Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Feed aggregator

Berbagi Kerinduan untuk Mencintai Firman Tuhan kepada Digital Natives GKI Mojosongo

Blog SABDA - Fri, 2016-08-19 07:29

Setelah hampir dua tahun tidak melakukan presentasi di luar kantor YLSA, akhirnya tiba juga waktunya bagi saya untuk melakukan presentasi dalam pelayanan roadshow #Ayo_PA! Bersama dengan Tika sebagai partner presentasi, Ayu yang bertugas sebagai MC, dan Lukas yang akan merekam jalannya acara, kami pun melakukan briefing dengan tim roadshow #Ayo_PA di SMP Kalam Kudus pada hari Jumat setelah acara Persekutuan Doa selesai. Esoknya, pada Sabtu sore yang (untungnya) cerah itu, kami bertiga berangkat ke TKP di kawasan Ring Road Mojosongo. Acara presentasi Ayo_PA kali ini akan kami lakukan dalam Persekutuan Pemuda GKI Mojosongo.

Ternyata, tim kami adalah orang-orang pertama yang tiba di tempat acara. Kami sempat menunggu beberapa saat, sebelum akhirnya dua orang peserta persekutuan datang dan membukakan pintu bagi kami. Setelah berkenalan dan mengobrol sejenak dengan keduanya, kami pun langsung mempersiapkan tempat dan alat-alat yang akan kami gunakan untuk presentasi. Acara yang seharusnya berlangsung pukul 18.00 pun akhirnya harus mundur karena peserta yang lain belum hadir. Mulai pukul 18.15, satu per satu peserta mulai berdatangan, hingga akhirnya terkumpul sampai 10 orang peserta. Dalam obrolan kami dengan para peserta yang rata-rata sudah duduk di bangku kuliah, ternyata banyak dari mereka yang belum mengenal YLSA dan menggunakan produk-produk SABDA. Tanpa membuang kesempatan, Ayu kemudian membantu semua peserta yang membawa smartphone untuk mengunduh beberapa aplikasi Android SABDA seperti Alkitab, Alkitab PEDIA, Kamus, Tafsiran, dan Peta.

Pukul 18.30, acara dimulai dengan lagu pembuka serta sharing dari beberapa orang yang ditunjuk oleh MC dari pihak persekutuan. Setelah sharing dan doa untuk persiapan firman, MC pun menyerahkan acara kepada tim SABDA. Ayu segera mengambil alih kesempatan dengan memperkenalkan Tim SABDA dan memberi sedikit pengantar untuk presentasi kami mengenai pentingnya ber-PA. Setelah itu, saya memulai presentasi "PA untuk Generasi Digital" yang membahas mengenai pentingnya PA untuk pertumbuhan rohani para digital native serta pemahaman bahwa gawai yang mereka miliki dapat menjadi alat untuk ber-PA dan bertumbuh secara rohani. Sekitar 15 menit saya membawakan presentasi yang juga diselingi dengan video itu, sebelum akhirnya tiba giliran Tika untuk memberi presentasi tentang PA dengan metode SABDA beserta tutorial untuk menggunakan aplikasi SABDA dalam ber-PA. Selama presentasi, kami juga membagikan brosur aplikasi Android SABDA, Anda Punya Waktu, dan traktat "Hatiku Rumah Kristus" serta "Tuhan Yesus Menyelamatkanmu" kepada semua yang hadir.

Sedikit peserta ternyata tidak selamanya berarti buruk. Jumlah peserta yang hanya sepuluh orang ternyata juga memiliki keuntungan tersendiri. Selain semua peserta dapat menerima apa yang kami sampaikan secara fokus, mereka juga dapat dengan mudah mengikuti instruksi yang diberikan Tika saat mencoba mempraktikkan instruksi dari tutorial aplikasi Android SABDA. Dari tanggapan yang mereka berikan, kami dapat merasakan bahwa apa yang kami berikan akan menjadi sesuatu yang berguna bagi mereka. Dan, yang paling penting, mereka kini dapat mengetahui bahwa gawai yang mereka miliki ternyata dapat menjadi media yang sangat berguna untuk semakin mencintai Tuhan dan firman-Nya.

Senang rasanya bisa mendapat kesempatan untuk melayani dan mengenal kelompok digital natives dari GKI Mojosongo ini. Kiranya apa yang sudah kami taburkan dalam hati dan pikiran mereka pada malam itu akan terus berkembang dan pada akhirnya menghasilkan buah-buah yang manis bagi kemuliaan Tuhan.

Sampai jumpa lagi di Roadshow di tempat yang berbeda!

Bereksplorasi dengan Metode S.A.B.D.A.

Blog SABDA - Mon, 2016-08-15 11:22

Bagi saya, beradaptasi dengan hal baru tidaklah menyenangkan, lebih seringnya malah menyusahkan karena harus belajar banyak hal supaya bisa bertahan. Beda dengan adaptasi saya kali ini. Sangat menyenangkan! Penasaran 'kan?

Selama bertahun-tahun, biasanya kalau saya melakukan pendalaman Alkitab (PA) hanya dengan menggunakan Alkitab versi cetak. Diawali dengan Alkitab yang berwarna biru muda, yang isinya Perjanjian Baru saja, lalu akhirnya punya juga Alkitab yang cover-nya berwarna hitam yang isinya sudah lengkap Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Karena sudah bertahun-tahun, ya nyamanlah, plus asyik karena bisa corat-coret ayat dengan stabilo. Kini ... jelas beda! Perkembangan teknologi membuat PA menjadi lebih praktis dan menyenangkan. Ada Alkitab di gawaiku! Tidak setebal dan seberat Alkitab versi cetak ... hehe! Asyiknya lagi, ada aplikasi penunjang belajar Alkitab yang sudah terintegrasi di dalamnya, seperti Alkitab PEDIA, Tafsiran, Kamus Alkitab, dan Peta . Meski fasilitas PA berbeda, saya senang-senang saja tuh melakukannya ... bisa beradaptasi dengan cepat sekalipun saya bukan digital native.

PA itu penting, sepenting kita bernapas. Jadi, harus dilakukan terus-menerus. Karena itu, sebagai salah satu staf YLSA, saya sangat bersyukur karena di YLSA selalu memberi kesempatan kepada seluruh staf untuk melakukan PA setiap Selasa -- Kamis pagi. Sudah lebih dari 2 bulan ini, kami melakukan PA dengan menggunakan metode S.A.B.D.A., sebuah metode yang mencakup Simak, Analisa, Belajar, Doa/Diskusi, dan Aplikasi. Dengan anggota kelompok PA masing-masing, kami mencoba untuk menerapkan metode ini. Pertama kali PA dengan metode ini, saya satu kelompok dengan Mbak Okti , Ariel , Ody, dan Pio. Awalnya, memang kami masih agak kikuk dengan metode ini, terutama pada langkah Simak dan Analisa, masih tercampur-campur dan bingung membedakannya. Puji Tuhan, karena cukup sering menggunakan metode ini, kami mulai terbiasa. Akhirnya, kami menemukan pola yang nyaman untuk diterapkan. Hore!!

Ketika melakukan Simak, kami membaca perikop dari berbagai versi, baik TB , AYT , BIMK, KJV, bahkan bahasa Jawa. Bisa juga lho dengan mendengarkan audio Alkitabnya. Dari langkah tersebut, kita akan bisa menemukan struktur, suasana, peristiwa, dll. sehingga kita akan memahami konteksnya. Selanjutnya, dalam Analisa, kita bisa melakukan pembelajaran lebih dalam lagi dengan meneliti kata-kata penting, kata-kata sulit, kata yang diulang-ulang, dengan melihat latar belakang dari teks yang sedang dibaca. Hayo, untuk apa semua penemuan ini? Dalam langkah Belajar, semua penemuan ini harus kita pelajari dan mintalah pertolongan Roh Kudus untuk menyimpulkan pelajaran yang Tuhan ingin ajarkan kepada kita. Lalu, berdoalah kepada Tuhan Yesus supaya pelajaran yang didapat menerangi hati dan pikiran kita sehingga kita bisa hidup sesuai kebenaran-Nya. Jangan lupa bagikan pelajaran yang didapat kepada teman-teman, bisa secara lisan (dalam kelompok PA) atau melalui WA, Line, bahkan media sosial. Yang terakhir ... yang paling penting, lakukanlah apa yang telah Tuhan ajarkan kepada kita dengan penuh kerendahan hati.

Saya bersyukur boleh terlibat PA dengan metode S.A.B.D.A.. Kekayaan firman Tuhan bisa dieksplorasi lebih dalam, baik melalui kata-kata, penokohan, tempat, waktu, maupun suasananya. Lengkap deh! Tak hanya itu, hasil dari penerapan metode S.A.B.D.A. ini pun bisa dituangkan dalam sebuah infografis [link] alkitabiah lho ... seru deh pokoknya! Cobalah PA dengan metode S.A.B.D.A. dan nikmatilah! Jangan hanya sekali, tetapi setiap hari! Ayo PA!

Roadshow #Ayo_PA! di Wisma Pojok, Yogyakarta

Blog SABDA - Thu, 2016-08-11 07:35

Untuk kesekian kali, Yayasan Lembaga SABDA melakukan roadshow #Ayo_PA! Kali ini, roadshow diadakan di Wisma Pojok yang berlokasi tepatnya di dusun Condong Catur kecamatan Depok, kabupaten Sleman, Yogyakarta. Tim roadshow terdiri dari lima orang. Selain saya, ada Andreas, Ayu, Bu Yulia sebagai pembicara, dan Jessica, putri Bu Yulia. Tim SABDA datang ke "kota gudeg" dengan menggunakan KA Prameks, dan dijemput oleh Pak Haryanto, panitia GKI Ngupasan untuk menuju wisma tersebut. Kami datang pukul 07.30 pagi dan saat itu acara sudah dimulai. Ibu Lenny sedang membahas hal-hal teknis pelaksanaan program PA yang akan mulai dijalankan di GKI Ngupasan bulan Agustus ini. Apa yang akan disampaikan Bu Yulia dimaksudkan untuk melengkapi mereka dengan metode PA. Hanya saja mungkin mereka tidak bermimpi bahwa yang akan SABDA ajarkan bukan hanya metode PA, tetapi juga bagaimana menggunakan gadget/smartphone untuk ber-PA.

Sebagai informasi, peserta roadshow kebanyakan berasal dari generasi X, generasi yang disebut-sebut kurang melek teknologi, bahkan ada juga dari generasi "baby boomers" sehingga saya berpikir roadshow kali ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi tim kami.

Setelah sampai di tempat, saya, Andreas, Jessica, dan Ayu segera mempersiapkan alat-alat dokumentasi serta bahan perlengkapan booth, sementara Bu Yulia mulai mendapat kesempatan berbicara pukul 08:20, terlambat 20 menit dari rencana. Peserta segera diinstruksikan untuk mengumpulkan gadget yang mereka miliki kepada tim SABDA untuk disematkan dengan berbagai aplikasi pendukung PA. Saya bersyukur Jessica kali ini ikut serta, karena sebagai generasi Z, dia yang paling tangkas dalam menangani berbagai merk smartphone atau tablet sehingga sangat membantu saya dan Ayu dalam melakukan instalasi. Sementara itu, Andreas sibuk dengan merekam.

Sambil melakukan instalasi, Bu Yulia memulai pelatihan dengan penjelasan mengenai dasar-dasar PA seperti: apa itu PA, mengapa perlu melakukan PA, Metode PA S.A.B.D.A dengan gadget, dan bagaimana pelaksanaannya. Beberapa poin di awal ini penting untuk ditegaskan supaya para peserta tahu apa yang menjadi tujuan ber-PA. Beliau juga menyampaikan apa keuntungan ber-PA dengan bantuan teknologi dan mengapa teknologi bukanlah sesuatu yang perlu dihindari oleh gereja. Justru teknologi harus semakin banyak digunakan untuk mendalami kitab suci, khususnya bagi generasi muda atau yang biasa disebut generasi Z. Bu Yulia menyebut satu fakta yang patut diperhatikan bahwa belakangan ini jumlah kunjungan anak-anak muda di gereja semakin merosot karena cara gereja melayani tidak pernah berubah dan lebih didesain untuk generasi tua, menandakan bahwa pembelajaran firman Tuhan harus dilakukan dengan format baru dan melibatkan sesuatu yang disukai anak-anak muda, yaitu teknologi. Beliau pun sempat menayangkan video tentang generasi Z dan sebuah infografis kitab Matius untuk menjelaskan bahwa pola pikir dan cara belajar generasi Z telah banyak berubah. Generasi yang lebih tua sebagai pengambil keputusan, sepatutnya lebih memahami serta mengakomodasi generasi Z dalam kegiatan ibadah/kerohanian supaya firman Tuhan tetap relevan bagi generasi baru ini.

Materi kemudian diikuti dengan informasi mengenai berbagai alat yang bisa digunakan untuk ber-PA yang sudah disediakan oleh Yayasan Lembaga SABDA. Selain Alkitab dan audio Alkitab , tersedia juga Kamus Alkitab, Alkitab PEDIA , Tafsiran , dan sebagainya. Puncaknya adalah penjelasan tentang cara studi Alkitab Android dan Metode S.A.B.D.A.. Penjelasan dibantu dengan 2 video tutorial yang sudah dibuat dan dipersiapkan dengan matang oleh teman-teman di YLSA. Dalam video tutorial Studi Alkitab Android dijelaskan penggunaan 5 aplikasi utama yang terintegrasi dengan fitur-fitur Alkitab, antara lain cara membuka ayat, menambah versi, mengubah-ubah versi, dan penggunaan fitur lain-lain, seperti fitur membuat catatan atau fitur sorot yang oleh peserta lebih suka disebut "stabilo". Sementara dalam video tutorial metode S.A.B.D.A., peserta bisa memperhatikan apa saja langkah-langkah yang ada dalam metode S.A.B.D.A. sekaligus mengetahui alat dan bahan apa yang bisa digunakan di setiap langkahnya. Video tutorial kemudian diulang lagi perlahan-lahan disertai penjelasan lebih lengkap oleh Bu Yulia mengingat para peserta adalah generasi X yang baru belajar teknologi. Kami pun membuat semacam ice breaker dengan menyanyikan lagu "Ayo PA" untuk memudahkan peserta mengingat langkah-langkah metode S.A.B.D.A.. Ayu dan saya memandu peserta untuk menyanyikan #Ayo_PA! dibantu oleh Saudara Michael (satu-satunya peserta generasi Z) sebagai pemain gitar.

Kemudian untuk semakin memahami materi Ayo PA dan sekaligus sebagai penutup acara, Bu Yulia meminta peserta mempraktikkan PA metode S.A.B.D.A. dengan membentuk kelompok-kelompok kecil dengan studi kasus kitab Matius 1:1. Agak unik, tak semua generasi X dan baby boomers ini menggunakan gadget meski beberapa saat lalu hal itu baru saja diulas. Sebagian peserta hanya membuka Alkitab cetak, serta membuat catatan dengan pulpen ataupun spidol pada secarik kertas. Sebagian lagi yang menggunakan gadget masih ada yang kesulitan memahami fitur-fitur yang terbilang sederhana, dan banyak bertanya kepada saya, Ayu atau Andreas. Namun, meski tertatih-tatih dalam menggunakan teknologi, saya menilai generasi ini patut ditiru dalam hal semangat belajarnya. Mereka begitu antusias mempelajari hal baru dan selalu menunjukkan ketertarikan pada materi yang kami bawakan. Saya pikir merekalah peserta terfavorit saya sepanjang saya pernah mengikuti roadshow #Ayo_PA! dan saya akan senang jika bisa mengikuti lagi roadshow dengan peserta orang-orang tua.

Tak terasa jam menunjukkan pukul 13:10 siang, tanda bahwa tim SABDA harus undur diri karena tiket balik ke Solo adalah pukul 13:50. Oleh karena itu, setelah makan siang dan membereskan perlengkapan, Bu Yulia, Jessica, Andreas, dan Ayu berpamitan. Setengah berlari, mereka meninggalkan ruangan untuk diantar dengan mobil menuju stasiun Maguwo (airport Yogyakarta). Saya sendiri masih tinggal beberapa saat dengan peserta untuk mengambil video testimoni. Untunglah, hal itu tidak sulit dilakukan. Saya berhasil mendapat sekitar 5 orang untuk menjadi informan saya dan memberi testimoni tentang berkat yang didapat dari PA dengan metode S.A.B.D.A.. Dari informasi yang saya kumpulkan, saya mendapat kesimpulan bahwa informan merasa sangat bersyukur dengan adanya metode S.A.B.D.A. karena memiliki urutan langkah yang jelas serta bisa mendapat banyak sekali bahan untuk menggali makna Alkitab yang semuanya dimungkinkan karena kecanggihan teknologi. Saya pribadi pun kagum melihat karya Tuhan, yang bisa menggunakan segala cara untuk mencari manusia. Apa saja yang Ia berikan bisa Ia gunakan kembali untuk kemuliaan nama-Nya, dalam hal ini adalah berkat dari teknologi.

Saya berharap Yayasan Lembaga SABDA tidak kenal lelah untuk mengampanyekan #Ayo_PA! dengan gadget karena PA dengan cara ini adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan sekarang, tetapi belum banyak yang tahu. Kiranya orang percaya semakin giat melakukan studi Alkitab secara lebih mendalam dan dengan cara yang "fun" untuk menyelamatkan generasi muda kembali ke dalam hadirat Tuhan.

ULANG TAHUN SABDA SPACE

SABDA Space Teens - Fri, 2016-08-05 09:06

Dear all Blogger,

Hore!! Komunitas blogger Kristen SABDA Space (itu lho blog kakak kita  ) sudah genap berusia 9 tahun lho. Segala puji syukur hanya bagi Tuhan Yesus yang telah memelihara komunitas blogger SABDA Space selama ini. Segenap tim SABDA Space Teen mengucapkan "Selamat Ulang Tahun" untuk semua blogger SABDA Space yang selama ini sudah mewarnai komunitas SABDA Space dengan berbagai tulisan yang inspiratif dan memberkati bagi para blogger dan seluruh masyarakat Kristen Indonesia pengguna internet.

baca selanjutnya

Membangun Iman di Tengah Masalah

SABDA Space Teens - Wed, 2016-08-03 12:41

Pastinya kita pernah mengalami masalah, entah itu yang berat sekalipun ? Saya juga pernah mengalami masalah, tapi apakah dalam masalah tersebut Anda akan tinggalkan masalah begitu saja? apakah Anda tidak mencoba selesaikan masalah itu? atau apakah Anda lari dari masalah tersebut? Nah disini saya akan memberi tips "Membangun Iman di Tengah Masalah", kita akan sama-sama belajar dari Hana istri dari Elkana, masalah dari Hana ada 5 :

baca selanjutnya

Pelayanan ke Kalimantan

Blog SABDA - Wed, 2016-08-03 11:57

Pada akhir bulan Juni sampai awal bulan Juli lalu, saya mendapat kesempatan melakukan perjalanan ke Kalimantan bersama rombongan dari Surabaya. Kami berada di sana selama 1 minggu.

Ini adalah perjalanan kedua saya ke Kalimantan. Saat saya datang, saya heran kenapa cuacanya mendung dan dua hari pertama di sana hujan turun sangat lebat. Padahal saat perjalanan saya pertama ke sana cuaca panas sekali. Tetapi dari hari ketiga hingga saya pulang, cuaca sudah kembali panas. Saya memang berharap bisa kembali ke Kalimantan lagi, dan tahun ini saya bersyukur diberi kesempatan untuk melihat lagi pelayanan di Kalimantan dan saya tidak ingin melewatkan kesempatan yang berharga ini.

Salah satu tujuan perjalanan kami ini adalah untuk berkunjung ke sebuah gereja. Ketika bertemu dengan anggota jemaat di sana, mereka menyambut kami dengan sangat hangat. Saya dan teman-teman saya mendapat kesempatan untuk melayani bersama di ibadah minggu, sekolah minggu, ibadah keluarga, dan persekutuan doa. Satu hal yang membuat saya sedih adalah gereja ini selama beberapa saat tidak mempunyai seorang gembala. Tak heran, karena ketiadaan sosok gembala membuat keadaan kerohanian jemaat menjadi kurang terpelihara, begitu juga dengan kesatuan hati mereka. Saat kami datang, bersyukur ada seorang hamba Tuhan yang baru saja datang sehari sebelum kami untuk praktik pelayanan 1 tahun di sana.

Saya dan teman-teman juga berkunjung ke rumah-rumah jemaat. Kami mengobrol banyak hal, mendengar pergumulan mereka, dan juga mendoakan mereka. Beberapa hari sebelum saya pulang, saya bersyukur karena ada pendeta yang baru datang untuk melayani gereja ini. Dia datang bersama istri dan anaknya. Saya berdoa agar Tuhan yang sudah memanggil pendeta ini untuk melayani di sana akan memperlengkapi dan menguatkan dia untuk menggembalakan gereja ini.

Saat berangkat, saya juga membawa beberapa bahan SABDA, seperti traktat untuk anak-anak (Tuhan Yesus Menyelamatkanku dan Hatiku Rumah Kristus), DVD Dengar Alkitab, dan DVD Library Anak . Karena saya harus pulang lebih dulu dari teman-teman yang lain dan selama 1 minggu pertama belum menemukan waktu yang tepat untuk membagikan bahan ini, maka saya titipkan kepada teman saya agar dapat dibagikan. Traktat untuk anak-anak akhirnya dapat dibagikan saat teman-teman saya melayani di sekolah minggu. Beberapa DVD diberikan kepada hamba Tuhan yang akan melayani di sana. Semoga bahan-bahan SABDA yang sudah dibagikan dapat menjadi berkat bagi mereka.

Perjalanan ini mengingatkan saya dengan gereja-gereja di berbagai daerah lain di Indonesia yang mungkin mengalami hal yang sama. Saya mengajak teman-teman yang membaca blog ini atau yang tahu tentang keadaan gereja-gereja di daerah, mari berdoa bersama untuk mereka.

Membangun Iman di Tengah Masalah

SABDA Space Teens - Tue, 2016-08-02 15:44

Shalom,

Pastinya kita pernah mengalami masalah, entah itu yang berat sekalipun ? Saya juga pernah mengalami masalah, tapi apakah dalam masalah tersebut Anda akan tinggalkan masalah begitu saja? apakah Anda tidak mencoba selesaikan masalah itu? atau apakah Anda lari dari masalah tersebut? Nah disini saya akan memberi tips "Membangun Iman di Tengah Masalah", kita akan sama-sama belajar dari Hana istri dari Elkana, masalah dari Hana ada 5 :
1. Elkana punya istri lain
2. Kandunganya ditutup oleh Tuhan
3. Dicela oleh madunya

baca selanjutnya

Presentasi #Ayo_PA YLSA Bareng Tim GRII Karawaci

Blog SABDA - Sat, 2016-07-30 10:39

Pada tanggal 13 Juli 2016, YLSA kedatangan tamu dari GRII Karawaci, mereka datang ke Solo untuk belajar tentang Digital Ministry. Di tempat ini, mereka belajar pelayanan digital, komunitas pelayanan digital, dan tentu saja YLSA tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk membagikan metode SABDA kepada mereka. Ya ... memang beberapa bulan terakhir YLSA mempromosikan program Ayo_PA dengan metode S.A.B.D.A., YLSA sudah mempresentasikan Ayo_PA ke beberapa gereja dan persekutuan di Solo, dan semuanya berjalan dengan baik dan banyak yang terberkati dengan presentasi YLSA ini. Kedatangan tamu dari Karawaci ini dimanfaatkan oleh YLSA untuk membantu promosi program Ayo_PA. Mereka dilatih untuk melakukan presentasi ke beberapa gereja, salah satunya adalah GUPdI Kwarasan, Sukoharjo.

Untuk presentasi di gereja ini, saya mendapat tugas untuk mendampingi tim tamu sekaligus menjadi tuan rumah untuk YLSA karena saya cukup akrab dengan pendeta dan beberapa remaja di sana (sekadar informasi, istri saya beribadah di sini dan kami juga melakukan pemberkatan nikah di gereja ini ) Pukul 17.30 tim Karawaci beserta rekan-rekan SABDA, yaitu Benny, Ayu, dan bu Yulia sudah sampai di lokasi. Saya datang agak terlambat karena ada kegiatan yang lain dulu. Selain menyiapkan alat-alat dan materi presentasi, kami juga membuka booth di sana. Beberapa menit kemudian mulai berdatangan anak-anak remaja, beberapa wajah mereka saya kenal. Sambil menyapa, saya memperkenalkan teman-teman tim dan juga mempersilakan mereka untuk melihat-lihat booth dan memilih CD yang mereka sukai. Beberapa anggota tim Karawaci juga mendekati mereka dan mengajak mengobrol, tidak perlu waktu yang banyak untuk mereka bisa akrab satu sama lain. Tampaknya tim ini benar-benar memiliki hati untuk remaja, terutama Pak Rally, dia langsung akrab dengan beberapa remaja di sana. Kemudian, ada berapa remaja berdatangan lagi, mereka ada yang menuju ke booth, tetapi ada juga yang masih malu-malu dan memilih langsung duduk di dalam gereja.

Pkl 18.15 ibadah di mulai, teman-teman tim ikut masuk dan beribadah, tetapi saya tetap menunggu booth dan menyambut anak remaja yang datang terlambat. Setelah beberapa pujian, waktu diserahkan kepada tim SABDA. Pak CunCun selaku MC memperkenalkan tim SABDA dan memimpin lagu "Ayo-PA". Saya membantu bermain musik karena tim musik gereja belum tahu lagunya. Setelah mengulang beberapa kali, baru anak-anak remaja bisa hafal dan menyanyikan lagu dengan semangat.

Waktu selanjutnya diserahkan kepada Kak Lady selaku pembawa presentasi sesi 1 tentang generasi digital dan PA. Kak Lady menyampaikan presentasi dengan baik, ia menyadarkan remaja bahwa mereka adalah generasi Digital Native. Saat dijelaskan ciri-ciri Digital Native, mereka senyum-senyum sendiri. Mungkin sebagian besar ciri-ciri tersebut sesuai dengan keadaan mereka. Selanjutnya, presentasi dilanjutkan oleh Pak Rally. Dia memulai presentasi dengan ilustrasi tentang kamera yang rusak, di situ dia mengatakan bahwa kamera yang rusak diperbaiki oleh tukang kamera sebagai orang yang ahli tentang seluk beluk kamera. Pak Rally membandingkan dengan hidup manusia, tidak ada yang lebih mengetahui tentang keadaan hidup manusia selain Tuhan sebagai Sang Pencipta. Wow, benar-benar ilustrasi yang keren untuk mengawali presentasi tentang PA. Dia juga bersaksi tentang kehidupan masa lalunya, bagaimana kehidupannya tanpa Firman Tuhan dsb.. Oleh sebab itu, dia memiliki dasar-dasar yang kuat untuk melakukan PA dan dia ingin membagikan kepada generasi digital saat ini. Pak Rally juga menjelaskan salah satu metode PA, yaitu metode S.A.B.D.A. (Simak-Analisa-Belajar-Doa+Diskusi-Aplikasi). Sewaktu dia mendemonstrasikan metode ini, kami mendampingi remaja untuk langsung praktik di gadget mereka masing-masing. Mereka bisa mengikuti dengan baik metode ini. Selesai presentasi, acara kembali dipimpin oleh Pak CunCun selaku MC dan lagi-lagi dia memimpin lagu "Ayo_PA". Untuk kali ini, saya tidak membantu main musik lagi. Akhirnya, ibadah selesai dan waktu diserahkan kepada ketua remaja. Ibadah diakhiri dengan sesi foto-foto dan pembagian CD audio Alkitab dan program SABDA gratis. Sayang sekali, kami lupa untuk merekam video testimoni peserta karena buru-buru untuk mengikuti acara selanjutnya di Galabo.

Bagi saya sendiri mengikuti roadshow kali ini membawa kesan tersendiri, terutama saya bisa belajar dari tim Karawaci dalam melakukan presentasi. Selain belajar penyampaian presentasi, saya juga bisa bisa belajar sedikit dari kepribadian mereka, di mana mereka yang memiliki keluarga rela meninggalkan keluarga selama 5 hari untuk pelayanan. Sebelum ibadah dimulai, saya dan Pak CunCun sempat ngobrol-ngobrol tentang dunia anak-anak. Dia ingin mengembangkan pelayanan ke panggung boneka. Mereka juga memiliki hati yang rindu supaya anak-anak, terutama remaja generasi Digital Native ini, bisa bertumbuh di dalam Tuhan. Semoga gerakan #ayo_PA! ini semakin berkembang dan dipakai oleh para Digital Native untuk lebih mengenal Tuhan dan bertumbuh dalam Firman-Nya ...
#ayo_PA!

Pengalaman Pertama Mengikuti Raker Tengah Tahun YLSA

Blog SABDA - Mon, 2016-07-25 14:03

Oleh: Andreas*

Sebelum saya menuliskan cerita saya, terlebih dahulu saya akan memperkenalkan diri. Nama saya Andreas Danang A., lahir di Surakarta (Kota Budaya dan terkenal dengan nasi liwetnya ....) Oke, sekarang saya mulai perjalanan cerita saya tentang sebuah kegiatan yang mungkin jadi hal yang menegangkan bagi staf SABDA yang baru, cekidot!!!

Saya baru saja berkerja di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). Saya sangat senang dan enjoy bekerja di sana. Hari-hari saya lalui dengan berbagai tugas yang harus saya kerjakan sesuai dengan "job" yang telah diberikan kepada saya sebagai salah satu anggota tim Multimedia. Tak terasa waktu berjalan sangat cepat. Waktu menulis blog ini saya sudah dua minggu menjadi bagian dari YLSA. Namun, dalam waktu 2 minggu itu, ada hal yang membuat pikiran saya "berterbangan", yaitu Raker Tengah Tahun YLSA yang akan diadakan dalam waktu dekat, ada juga yang menyebutnya "Raker Mini". Saya mulai berpikir, bertanya, dan mencari tahu di Google apa itu "Raker Mini"? Tak berapa lama, titik terang pun mulai menunjukan batang hidungnya. Ternyata, Raker adalah singkatan dari Rapat Kerja, sedangkan Mini adalah kecil. Jadi sekarang saya paham, dan ini adalah Raker Mini pertama dalam hidup saya, woowwww ... !!!

Semua tak berhenti di situ. Saya dikejutkan lagi dengan kabar yang sangat membuat saya deg-degan, saya harus membawakan presentasi (meskipun itu bergantian dengan teman saya juga). Perasaan saya mulai kacau, semua itu karena dalam Raker Tengah Tahun yang saya belum mengerti seperti apa. Duuaaarrrrrr ...! Seperti disambar petir berkekuatan tinggi, jantung saya mulai menari mengikuti irama denyut nadi. Haaahhhh cemas melanda hati, membayangkan apa yang akan terjadi saat

Hari demi hari selang berganti seperti bom waktu yang tinggal menunggu kapan waktunya akan meledak. Hingga waktunya sekarang tiba. Ya, pada tanggal 23 -- 24 Juni 2016 Raker Tengah Tahun akhirnya berlangsung. Acara demi acara berjalan dengan baik dan menyenangkan. Namun, semua berubah saat tiba giliran saya untuk memberikan presentasi. Saat itu, saya dan rekan saya, Lukas, diminta untuk memberikan presentasi singkat tentang Infografis. Meski kami sudah mempersiapkan bahan dengan baik, tetapi tetap saja badan terasa lemas, keringat dingin keluar, jantung berdebaran, semua bercampur menjadi satu. Saya berdoa kepada Tuhan Yesus agar diberi keberanian dan diberi kelancarkan. Doa saya dijawab Tuhan Yesus, semua berbeda dengan apa yang saya pikirkan dan saya bayang-bayangkan, yang membuat hati saya gemetar saat itu. Presentasi berjalan dengan baik dan dapat diterima oleh teman-teman dan pimpinan. Banyak masukan dan pelajaran yang kami terima mengenai Infografis. Ternyata, masih banyak hal seputar Infografis yang belum saya dalami. Hal ini memacu saya dan Lukas untuk belajar lebih banyak lagi.Raker nanti.

Sungguh, Tuhan tidak pernah terlambat menolong saya. Saya mulai merenungkan apa yang telah terjadi sebelum Raker Tengah Tahun berlangsung. Ternyata Tuhan tak pernah diam dan meninggalkan saya. Dia kirimkan teman-teman yang mendukung dan memberi masukan untuk saya. Tidak cuma itu, dari bahan yang akan disampaikan, hingga saat presentasi, semua berjalan dengan baik dan lancar. Itu bukan karena kemampuan saya, tetapi karena Tuhan Yesus.

Raker terus berjalan dengan berbagai kegiatan; presentasi-presentasi, foto bersama, rencana ke depan, evaluasi dll.. Acara Raker yang saya kira menegangkan ternyata sangat nyaman dan ada rasa kekeluargaan yang sangat dalam di antara kami. Dari Raker Mini ini saya belajar, jangan pernah menyerah dan putus asa dalam memperjuangkan sesuatu, dan yang terpenting adalah andalkan Tuhan Yesus selalu dalam segala usahamu.

Roh Orang mati

SABDA Space Teens - Fri, 2016-07-22 08:53

Syalom, jumpa lagi dengan saya, dalam kesempatan kali ini saya akan mencoba mengulas tentang berbagai pertanyaan seputar roh orang mati. Memang setiap orang akan mengalami yang namanya kematian. Kematian adalah hal yang alami terjadi, dan setiap orang bisa mengalami hal tersebut dengan cara yang berbeda-beda, bisa karena faktor usia, penyakit maupun kecekalaan.

baca selanjutnya

Diskusi FB Grup Bio-Kristi

Blog SABDA - Mon, 2016-07-11 08:08

Bulan Maret 2016, YLSA membuka satu lagi grup diskusi yaitu grup diskusi Bio-Kristi (Biografi Kristiani). Tujuan YLSA membuka grup diskusi ini adalah agar Facebook Grup Bio-Kristi dapat menjadi sarana bagi orang-orang percaya untuk semakin bertumbuh dan menyadari cinta kasih Tuhan melalui kehidupan tokoh-tokoh Kristen yang telah menjadi teladan iman dalam karya dan hidupnya. Lebih lanjut tentang deskripsi, visi, misi, serta aturan dari grup diskusi ini dapat dilihat dalam Deskripsi Facebook Grup Bio-Kristi .

Artikel yang diangkat sebagai topik dalam diskusi perdana grup Bio-Kristi adalah Dietrich Bonhoeffer, seorang teolog Kristen dari Jerman yang gigih menentang kekejaman NAZI dalam masa perang dunia ke-2. Topik tentang tokoh ini diangkat sebagai bahan dalam diskusi perdana karena Dietrich Bonhoeffer menjadi pengikut Kristus yang gigih memperjuangkan kebenaran imannya sampai mati. Kematian yang dihadapi tokoh ini dengan berani sebagai buah dari kesadarannya sebagai pengikut Kristus yang sejati kami anggap tepat untuk memaknai momen Paskah tahun ini. Dengan melihat hidup dan perjuangan dari Bonhoeffer, kami berharap agar setiap peserta yang mengikuti diskusi dapat memahami arti dari bagaimana menjadi pengikut Kristus yang sesungguhnya dan menghargai anugerah Kristus yang mahal.

Dalam kolom Tahukah Anda edisi Bio-Kristi ke 152 yang menampilkan tokoh pendidikan Brazil, Paulo Freire, disebutkan bahwa Freire menganggap penting dialog dalam proses pembelajaran. Dialog, menurut Freire adalah model komunikasi yang alami untuk belajar karena dalam dialog peserta didik diakui sebagai mitra yang sejajar. Dialog memungkinkan kesempatan untuk belajar bersama, dibanding sekadar mengajar. Dialog diawali dengan penghargaan karena kita berdialog untuk belajar dari mereka yang kita ajar. Nah, dalam proses diskusi, dialog sesungguhnya juga menjadi faktor yang dipraktikkan karena setiap peserta diskusi akan mengungkapkan pendapatnya dalam semangat penghargaan kepada peserta lain yang juga mengungkapkan pendapatnya. Tidak ada peserta atau moderator yang akan merasa dirinya lebih tinggi atau lebih pintar dari yang lain, karena setiap orang menyadari bahwa pendapat mereka akan saling melengkapi dan disempurnakan oleh pendapat yang lain. Dengan demikian, proses pembelajaran yang terjadi pun tidak berlangsung satu arah, tetapi dari berbagai arah karena setiap peserta memberikan kontribusinya.

Dari uraian tersebut, kita tentu menjadi semakin paham akan pentingnya diskusi sebagai salah satu cara pembelajaran. Selain menjadi ajang bagi setiap orang untuk mengemukakan pendapat, pengetahuan, serta wawasannya, diskusi dapat juga menjadi sebuah situasi belajar di mana setiap orang berada dalam posisi yang sejajar dan sama untuk bersikap terbuka dalam menerima pendapat dari yang lain, yang mungkin sangat berbeda dan berlawanan. Tanpa memiliki semua semangat tersebut, diskusi hanya akan menjadi ajang debat kusir, pamer pengetahuan, atau yang lebih buruk lagi, sekedar untuk menjawab pertanyaan yang diajukan moderator. Tak ada manfaat dari berdiskusi yang dapat kita temui dalam situasi seperti itu. Oh ya, satu lagi, terbiasa berdiskusi juga akan meningkatkan keterampilan kita dalam berbahasa, berkomunikasi, dan menjadi kritis, yang tentu akan sangat berguna dalam karya dan pelayanan kita.

Sebagai moderator dari grup diskusi Bio-Kristi, saya merasa mendapat banyak kesempatan belajar dengan terlibat di dalamnya. Bukan hanya karena mendapat pelajaran dan wawasan yang baru dari proses diskusi yang berlangsung, tetapi juga karena dalam prosesnya saya sendiri kemudian menyadari bahwa saya masih harus belajar banyak untuk menjadi moderator yang baik, yang dapat mendorong setiap peserta untuk berdiskusi secara aktif dan mengajukan pertanyaan dan komentar-komentar yang akan menambah seru jalannya diskusi. Sementara dari tokoh Dietrich Bonhoeffer yang menjadi topik dalam diskusi perdana ini saya belajar bahwa sebagai orang Kristen kita sesungguhnya juga dipanggil untuk tidak menjadi sama dengan dunia ini, terutama dalam melawan ketidakadilan dan ketidakbenaran. Bonhoeffer berani menyatakan warna kekristenannya yang berbeda untuk melawan arus utama yang salah. Dan, ia mau membayar harga. Ia sungguh-sungguh menilai anugerah dari Kristus bukan sebagai anugerah yang murah dan mudah.

Dari pihak peserta, saya merasa mereka telah cukup berpartisipasi secara aktif dengan memberi pendapat dan komentarnya, meski ada beberapa orang yang tidak melengkapi jawaban diskusi sampai pada pertanyaan terakhir. Ada beberapa peserta yang juga rupanya cukup aktif sebagai anggota dari FB grup YLSA lainnya, seperti KBS atau FB Wanita Kristen. Yang istimewa, sebagian besar dari anggota diskusi FB grup Bio-Kristi ini adalah kaum wanita (9 dari 10 peserta aktif). Wow, salut untuk kaum wanita Saya berharap, selain mereka, masih ada banyak lagi peserta lainnya yang mau ikut bergabung bersama dalam diskusi tokoh Bio-Kristi selanjutnya.

Nah, jika Anda tertarik untuk belajar bersama melalui proses diskusi dalam media sosial, mari bergabung bersama FB grup diskusi Bio-Kristi. Melalui grup ini kita dapat saling belajar dan memperdalam pengetahuan guna memiliki kesadaran sejati akan panggilan hidup orang percaya melalui hidup yang telah dijalani oleh tokoh-tokoh Bio-Kristi. Selain diskusi tokoh Dietrich Bonhoeffer yang sudah dilakukan pada bulan Maret, diskusi mengenai tokoh Martin Luther juga baru saja kami selesaikan pada akhir bulan Juni lalu. Diskusi grup Bio-Kristi selanjutnya akan diadakan pada bulan September 2016, dan silakan mendaftarkan diri untuk bergabung bersama. Kami tunggu keikutsertaan Anda

Udah Cuci Tangan?

SABDA Space Teens - Fri, 2016-07-08 15:49

Hai Sob, kali ini aku akan mengupas sedikit tentang gaya hidup sehat yang kelihatan sepele namun memiliki efek yang besar dalam kesehatan, yaitu mencuci tangan. Kegiatan yang satu ini penting dilakukan karena dapat menjaga dan memelihara kesehatan kita. Hmm, anda tahu tidak kalau tangan merupakan salah satu agen utama masuknya kuman/mikroba penyebab penyakit?, melalui tangan bakteri itu dapat masuk ke mulut, hidung dan anggota tubuh lainnya.

baca selanjutnya

Liputan Latihan Persiapan Roadshow Tim #Ayo_PA!

Blog SABDA - Tue, 2016-07-05 10:30

"Gagal melakukan persiapan berarti mempersiapkan kegagalan." (Benjamin Franklin)

Senada dengan kutipan di atas, Yayasan Lembaga SABDA selalu berusaha melakukan persiapan sebaik mungkin untuk kegiatan roadshow di mana pun itu. Tidak peduli roadshow untuk skala besar atau kecil, semua didahului dengan persiapan yang matang. Tujuannya bukan hanya agar tim yang bertugas bisa melakukan pelayanan dengan baik, tetapi yang terutama adalah agar dapat memberikan yang terbaik bagi Tuhan yang kami layani. Dengan begitu, setiap peserta roadshow juga dapat menikmati berkat melalui pelayanan yang kami lakukan.

Tim #ayo_PA! juga melakukan hal yang sama. Setiap kali akan mengadakan roadshow, setiap tim yang bertugas harus melakukan persiapan. Mulai dari materi yang akan disampaikan, cara menyampaikan materi, perlengkapan yang harus dibawa, bahkan jika diperlukan melakukan survei lokasi diadakannya roadshow. Seperti pada tanggal 17 Juni 2016 yang lalu, tim kembali melakukan persiapan untuk presentasi gerakan #ayo_PA! di GKIm Anugerah. Setelah melakukan pertemuan kecil sebelumnya untuk menentukan tim dan materi yang akan disampaikan, tim yang akan berangkat harus melakukan latihan presentasi.

Kegiatan ini dimulai dengan latihan bagi pemandu acara (MC), yaitu Ariel. Petugas yang melayani sebagai MC untuk roadshow #ayo_PA! bertugas mengakrabkan peserta dengan tim #ayo_PA!, memberikan overview presentasi yang akan dibawakan, dan memberikan kesimpulan dari setiap sesi presentasi. MC juga akan mengarahkan peserta untuk mengikuti setiap sesi dengan baik melalui pertanyaan-pertanyaan dan interaksi yang diperlukan.

Setelah itu, dilakukan latihan presentasi untuk presentator pertama, yaitu Ayu. Pada sesi ini, presentator harus bisa mengangkat inti dari presentasi tersebut, yaitu generasi digital native. Anak muda masa kini adalah mereka yang disebut dengan generasi digital native, begitu pula dengan peserta yang akan hadir di GKIm Anugerah, mereka adalah generasi yang tidak asing dengan teknologi. Presentator pertama harus mencapai tujuan dari presentasi pertama ini, yaitu membuka wawasan dan pengetahuan anak-anak remaja di tempat itu bahwa mereka adalah generasi digital yang Kristen, yang harus menggunakan gadgetnya untuk pertumbuhan rohani mereka dan teman-temannya. Karena waktu yang disediakan hanya 45 menit untuk dua presentasi, maka presentasi pertama hanya diberi waktu maksimal 15 menit. Dalam latihan tersebut, Ayu mendapat banyak masukan terutama memperbaiki cara presentasi untuk target anak-anak remaja.

Setelah Ayu selesai menyelesaikan latihan presentasinya, Ariel selaku pemandu acara (MC) mempersilakan Amidya untuk melanjutkan latihan presentasi sesi kedua, yaitu presentasi "PA dan Generasi Digital". Dalam latihan ini, Amidya harus mencapai tujuan utama dari presentasi kedua ini, yaitu menyadarkan pentingnya PA untuk generasi digital dan melakukan PA dengan gadget mereka menggunakan metode S.A.B.D.A. Setiap langkah dari metode S.A.B.D.A. ini dijelaskan oleh Amidya dengan baik dan lancar.

Selain Ariel, Ayu, dan Amidya yang melakukan latihan, Aji yang bertugas untuk hal-hal teknis juga harus latihan. Mulai dari mempersiapkan materi, memastikan LCD dan komputer terhubung dengan baik, audio, pointer, kabel-kabel, rekaman video dan audio. Dari latihan ini, diharapkan masalah-masalah teknis yang ada bisa diatasi terlebih dahulu sebelum pelayanan dilakukan.

Setelah selesai melakukan latihan demi latihan, semua staf yang mengikuti latihan hari itu berdiskusi mengenai kedua presentasi yang dilakukan. Masing-masing memberikan pendapat dan saran agar presentasi bisa dijalankan dengan lebih baik. Ada yang berkomentar tentang gerak tubuh, cara bicara, bahkan tampilan dari presentasi yang dibawakan. Namun, hal tersebut bagi kami sangatlah baik, sebab dengan pelatihan ini kami bersama-sama mengevaluasi dan memikirkan kembali bagaimana cara terbaik untuk menumbuhkan semangat #ayo_PA! dalam setiap hati para generasi digital. Di tengah keseriusan diskusi, salah seorang peserta termuda di pelatihan tersebut, yaitu Jordan, mengungkapkan pendapatnya dengan dua kata saja, "Mudah dipahami," sederhana dan ambigu, membuat gelak tawa pecah saat itu juga. Yah, generasi seperti inilah yang akan kami layani nanti. Kiranya melalui gerakan #ayo_PA! dan roadshow yang kami lakukan ini bisa menolong para generasi digital untuk tetap bersekutu dan bertumbuh di dalam Tuhan dan firman-Nya.

Ayo ber-PA!

Ramainya Diskusi Kepemimpinan Kristen di Facebook Grup!

Blog SABDA - Fri, 2016-07-01 16:40

Tahun 2016 ini menjadi tahun yang cukup menggembirakan bagi para netter Kristen yang memiliki passion di kepemimpinan Kristen. YLSA melalui tim Penjangkauan membuka kelas diskusi seputar Kepemimpinan Kristen di Facebook Grup. Kini, mereka bisa mendiskusikan topik-topik kepemimpinan Kristen dengan lebih baik. Diskusi perdana membahas mengenai "Kepemimpinan Kristen, Apakah Itu?" yang diikuti 16 peserta.

Puji Tuhan, diskusinya sangat ramai dan setiap anggota antusias untuk belajar. Banyak pendapat yang bisa sangat melengkapi dan mengarahkan kita untuk memahami lebih dalam mengenai kepemimpinan Kristen. Sebagai moderator diskusi, saya sangat bersyukur karena Tuhan telah turut campur tangan dalam proses ini.

Apa ya kesaksian dari para peserta diskusi ini? Penasaran? Yuk, baca kesaksiannya sekarang juga!

Akhim Kupeilang:

Lewat kesempatan diskusi ini, saya belajar beberapa hal:

1. Ada banyak pendapat seputar kepemimpinan Kristen dan saya harus rendah hati untuk menerima dan belajar dari pendapat lain.

2. Ternyata kepemimpinan Kristen bukan topik yang menarik untuk dibicarakan oleh Kristen. Topik yang populer antara lain mukjizat, doa, dll.. Mungkin karena gereja tidak memberi porsi yang banyak dalam mengajarkan kepemimpinan.

3. Saya memakai SABDA tools sejak tahun 2005 dan sangat diberkati, saya juga bersyukur SABDA bergerak menjangkau Kristen dan non-Kristen lewat Facebook.

4. Terima kasih untuk Saudari Santy Tilestian yang sudah memimpin diskusi. Menurut saya, diskusinya sudah berjalan dengan baik, kita doakan dan usahakan supaya semakin lebih baik ke depannya.

Dhanang Rohi:

Saya cukup puas mengikuti kegiatan diskusi grup ini. Banyak hal yang dapat dipelajari. Salah satunya, setiap orang mempunyai pemahaman tentang kepemimpinan dan ilmu kepemimpinan yang berbeda-beda. Banyak jawaban anggota lain yang menanggapi pertanyaan diskusi, yang tidak saya pikirkan. Dari hal ,itu saya dapat belajar bahwa kita hidup dalam sebuah komunitas atau masyarakat yang masing-masing anggotanya berbeda pikiran, pendapat, pengalaman, talenta, dll.. Untuk menjadi pemimpin Kristen tidak perlu menguasai suatu komunitas, cukup mendengarkan dan menerima pendapat orang lain, dan mampu mengambil keputusan terbaik berdasarkan semua pendapat.

Selain itu, menjadi pemimpin kristen, saya harus menunjukkan kualitas sesungguhnya dari pemimpin Kristus, yaitu mengasihi, melayani, dan meneladani ajaran Tuhan Yesus.

Saya tetap berpendapat bahwa kepemimpinan didapatkan melalui pengalaman, sikap hidup, sikap dalam menghadapi sebuah masalah.

Saya dapat belajar bahwa sebagai pemimpin, meskipun bukan menduduki jabatan, saya juga harus menaati atasan saya, termasuk atasan yang agung, Yesus Kristus.

Saya dapat belajar juga bahwa: Saya tidak dapat memenuhi semua ekspetasi dan penilaian orang tentang kepemimpinan kristen yang berkualitas, cara memimpin secara baik, sikap hidup pemimpin kristen, tetapi saya hanya dapat menunjukkan apa yang terbaik yang bisa saya lakukan sebagai pemimpin Kristen.

Saya berterima kasih buat semua anggota lain yang juga telah menyampaikan pendapatnya sehingga saya dapat belajar dari anggota lain. Tuhan Yesus memberkati kita semua yang telah berperan aktif, dan semua pihak yang menyelenggarakan diskusi ini. Amin.

Andre Mafea:

Sekalipun kita tidak memimpin salah satu organisasi, tetapi minimal kita dapat memimpin diri kta sendiri.

Saya yakin bahwa setiap pelajaran yang telah didapatkan dari diskusi ini tidak akan pernah sia-sia dan akan sangat menolong para peserta bisa memimpin sesuai dengan standar kebenaran firman Tuhan. Selamat memimpin dan melayani! Tuhan Yesus memberkati.

Penyertaan Tuhan

SABDA Space Teens - Mon, 2016-06-27 15:22

PenyertaanMu sempurna
RancanganMu penuh damai
Aman dan sejahtera walau di tengah badai
Ingin ku s'lalu bersama
Rasakan keindahan
Arti kehadiranMu Tuhan.

baca selanjutnya

Tentang hal Ketakutan

SABDA Space Teens - Mon, 2016-06-20 11:58

Hai sobat, pernahkah anda merasa takut ? pasti pernahkan. Ketika anda takut apa yang anda lakukan ? apakah lari ? apakah menutup mata ?

baca selanjutnya

Mengenal Matematika

SABDA Space Teens - Fri, 2016-06-17 15:39

Matematika...

Salah satu pelajaran yang sudah dikenalkan kepada kita sejak kecil di TK dulu dan telah ada sebelum kamu Lahir. pelajaran yang satu ini juga merupakan momok bagi banyak murid dan menganggap Pelajaran ini bersifat Horror karena dikenal dengan tingkat kesulitan yang relatif tinggi serta terdapat banyak rumus didalamnya. Walaupun demikian Pelajaran ini selalu digunakan dalam menetukan kelulusan siswa SD, SMP & SMA. Nah, Apa sih matematika itu sebernarnya? Menurut Wikipedia Matematika adalah studi besaran, struktur, ruang, dan perubahan. Matematika sendiri memiliki 5 cabang, diantaranya : Aritmatika, Geometri, Alajabar, Trigonometri dan kalkulus.

baca selanjutnya

(Akhirnya) SABDA 5 ….

Blog SABDA - Fri, 2016-06-17 09:42

Pada 21 November 2015, saat kami mempersiapkan raker tahun 2015, kami mendengar kabar bahwa OLB (OnLine Bible) versi 5 sudah keluar! Hanya 2 hari setelah Drupal 8 keluar! Segera terbayang di mata saya bahwa tahun 2016 akan menjadi tahun yang sibuk. Sibuk sekali! Puji Tuhan, kesibukan itu membuahkan hasilnya pada akhir bulan Mei lalu, kami bisa merilis SABDA 5.1 Beta, berkat anugerah Tuhan Yesus.

SABDA 5.1 Beta Starterpack (92.4 MB) (1 Juni 2016)

Bagi yang belum mengenal Software SABDA, berikut saya ceritakan sedikit latar belakang dan sejarahnya. SABDA adalah program Alkitab OnLine Bible (OLB) versi Indonesia. Awal pertama SABDA lahir (SABDA 'versi 1') adalah tahun 1993/4. Saat itu belum banyak orang yang memiliki dan memakai komputer, apalagi memikirkan untuk memakai program Alkitab. Software SABDA versi 1 hanya berupa 3 versi Alkitab digital dalam bahasa Indonesia yang disebarkan bersama dengan OnLine Bible Eropa (bahasa Inggris). Selama 5 tahun berikutnya, yaitu tahun 1999, Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) berhasil mengembangkannya dalam versi bahasa Indonesia, baik dalam antarmukanya maupun sebagian besar isinya. YLSA memberi nama OLB versi bahasa Indonesia ini "SABDA" (Software Alkitab, Biblika Dan Alat-alat) dan SABDA versi 2 didistribusikan dalam CD (teknologi baru saat itu). Tahun-tahun berikutnya, YLSA terus mengembangkan SABDA menjadi SABDA versi 3 yang diluncurkan pada tahun 2004, dan SABDA versi 4 pada tahun 2010. SABDA 4 sudah tidak lagi disebarkan dalam CD, melainkan dengan teknologi penyimpanan baru, yaitu USB, DVD, dan SD Card. Pada tahun 2016, akhirnya SABDA versi 5 hadir di tengah-tengah kita.

Sebenarnya, sejak 2013, atau SABDA versi 4.30, kami tidak lagi sempat memperbarui program SABDA walaupun OLB masih terus mengembangkannya hingga versi 4.42. YLSA tidak mengembangkan lagi karena tidak ada staf yang memiliki kemampuan untuk melanjutkan pengembangan core Software SABDA. Jadi, yang dilakukan hanya menambah modul-modulnya saja.

Nah, menjelang raker atau memasuki tahun 2016, menjadi semakin jelas bahwa sayalah yang ditunjuk mewarisi proyek. Rencana pun disusun bersama dengan programmer ITS lain. Saya yang selama ini hanya sebatas pengguna Software SABDA kini dipercaya untuk mengembangkan SABDA versi berikutnya. Dengan berbekal dokumentasi dari para master sebelum saya, saya mulai menerjemahkan antarmukanya, yang menurut pengetahuan saya akan memakan waktu paling banyak. Benar saja, pertengahan Maret, antarmuka bahasa Indonesianya baru siap digunakan. Kemudian, saya mulai mendalami cara mengompilasi core, memperbarui halaman bantuan, serta meneliti apa saja fitur yang baru, dan akhirnya perlahan-lahan mulai menguasai cara memperbarui software dan modul SABDA.

Apa yang Baru di SABDA 5.1?

Perkembangan utama SABDA versi 5 adalah adanya SABDA Lite untuk peranti mobile, terutama bagi pengguna Windows Phone. Software SABDA sebenarnya sejak dahulu sudah mendukung Pocket PC, tetapi karena Pocket PC tidak berkembang, SABDA pun bergerak ke arah Android. Baru pada versi 4.40, OLB mendukung tablet Windows Intel. Kemudian, pada versi 5.00, OLB akhirnya menghentikan dukungan terhadap Pocket PC. Mungkin itulah satu-satunya perubahan yang signifikan terhadap para pengguna SABDA.

Bersamaan dengan peluncuran SABDA 5, kami pun tidak mau kehilangan momentum untuk membuat modul-modul baru atau memperbarui modul-modul yang sudah ada. Modul baru yang ditambahkan dalam Software SABDA 5.1 Beta ini, di antaranya adalah:

  1. i_AYT -- 2016 Alkitab Yang Terbuka:

    Alkitab dengan terjemahan modern yang mengusung prinsip: Setia - Jelas - Relevan. Alkitab ini disebut "terbuka" karena menyajikan suatu kondisi ketika orang-orang yang memiliki Alkitab ini akan selalu membukanya untuk dibaca dan dipelajari dengan lebih mudah. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dilengkapi dengan catatan kaki (PB).

  2. i_TSI -- 2013 Alkitab Terjemahan Sederhana Indonesia:

    Alkitab Perjanjian Baru yang menggunakan terjemahan bahasa Indonesia sederhana yang cocok digunakan untuk penutur bahasa Indonesia di Indonesia bagian Timur.

  3. id_Matthew_Henry_Cat -- Tafsiran Alkitab Matthew Henry:

    Tafsiran Alkitab oleh Matthew Henry dalam bahasa Indonesia. Saat ini, tersedia empat kitab Injil dan Kisah Para Rasul, Kejadian, Mazmur, dan Amsal.

  4. id_Renungan_Oswald_Chambers:

    Renungan "My Utmost for His Highest" oleh Oswald Chambers yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Sebanyak 366 renungan Kristosentris terbit pertama kali pada tahun 1935 dan sangat disukai oleh banyak orang Kristen di seluruh dunia dan masuk menjadi sepuluh besar buku Kristen terlaris.

Saya bersyukur dapat mengambil bagian dalam pengembangan Software SABDA 5 ini. Doakan supaya SABDA 5 menjadi alat yang dapat digunakan untuk mempelajari firman Tuhan dengan lebih dalam lagi, dan menjadi sarana memperluas penyebaran firman-Nya, sama seperti kehendak Allah yang ditulis dalam surat Paulus kepada Timotius, "... (Kristus) menghendaki semua orang diselamatkan dan dapat mengerti pengetahuan akan kebenaran." (1 Timotius 2:4, AYT)

Seminar: Be A Better Parent: Be a Better Dad and Be The Best Mom You Can Be

Blog SABDA - Wed, 2016-06-15 11:58

Dalam budaya Asia, khususnya pada masyarakat Indonesia, bukanlah satu hal yang aneh ketika anak menjadi pusat dan fokus (perhatian) dalam keluarga. Contohnya, jika kita ingin pergi keluar untuk makan, tawaran untuk memilih tempat tujuan jajan/makan pertama-tama ditujukan kepada anak. Atau, ketika seorang ibu memasak dan menyediakan lauk-pauk, seringnya bagian yang terbaik dan terenak diberikan kepada anak. Bahkan, sampai di atas usia lima tahun, anak-anak terkadang masih dibiarkan tidur bersama orangtua karena orangtua tidak tega membuat anak tidur sendiri di kamarnya. Nah, ternyata menurut Ibu Charlotte Priatna, pembicara dari seminar "Be a Better Parent: Be a Better Dad and Be The Best Mom You Can Be", hal-hal itu merupakan budaya dan kebiasaan yang salah dari banyak keluarga. Nyatanya, masih ada beberapa kesalahan atau kekeliruan lagi yang sering kita lakukan, tetapi tidak disadari sebagai suatu kesalahan karena sudah berlaku secara umum. Namun, terus menjalani kekeliruan tersebut tanpa menyadari implikasi dan dampaknya terhadap anak dan masa depannya, tentu saja bukanlah hal yang kita inginkan. Semenjak kecil, anak harus mendapat contoh dan teladan yang benar dalam hal relasi, peran, fokus, tujuan, serta kebiasaan-kebiasaan dari orangtua sehingga kelak mereka pun dapat menjalankan tugas dan fungsinya secara benar sebagai suami, istri, dan orangtua.

Dalam acara seminar yang berlangsung di Gereja Kristen Kalam Kudus, tanggal 4 Juni 2016 tersebut, Ibu Charlotte mengemukakan dua hal yang menjadi ancaman orangtua dalam mendidik anak. Yang pertama adalah meremehkan pentingnya peran dari hubungan suami istri dalam proses mendidik anak. Dalam kesalahan ini, pembicara menjelaskan bahwa sesungguhnya pengaruh terbesar dalam mendidik anak tidak berasal dari peran sebagai ayah dan ibu, melainkan dalam peran sebagai suami istri. Keberhasilan anak ditentukan dari hubungan ayah ibunya sebagai suami dan istri, dan bukan semata-mata dari hubungan antara orangtua dengan anak. Yang perlu dicatat bagi para orangtua adalah bahwa hubungan yang harmonis di antara suami dan istri merupakan hadiah yang sangat berharga dari orangtua kepada anak. Mengapa? Karena, ketika anak-anak melihat hubungan di antara ayah dan ibunya terjalin dengan harmonis dan penuh dengan cinta kasih, maka hal itu memberikan dasar dan landasan yang kuat bagi psikologis anak untuk merasa aman dan bahagia. Relasi antara suami dan istri menjadi faktor penting yang menyangga sebuah keluarga karena dari sanalah struktur dan jalinan relasi keluarga dibentuk dan diawali. Tanpa kerangka dasar relasi yang kuat antara suami dan istri, maka akan rapuhlah struktur bangunan relasi dalam sebuah keluarga. Hal itu pertama-tama akan berpengaruh pada psikologis dan perkembangan anak, yang kemudian menjalar kepada berbagai bidang kehidupan anak. Maka, untuk terus memupuk dan memelihara relasi di antara suami dan istri, hal-hal seperti dating, bulan madu, dan perayaan hari ulang tahun perkawinan dapat menjadi kegiatan rutin yang perlu selalu dilakukan oleh tiap pasangan. Tidak perlu dilakukan di restoran atau tempat-tempat traveling yang mahal, sebab yang terpenting adalah suasana dan kesempatan untuk meningkatkan relasi dan cinta kasih di antara suami dan istri .

Kesalahan yang kedua adalah hal yang telah disebutkan dalam paragraf pertama, yaitu saat orangtua terperangkap untuk menjadikan anak sebagai pusat (child centered) dalam keluarga. Kehadiran anak dalam sebuah keluarga sesungguhnya bukanlah untuk membentuk atau melengkapi sebuah keluarga, tetapi hanya memperluas lingkup sebuah keluarga. Yang seharusnya menjadi pusat atau fokus utama dalam sebuah keluarga adalah Tuhan (Christ Centered), karena memang Kristuslah yang menjadi fokus dan inti utama dalam kekristenan. Bukan hanya menjadikan-Nya sebagai kepala dalam tiap rumah tangga, berfokus kepada Kristus juga akan memberikan arahan dan tujuan yang benar bagi tiap keluarga. Jika bukan Kristus yang menjadi fokus dalam keluarga, akan terjadi banyak hal yang tidak akan mendatangkan damai sejahtera di dalam keluarga, dan tentu saja rencana dan kehendak Allah akan sulit terjadi di tengah-tengah situasi seperti itu.

Hal terakhir yang dibicarakan oleh Ibu Charlotte adalah peran suami dan istri di dalam keluarga. Landasan Alkitab bagi struktur peran keluarga terdapat di dalam Efesus 5:21-33. Dari sana, jelas terdapat perbedaan peran antara ayah dan ibu di dalam keluarga meskipun dalam pelaksanaannya keduanya dapat berbagi peran bersama atau saling mengisi peran yang lain ketika memang hal itu diperlukan dalam situasi-situasi tertentu. Peran ayah tidak dapat dilalaikan, begitu pula peran ibu. Karena jika demikian, akan terjadi disfungsi di dalam keluarga. Para istri perlu menundukkan diri kepada suami yang adalah kepala dalam keluarga meskipun kaum wanita adalah pihak yang sering kali memiliki sikap yang mendominasi dan mengatur segala sesuatu. Para suami sebaiknya juga harus mengasihi dan mendukung istri karena itulah yang menjadi kunci dari penundukan diri para istri. Jika peran itu sudah dijalankan oleh masing-masing pihak dengan baik, keduanya akan menjadi tim yang solid dalam berperan sebagai orangtua bagi anak-anak.

Sebagai seorang wanita sekaligus seorang ibu, saya bersyukur mendapat kesempatan untuk mengikuti seminar ini. Ada banyak pembelajaran yang saya dapat melaluinya yang tentu saja sangat berguna untuk diaplikasikan, baik di dalam peran sebagai seorang istri, ibu, maupun di dalam pelayanan. Nah, setelah membaca blog ini, saya harap kita semua bisa mulai menerapkan apa yang sudah disampaikan oleh Ibu Charlotte bersama pasangan masing-masing untuk memberikan teladan dan pola pengasuhan yang baik bagi anak-anak kita. Dengan demikian, kita pun akan dapat melaksanakan dengan baik apa yang menjadi panggilan hidup kita sebagai orang percaya, baik sebagai istri, suami, ibu, ayah, dan orang tua untuk membawa kemuliaan bagi nama Tuhan.

Segala puji hanya bagi Tuhan!

Bukan Rencana-ku, Bukan Rencana-mu, tetapi Rencana Tuhan

Blog SABDA - Wed, 2016-06-15 11:04

Saat sedang menulis sebuah artikel di kantor, aku teringat akan temanku si Yuku, yang memberi tahu soal lowongan kerja di Yayasan Lembaga SABDA. Aku bercerita kepada Mbak Evie di sampingku, "Rasanya, aku tidak akan sampai di SABDA kalau aku tidak kenal Yuku. Aku berutang budi pada dia." Jawaban Mbak Evie sangat tidak terduga, "Bukan Yuku yang memanggilmu ke sini, Jon, tetapi Tuhan yang memanggilmu." Wow, jawaban yang sangat teologis di tengah pembicaraan mengenai pekerjaan. Persoalan hidup yang dibahas dengan kacamata rohani.

Urusan Rohani dan Duniawi di Tangan Tuhan

Inilah pelajaran berharga yang kudapat selama bekerja di YLSA, yaitu semua hal dalam hidup dikerjakan untuk Tuhan (Kolose 3:23), tak ada pemisahan antara urusan rohani dan duniawi. Setiap pekerjaan yang kita lakukan adalah pertanggungjawaban pada Tuhan. Mulai dari cara kerja, motivasi, dan hasilnya harus dibawa kepada Tuhan sehingga menghasilkan kualitas dan manfaat yang jelas bagi orang lain. Bagi YLSA, hal itu adalah membuat orang mengenal firman Tuhan melalui Alkitab dalam media digital, baik itu situs, media sosial, aplikasi mobile, dan beragam teknologi lainnya.

Jadinya, kondisi kerohanian kita akan terlihat dalam hasil kerja kita, sebab karakter dan pemahaman rohani kita akan terbawa dalam hasil kerja kita, dan bagian yang kurang tepat akan serta-merta dikoreksi untuk menyebarkan firman Tuhan dengan tepat dan komunikatif. Bukan cuma beban kerja, tetapi juga beban rohani dibawa turut serta.

Namun, beban itu tak serta-merta memberatkan, melainkan membuka jalan bagi karunia Tuhan dalam melayani di YLSA. Di antaranya adalah lebih mengenal firman Tuhan dan mengenal potensi diri.

Karunia Rohani dan Profesional

Setiap hari, kami sekantor menjalani Pemahaman Alkitab (PA) bersama untuk memahami dan menerapkan kebenaran firman Tuhan di dalam hidup kami. Dalam 1 jam, kami bisa menggali banyak hal dalam PA dengan metode S.A.B.D.A. ini, baik mengenai konteks ayat, makna tafsiran, dan karakter para tokoh di dalamnya. Terkadang, pembicaraan kami bisa melebar ke berbagai hal: pelayanan gereja, kondisi masyarakat, kesaksian pribadi, dan lain-lain. PA ini membuat Alkitab menjadi sangat dekat dengan kehidupan kami sehari-hari dan mendorong kami untuk membuat aplikasi yang akan diterapkan dalam hidup kami masing-masing. Setiap permohonan kami ditutup di dalam doa.

Dalam pekerjaan, aku diberikan beragam pekerjaan digital. Pertama-tama, aku ditugaskan untuk membuat aplikasi Android dengan programming. Tugas ini berjalan cukup baik dan dikerjakan secara individual. Kemudian, aku didapuk untuk mengelola pelayanan Apps4God yang mencakup situs web, media sosial, dan publikasi sekaligus. Model pekerjaan yang skalanya lebih luas ini menuntut kerja tim, perencanaan, dan manajemen tim yang baik, kontras dengan sebelumnya. Pengalihan kerja ini membuatku frustrasi karena terbiasa bekerja sendiri dan pasif. Aku belajar membuat perencanaan dan pengaturan waktu dengan rinci. Aku perlu melengkapi diri agar bisa melakukan tugas dengan optimal. Teori-teori manajemen seperti PACE, Lean Startup, dan Agile Process, harus diserap dan dipraktikkan. Hasilnya naik turun, tetapi di bagian inilah yang paling memberiku banyak pelajaran untuk mengenal diri, memimpin orang lain, dan bekerja keras sesuai tenggat waktu.

Pelajaran dari YLSA

Dari YLSA, aku belajar bahwa Tuhan telah mempersiapkan pelayanan untuk masa depan, di mana firman Tuhan dapat menyentuh hati orang-orang di zaman yang serba digital. Di zaman yang mulai mengilahkan teknologi dan membuatnya cenderung dijauhi gereja, YLSA menjadi game changer yang menundukkan teknologi untuk melayani Tuhan melalui visi IT4God dan Apps4God. Bagiku, pelayanan YLSA ini keren, revolusioner, dan berdampak.

Masih banyak pelayanan YLSA yang belum sempat aku gali lebih jauh: PESTA, multimedia, SABDA-Bot, dan beragam publikasi Kristen lainnya seperti e-Konsel atau e-Reformed. Bagianku sudah selesai di sini. Tulisan ini bukan hanya tentang aku, tetapi tentang Anda, para pembaca. Apakah Anda ingin mengambil bagian dalam pelayanan masa depan? Apakah Anda seorang ahli IT yang rindu melayani, atau seorang yang ingin menyentuh hidup orang lain dengan firman Tuhan melalui media digital? Anda akan menemukan tempat Anda di sini. Come and join YLSA!