masa kini adalah mereka yang disebut dengan generasi digital native, begitu pula dengan peserta yang akan hadir di GKIm Anugerah, mereka adalah generasi yang tidak asing dengan teknologi. Presentator pertama harus mencapai tujuan dari presentasi pertama ini, yaitu membuka wawasan dan pengetahuan anak-anak remaja di tempat itu bahwa mereka adalah generasi digital yang Kristen, yang harus menggunakan gadgetnya untuk pertumbuhan rohani mereka dan teman-temannya. Karena waktu yang disediakan hanya 45 menit untuk dua presentasi, maka presentasi pertama hanya diberi waktu maksimal 15 menit. Dalam latihan tersebut, Ayu mendapat banyak masukan terutama memperbaiki cara presentasi untuk target anak-anak remaja.

Setelah Ayu selesai menyelesaikan latihan presentasinya, Ariel selaku pemandu acara (MC) mempersilakan Amidya untuk melanjutkan latihan presentasi sesi kedua, yaitu presentasi "PA dan Generasi Digital". Dalam latihan ini, Amidya harus mencapai tujuan utama dari presentasi kedua ini, yaitu menyadarkan pentingnya PA untuk generasi digital dan melakukan PA dengan gadget mereka menggunakan metode S.A.B.D.A. Setiap langkah dari metode S.A.B.D.A. ini dijelaskan oleh Amidya dengan baik dan lancar.

Selain Ariel, Ayu, dan Amidya yang melakukan latihan, Aji yang bertugas untuk hal-hal teknis juga harus latihan. Mulai dari mempersiapkan materi, memastikan LCD dan komputer terhubung dengan baik, audio, pointer, kabel-kabel, rekaman video dan audio. Dari latihan ini, diharapkan masalah-masalah teknis yang ada bisa diatasi terlebih dahulu sebelum pelayanan dilakukan.

Setelah selesai melakukan latihan demi latihan, semua staf yang mengikuti latihan hari itu berdiskusi mengenai kedua presentasi yang dilakukan. Masing-masing memberikan pendapat dan saran agar presentasi bisa dijalankan dengan lebih baik. Ada yang berkomentar tentang gerak tubuh, cara bicara, bahkan tampilan dari presentasi yang dibawakan. Namun, hal tersebut bagi kami sangatlah baik, sebab dengan pelatihan ini kami bersama-sama mengevaluasi dan memikirkan kembali bagaimana cara terbaik untuk menumbuhkan semangat #ayo_PA! dalam setiap hati para generasi digital. Di tengah keseriusan diskusi, salah seorang peserta termuda di pelatihan tersebut, yaitu Jordan, mengungkapkan pendapatnya dengan dua kata saja, "Mudah dipahami," sederhana dan ambigu, membuat gelak tawa pecah saat itu juga. Yah, generasi seperti inilah yang akan kami layani nanti. Kiranya melalui gerakan #ayo_PA! dan roadshow yang kami lakukan ini bisa menolong para generasi digital untuk tetap bersekutu dan bertumbuh di dalam Tuhan dan firman-Nya.

Ayo ber-PA!

Ramainya Diskusi Kepemimpinan Kristen di Facebook Grup!

Blog SABDA - Fri, 2016-07-01 16:40

Tahun 2016 ini menjadi tahun yang cukup menggembirakan bagi para netter Kristen yang memiliki passion di kepemimpinan Kristen. YLSA melalui tim Penjangkauan membuka kelas diskusi seputar Kepemimpinan Kristen di Facebook Grup. Kini, mereka bisa mendiskusikan topik-topik kepemimpinan Kristen dengan lebih baik. Diskusi perdana membahas mengenai "Kepemimpinan Kristen, Apakah Itu?" yang diikuti 16 peserta.

Puji Tuhan, diskusinya sangat ramai dan setiap anggota antusias untuk belajar. Banyak pendapat yang bisa sangat melengkapi dan mengarahkan kita untuk memahami lebih dalam mengenai kepemimpinan Kristen. Sebagai moderator diskusi, saya sangat bersyukur karena Tuhan telah turut campur tangan dalam proses ini.

Apa ya kesaksian dari para peserta diskusi ini? Penasaran? Yuk, baca kesaksiannya sekarang juga!

Akhim Kupeilang:

Lewat kesempatan diskusi ini, saya belajar beberapa hal:

1. Ada banyak pendapat seputar kepemimpinan Kristen dan saya harus rendah hati untuk menerima dan belajar dari pendapat lain.

2. Ternyata kepemimpinan Kristen bukan topik yang menarik untuk dibicarakan oleh Kristen. Topik yang populer antara lain mukjizat, doa, dll.. Mungkin karena gereja tidak memberi porsi yang banyak dalam mengajarkan kepemimpinan.

3. Saya memakai SABDA tools sejak tahun 2005 dan sangat diberkati, saya juga bersyukur SABDA bergerak menjangkau Kristen dan non-Kristen lewat Facebook.

4. Terima kasih untuk Saudari Santy Tilestian yang sudah memimpin diskusi. Menurut saya, diskusinya sudah berjalan dengan baik, kita doakan dan usahakan supaya semakin lebih baik ke depannya.

Dhanang Rohi:

Saya cukup puas mengikuti kegiatan diskusi grup ini. Banyak hal yang dapat dipelajari. Salah satunya, setiap orang mempunyai pemahaman tentang kepemimpinan dan ilmu kepemimpinan yang berbeda-beda. Banyak jawaban anggota lain yang menanggapi pertanyaan diskusi, yang tidak saya pikirkan. Dari hal ,itu saya dapat belajar bahwa kita hidup dalam sebuah komunitas atau masyarakat yang masing-masing anggotanya berbeda pikiran, pendapat, pengalaman, talenta, dll.. Untuk menjadi pemimpin Kristen tidak perlu menguasai suatu komunitas, cukup mendengarkan dan menerima pendapat orang lain, dan mampu mengambil keputusan terbaik berdasarkan semua pendapat.

Selain itu, menjadi pemimpin kristen, saya harus menunjukkan kualitas sesungguhnya dari pemimpin Kristus, yaitu mengasihi, melayani, dan meneladani ajaran Tuhan Yesus.

Saya tetap berpendapat bahwa kepemimpinan didapatkan melalui pengalaman, sikap hidup, sikap dalam menghadapi sebuah masalah.

Saya dapat belajar bahwa sebagai pemimpin, meskipun bukan menduduki jabatan, saya juga harus menaati atasan saya, termasuk atasan yang agung, Yesus Kristus.

Saya dapat belajar juga bahwa: Saya tidak dapat memenuhi semua ekspetasi dan penilaian orang tentang kepemimpinan kristen yang berkualitas, cara memimpin secara baik, sikap hidup pemimpin kristen, tetapi saya hanya dapat menunjukkan apa yang terbaik yang bisa saya lakukan sebagai pemimpin Kristen.

Saya berterima kasih buat semua anggota lain yang juga telah menyampaikan pendapatnya sehingga saya dapat belajar dari anggota lain. Tuhan Yesus memberkati kita semua yang telah berperan aktif, dan semua pihak yang menyelenggarakan diskusi ini. Amin.

Andre Mafea:

Sekalipun kita tidak memimpin salah satu organisasi, tetapi minimal kita dapat memimpin diri kta sendiri.

Saya yakin bahwa setiap pelajaran yang telah didapatkan dari diskusi ini tidak akan pernah sia-sia dan akan sangat menolong para peserta bisa memimpin sesuai dengan standar kebenaran firman Tuhan. Selamat memimpin dan melayani! Tuhan Yesus memberkati.

Tentang hal Ketakutan

SABDA Space Teens - Mon, 2016-06-20 11:58

Hai sobat, pernahkah anda merasa takut ? pasti pernahkan. Ketika anda takut apa yang anda lakukan ? apakah lari ? apakah menutup mata ?

baca selanjutnya

(Akhirnya) SABDA 5 ….

Blog SABDA - Fri, 2016-06-17 09:42

Pada 21 November 2015, saat kami mempersiapkan raker tahun 2015, kami mendengar kabar bahwa OLB (OnLine Bible) versi 5 sudah keluar! Hanya 2 hari setelah Drupal 8 keluar! Segera terbayang di mata saya bahwa tahun 2016 akan menjadi tahun yang sibuk. Sibuk sekali! Puji Tuhan, kesibukan itu membuahkan hasilnya pada akhir bulan Mei lalu, kami bisa merilis SABDA 5.1 Beta, berkat anugerah Tuhan Yesus.

SABDA 5.1 Beta Starterpack (92.4 MB) (1 Juni 2016)

Bagi yang belum mengenal Software SABDA, berikut saya ceritakan sedikit latar belakang dan sejarahnya. SABDA adalah program Alkitab OnLine Bible (OLB) versi Indonesia. Awal pertama SABDA lahir (SABDA 'versi 1') adalah tahun 1993/4. Saat itu belum banyak orang yang memiliki dan memakai komputer, apalagi memikirkan untuk memakai program Alkitab. Software SABDA versi 1 hanya berupa 3 versi Alkitab digital dalam bahasa Indonesia yang disebarkan bersama dengan OnLine Bible Eropa (bahasa Inggris). Selama 5 tahun berikutnya, yaitu tahun 1999, Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) berhasil mengembangkannya dalam versi bahasa Indonesia, baik dalam antarmukanya maupun sebagian besar isinya. YLSA memberi nama OLB versi bahasa Indonesia ini "SABDA" (Software Alkitab, Biblika Dan Alat-alat) dan SABDA versi 2 didistribusikan dalam CD (teknologi baru saat itu). Tahun-tahun berikutnya, YLSA terus mengembangkan SABDA menjadi SABDA versi 3 yang diluncurkan pada tahun 2004, dan SABDA versi 4 pada tahun 2010. SABDA 4 sudah tidak lagi disebarkan dalam CD, melainkan dengan teknologi penyimpanan baru, yaitu USB, DVD, dan SD Card. Pada tahun 2016, akhirnya SABDA versi 5 hadir di tengah-tengah kita.

Sebenarnya, sejak 2013, atau SABDA versi 4.30, kami tidak lagi sempat memperbarui program SABDA walaupun OLB masih terus mengembangkannya hingga versi 4.42. YLSA tidak mengembangkan lagi karena tidak ada staf yang memiliki kemampuan untuk melanjutkan pengembangan core Software SABDA. Jadi, yang dilakukan hanya menambah modul-modulnya saja.

Nah, menjelang raker atau memasuki tahun 2016, menjadi semakin jelas bahwa sayalah yang ditunjuk mewarisi proyek. Rencana pun disusun bersama dengan programmer ITS lain. Saya yang selama ini hanya sebatas pengguna Software SABDA kini dipercaya untuk mengembangkan SABDA versi berikutnya. Dengan berbekal dokumentasi dari para master sebelum saya, saya mulai menerjemahkan antarmukanya, yang menurut pengetahuan saya akan memakan waktu paling banyak. Benar saja, pertengahan Maret, antarmuka bahasa Indonesianya baru siap digunakan. Kemudian, saya mulai mendalami cara mengompilasi core, memperbarui halaman bantuan, serta meneliti apa saja fitur yang baru, dan akhirnya perlahan-lahan mulai menguasai cara memperbarui software dan modul SABDA.

Apa yang Baru di SABDA 5.1?

Perkembangan utama SABDA versi 5 adalah adanya SABDA Lite untuk peranti mobile, terutama bagi pengguna Windows Phone. Software SABDA sebenarnya sejak dahulu sudah mendukung Pocket PC, tetapi karena Pocket PC tidak berkembang, SABDA pun bergerak ke arah Android. Baru pada versi 4.40, OLB mendukung tablet Windows Intel. Kemudian, pada versi 5.00, OLB akhirnya menghentikan dukungan terhadap Pocket PC. Mungkin itulah satu-satunya perubahan yang signifikan terhadap para pengguna SABDA.

Bersamaan dengan peluncuran SABDA 5, kami pun tidak mau kehilangan momentum untuk membuat modul-modul baru atau memperbarui modul-modul yang sudah ada. Modul baru yang ditambahkan dalam Software SABDA 5.1 Beta ini, di antaranya adalah:

  1. i_AYT -- 2016 Alkitab Yang Terbuka:

    Alkitab dengan terjemahan modern yang mengusung prinsip: Setia - Jelas - Relevan. Alkitab ini disebut "terbuka" karena menyajikan suatu kondisi ketika orang-orang yang memiliki Alkitab ini akan selalu membukanya untuk dibaca dan dipelajari dengan lebih mudah. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dilengkapi dengan catatan kaki (PB).

  2. i_TSI -- 2013 Alkitab Terjemahan Sederhana Indonesia:

    Alkitab Perjanjian Baru yang menggunakan terjemahan bahasa Indonesia sederhana yang cocok digunakan untuk penutur bahasa Indonesia di Indonesia bagian Timur.

  3. id_Matthew_Henry_Cat -- Tafsiran Alkitab Matthew Henry:

    Tafsiran Alkitab oleh Matthew Henry dalam bahasa Indonesia. Saat ini, tersedia empat kitab Injil dan Kisah Para Rasul, Kejadian, Mazmur, dan Amsal.

  4. id_Renungan_Oswald_Chambers:

    Renungan "My Utmost for His Highest" oleh Oswald Chambers yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Sebanyak 366 renungan Kristosentris terbit pertama kali pada tahun 1935 dan sangat disukai oleh banyak orang Kristen di seluruh dunia dan masuk menjadi sepuluh besar buku Kristen terlaris.

Saya bersyukur dapat mengambil bagian dalam pengembangan Software SABDA 5 ini. Doakan supaya SABDA 5 menjadi alat yang dapat digunakan untuk mempelajari firman Tuhan dengan lebih dalam lagi, dan menjadi sarana memperluas penyebaran firman-Nya, sama seperti kehendak Allah yang ditulis dalam surat Paulus kepada Timotius, "... (Kristus) menghendaki semua orang diselamatkan dan dapat mengerti pengetahuan akan kebenaran." (1 Timotius 2:4, AYT)

Seminar: Be A Better Parent: Be a Better Dad and Be The Best Mom You Can Be

Blog SABDA - Wed, 2016-06-15 11:58

Dalam budaya Asia, khususnya pada masyarakat Indonesia, bukanlah satu hal yang aneh ketika anak menjadi pusat dan fokus (perhatian) dalam keluarga. Contohnya, jika kita ingin pergi keluar untuk makan, tawaran untuk memilih tempat tujuan jajan/makan pertama-tama ditujukan kepada anak. Atau, ketika seorang ibu memasak dan menyediakan lauk-pauk, seringnya bagian yang terbaik dan terenak diberikan kepada anak. Bahkan, sampai di atas usia lima tahun, anak-anak terkadang masih dibiarkan tidur bersama orangtua karena orangtua tidak tega membuat anak tidur sendiri di kamarnya. Nah, ternyata menurut Ibu Charlotte Priatna, pembicara dari seminar "Be a Better Parent: Be a Better Dad and Be The Best Mom You Can Be", hal-hal itu merupakan budaya dan kebiasaan yang salah dari banyak keluarga. Nyatanya, masih ada beberapa kesalahan atau kekeliruan lagi yang sering kita lakukan, tetapi tidak disadari sebagai suatu kesalahan karena sudah berlaku secara umum. Namun, terus menjalani kekeliruan tersebut tanpa menyadari implikasi dan dampaknya terhadap anak dan masa depannya, tentu saja bukanlah hal yang kita inginkan. Semenjak kecil, anak harus mendapat contoh dan teladan yang benar dalam hal relasi, peran, fokus, tujuan, serta kebiasaan-kebiasaan dari orangtua sehingga kelak mereka pun dapat menjalankan tugas dan fungsinya secara benar sebagai suami, istri, dan orangtua.

Dalam acara seminar yang berlangsung di Gereja Kristen Kalam Kudus, tanggal 4 Juni 2016 tersebut, Ibu Charlotte mengemukakan dua hal yang menjadi ancaman orangtua dalam mendidik anak. Yang pertama adalah meremehkan pentingnya peran dari hubungan suami istri dalam proses mendidik anak. Dalam kesalahan ini, pembicara menjelaskan bahwa sesungguhnya pengaruh terbesar dalam mendidik anak tidak berasal dari peran sebagai ayah dan ibu, melainkan dalam peran sebagai suami istri. Keberhasilan anak ditentukan dari hubungan ayah ibunya sebagai suami dan istri, dan bukan semata-mata dari hubungan antara orangtua dengan anak. Yang perlu dicatat bagi para orangtua adalah bahwa hubungan yang harmonis di antara suami dan istri merupakan hadiah yang sangat berharga dari orangtua kepada anak. Mengapa? Karena, ketika anak-anak melihat hubungan di antara ayah dan ibunya terjalin dengan harmonis dan penuh dengan cinta kasih, maka hal itu memberikan dasar dan landasan yang kuat bagi psikologis anak untuk merasa aman dan bahagia. Relasi antara suami dan istri menjadi faktor penting yang menyangga sebuah keluarga karena dari sanalah struktur dan jalinan relasi keluarga dibentuk dan diawali. Tanpa kerangka dasar relasi yang kuat antara suami dan istri, maka akan rapuhlah struktur bangunan relasi dalam sebuah keluarga. Hal itu pertama-tama akan berpengaruh pada psikologis dan perkembangan anak, yang kemudian menjalar kepada berbagai bidang kehidupan anak. Maka, untuk terus memupuk dan memelihara relasi di antara suami dan istri, hal-hal seperti dating, bulan madu, dan perayaan hari ulang tahun perkawinan dapat menjadi kegiatan rutin yang perlu selalu dilakukan oleh tiap pasangan. Tidak perlu dilakukan di restoran atau tempat-tempat traveling yang mahal, sebab yang terpenting adalah suasana dan kesempatan untuk meningkatkan relasi dan cinta kasih di antara suami dan istri .

Kesalahan yang kedua adalah hal yang telah disebutkan dalam paragraf pertama, yaitu saat orangtua terperangkap untuk menjadikan anak sebagai pusat (child centered) dalam keluarga. Kehadiran anak dalam sebuah keluarga sesungguhnya bukanlah untuk membentuk atau melengkapi sebuah keluarga, tetapi hanya memperluas lingkup sebuah keluarga. Yang seharusnya menjadi pusat atau fokus utama dalam sebuah keluarga adalah Tuhan (Christ Centered), karena memang Kristuslah yang menjadi fokus dan inti utama dalam kekristenan. Bukan hanya menjadikan-Nya sebagai kepala dalam tiap rumah tangga, berfokus kepada Kristus juga akan memberikan arahan dan tujuan yang benar bagi tiap keluarga. Jika bukan Kristus yang menjadi fokus dalam keluarga, akan terjadi banyak hal yang tidak akan mendatangkan damai sejahtera di dalam keluarga, dan tentu saja rencana dan kehendak Allah akan sulit terjadi di tengah-tengah situasi seperti itu.

Hal terakhir yang dibicarakan oleh Ibu Charlotte adalah peran suami dan istri di dalam keluarga. Landasan Alkitab bagi struktur peran keluarga terdapat di dalam Efesus 5:21-33. Dari sana, jelas terdapat perbedaan peran antara ayah dan ibu di dalam keluarga meskipun dalam pelaksanaannya keduanya dapat berbagi peran bersama atau saling mengisi peran yang lain ketika memang hal itu diperlukan dalam situasi-situasi tertentu. Peran ayah tidak dapat dilalaikan, begitu pula peran ibu. Karena jika demikian, akan terjadi disfungsi di dalam keluarga. Para istri perlu menundukkan diri kepada suami yang adalah kepala dalam keluarga meskipun kaum wanita adalah pihak yang sering kali memiliki sikap yang mendominasi dan mengatur segala sesuatu. Para suami sebaiknya juga harus mengasihi dan mendukung istri karena itulah yang menjadi kunci dari penundukan diri para istri. Jika peran itu sudah dijalankan oleh masing-masing pihak dengan baik, keduanya akan menjadi tim yang solid dalam berperan sebagai orangtua bagi anak-anak.

Sebagai seorang wanita sekaligus seorang ibu, saya bersyukur mendapat kesempatan untuk mengikuti seminar ini. Ada banyak pembelajaran yang saya dapat melaluinya yang tentu saja sangat berguna untuk diaplikasikan, baik di dalam peran sebagai seorang istri, ibu, maupun di dalam pelayanan. Nah, setelah membaca blog ini, saya harap kita semua bisa mulai menerapkan apa yang sudah disampaikan oleh Ibu Charlotte bersama pasangan masing-masing untuk memberikan teladan dan pola pengasuhan yang baik bagi anak-anak kita. Dengan demikian, kita pun akan dapat melaksanakan dengan baik apa yang menjadi panggilan hidup kita sebagai orang percaya, baik sebagai istri, suami, ibu, ayah, dan orang tua untuk membawa kemuliaan bagi nama Tuhan.

Segala puji hanya bagi Tuhan!

Bukan Rencana-ku, Bukan Rencana-mu, tetapi Rencana Tuhan

Blog SABDA - Wed, 2016-06-15 11:04

Saat sedang menulis sebuah artikel di kantor, aku teringat akan temanku si Yuku, yang memberi tahu soal lowongan kerja di Yayasan Lembaga SABDA. Aku bercerita kepada Mbak Evie di sampingku, "Rasanya, aku tidak akan sampai di SABDA kalau aku tidak kenal Yuku. Aku berutang budi pada dia." Jawaban Mbak Evie sangat tidak terduga, "Bukan Yuku yang memanggilmu ke sini, Jon, tetapi Tuhan yang memanggilmu." Wow, jawaban yang sangat teologis di tengah pembicaraan mengenai pekerjaan. Persoalan hidup yang dibahas dengan kacamata rohani.

Urusan Rohani dan Duniawi di Tangan Tuhan

Inilah pelajaran berharga yang kudapat selama bekerja di YLSA, yaitu semua hal dalam hidup dikerjakan untuk Tuhan (Kolose 3:23), tak ada pemisahan antara urusan rohani dan duniawi. Setiap pekerjaan yang kita lakukan adalah pertanggungjawaban pada Tuhan. Mulai dari cara kerja, motivasi, dan hasilnya harus dibawa kepada Tuhan sehingga menghasilkan kualitas dan manfaat yang jelas bagi orang lain. Bagi YLSA, hal itu adalah membuat orang mengenal firman Tuhan melalui Alkitab dalam media digital, baik itu situs, media sosial, aplikasi mobile, dan beragam teknologi lainnya.

Jadinya, kondisi kerohanian kita akan terlihat dalam hasil kerja kita, sebab karakter dan pemahaman rohani kita akan terbawa dalam hasil kerja kita, dan bagian yang kurang tepat akan serta-merta dikoreksi untuk menyebarkan firman Tuhan dengan tepat dan komunikatif. Bukan cuma beban kerja, tetapi juga beban rohani dibawa turut serta.

Namun, beban itu tak serta-merta memberatkan, melainkan membuka jalan bagi karunia Tuhan dalam melayani di YLSA. Di antaranya adalah lebih mengenal firman Tuhan dan mengenal potensi diri.

Karunia Rohani dan Profesional

Setiap hari, kami sekantor menjalani Pemahaman Alkitab (PA) bersama untuk memahami dan menerapkan kebenaran firman Tuhan di dalam hidup kami. Dalam 1 jam, kami bisa menggali banyak hal dalam PA dengan metode S.A.B.D.A. ini, baik mengenai konteks ayat, makna tafsiran, dan karakter para tokoh di dalamnya. Terkadang, pembicaraan kami bisa melebar ke berbagai hal: pelayanan gereja, kondisi masyarakat, kesaksian pribadi, dan lain-lain. PA ini membuat Alkitab menjadi sangat dekat dengan kehidupan kami sehari-hari dan mendorong kami untuk membuat aplikasi yang akan diterapkan dalam hidup kami masing-masing. Setiap permohonan kami ditutup di dalam doa.

Dalam pekerjaan, aku diberikan beragam pekerjaan digital. Pertama-tama, aku ditugaskan untuk membuat aplikasi Android dengan programming. Tugas ini berjalan cukup baik dan dikerjakan secara individual. Kemudian, aku didapuk untuk mengelola pelayanan Apps4God yang mencakup situs web, media sosial, dan publikasi sekaligus. Model pekerjaan yang skalanya lebih luas ini menuntut kerja tim, perencanaan, dan manajemen tim yang baik, kontras dengan sebelumnya. Pengalihan kerja ini membuatku frustrasi karena terbiasa bekerja sendiri dan pasif. Aku belajar membuat perencanaan dan pengaturan waktu dengan rinci. Aku perlu melengkapi diri agar bisa melakukan tugas dengan optimal. Teori-teori manajemen seperti PACE, Lean Startup, dan Agile Process, harus diserap dan dipraktikkan. Hasilnya naik turun, tetapi di bagian inilah yang paling memberiku banyak pelajaran untuk mengenal diri, memimpin orang lain, dan bekerja keras sesuai tenggat waktu.

Pelajaran dari YLSA

Dari YLSA, aku belajar bahwa Tuhan telah mempersiapkan pelayanan untuk masa depan, di mana firman Tuhan dapat menyentuh hati orang-orang di zaman yang serba digital. Di zaman yang mulai mengilahkan teknologi dan membuatnya cenderung dijauhi gereja, YLSA menjadi game changer yang menundukkan teknologi untuk melayani Tuhan melalui visi IT4God dan Apps4God. Bagiku, pelayanan YLSA ini keren, revolusioner, dan berdampak.

Masih banyak pelayanan YLSA yang belum sempat aku gali lebih jauh: PESTA, multimedia, SABDA-Bot, dan beragam publikasi Kristen lainnya seperti e-Konsel atau e-Reformed. Bagianku sudah selesai di sini. Tulisan ini bukan hanya tentang aku, tetapi tentang Anda, para pembaca. Apakah Anda ingin mengambil bagian dalam pelayanan masa depan? Apakah Anda seorang ahli IT yang rindu melayani, atau seorang yang ingin menyentuh hidup orang lain dengan firman Tuhan melalui media digital? Anda akan menemukan tempat Anda di sini. Come and join YLSA!

Bingung

SABDA Space Teens - Wed, 2016-06-08 11:14

Saya lulus SMK tahun 2016, Ketika saya ditanya mau lanjut kuliah atau kerja? Saya menjawab: saya ingin kerja dulu tetapi dalam hati saya, Saya juga ingin kuliah. Lalu ketika teman saya yang lain bertanya kepada saya, Mau lanjut kuliah atau kerja? Saya menjawab: saya ingin kuliah tetapi dalam hati saya, Saya juga ingin kerja, disitulah saya mulai bingung dengan keinginan saya untuk kerja atau kuliah terlebih dahulu. Lalu saya meminta saran dari orang tua, saya lebih baik bekerja terlebih dahulu atau lanjut kuliah?

baca selanjutnya

Memprioritaskan Tuhan !

SABDA Space Teens - Fri, 2016-06-03 14:25

Saya sudah delapan belas tahun menjadi orang Kristen/pengikut Kristus tetapi sering kali saya melalaikan tugas dan pelayanan saya di gereja, saya lebih suka main atau pergi ke suatu tempat yang menyenangkan saya sering kali lupa akan kewajiban saya sebagai orang Kristen. dan lebih mementingkan bermain daripada ke gereja.

baca selanjutnya

Gerakan #Ayo_PA!

SABDA Space Teens - Fri, 2016-05-20 16:01

Apa yang ada di pikiran sobat muda jika mendengar kata PA? Apakah PA itu? PA (Pemahaman/Pendalaman Alkitab) adalah suatu langkah untuk mempelajari ayat Alkitab secara lebih dalam untuk mendapatkan inti dari ayat tersebut. PA sangat penting buat generasi muda seperti kita, karena dengan PA kita bisa lebih mengerti Firman Tuhan. PA biasa dilakukan berkelompok, tetapi juga bisa dilakukan sendiri.

baca selanjutnya