Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Feed aggregator

Ultah Nih… Mbak Amid

Blog SABDA - Wed, 2015-07-01 15:23

Bersyukur kali ini sahabat dan rekan kami, Amidya, berulang tahun pada usia yang telah mencapai seperempat abad. Usia yang matang untuk seorang wanita yang gemar belajar sejarah ini. Dan, bila Tuhan menghendaki, tahun ini ia juga akan menyediakan diri untuk dipinang oleh seorang laki-laki idamannya ... ciyeee ... eee.

Seperti biasa, ada tradisi keluarga besar YLSA dalam menyambut staf yang berulang tahun. Yups, tradisi berkumpul bersama dan berdoa. Tepat jam 15.00 kemarin (30/6/'15), kami para staf berkumpul di dapur Griya SABDA. Kami mempersilakan wanita periang yang berulang tahun ini untuk sharing ucapan syukur dan pokok doanya. Ia mengucap syukur untuk setiap anugerah Tuhan yang telah diterimanya dan untuk pelayanan yang boleh dikerjakannya bersama dengan rekan-rekan staf YLSA. Ia bersyukur Tuhan telah menolong pelayanannya sebagai koodinator PESTA, banyak berkat yang telah diterimanya dan Tuhan mengerjakan banyak hal dalam hidupnya sehingga ia pun mengalami pertumbuhan secara rohani.

Setelah itu, ia juga membagikan beberapa pokok doa. Pokok doa pertama adalah supaya Tuhan turut campur tangan menolong pelayanannya sebagai seorang Pelayan Tuhan, terkhusus sebagai koordinator PESTA. Pokok doa keduanya adalah untuk penyelesaian tugas akhirnya di kampus dan agar dapat wisuda tepat waktu sebagai seorang Magister Pendidikan. Ketiga, berhubungan dengan topik panas ... hehe, yaitu pokok doa untuk pernikahannya di akhir tahun nanti, yaitu agar Tuhan menolong dalam segala persiapan hari penikahannya nanti. Terakhir kami berdoa bersama untuk ketiga pokok doa ini, kali ini mbak Okti yang berkesempatan untuk memimpin kami para staf berdoa bagi yang berulang tahun.

Mari, kita katakan sama-sama: Selamat ulang tahun sobat kami, Amidya ....
Kiranya belas kasih dan kasih karunia Tuhan Yesus besertamu selalu.

Ulang Tahun Yuni

Blog SABDA - Thu, 2015-06-25 13:04

Hari senin kemarin, ada dua orang cowok magang yang berasal dari Universitas Petra, Surabaya, serta satu orang cewek baru yang masuk sebagai staf baru di YLSA. Nah, pada waktu Persekutuan Doa hari Senin, mereka diberi waktu untuk memperkenalkan diri mereka masing-masing, dengan menyebutkan nama, tempat tinggal, dan hobi. Setelah persekutuan, mereka langsung aku berikan orientasi tentang presensi, laporan kerja, dan hal-hal pokok seputar admin. Dari tiga orang ini, yaitu, Andi, Kevin, dan Yuni, Yuni adalah orang yang paling diam pada saat aku orientasi alias tidak banyak tanya.

Nah, hari Rabu kemarin, tiba-tiba ada teman yang mengatakan kalau hari ini salah satu dari mereka ultah. Orang itu adalah Yuniatun atau yang sering dipanggil Yuni. Dia berulang tahun pada tanggal 24 Juni, untuk usia yang ke-24. Wah, cantik ... cantik ... tanggal 24, usia 24, hehehe. Jadi, sehabis makan siang hari itu, kami berkumpul sebentar untuk menyanyikan lagu "Selamat Ulang Tahun" serta mendengarkan sharing dan pokok doa dari Yuni. Pemimpin acara siang itu adalah Setya, yang kemudian langsung memberikan hak istimewa untuk mendoakan Yuni kepada Andi, staf magang baru.

Isi dari pokok-pokok doa Yuni adalah untuk pelayanannya di YLSA, untuk kesehatannya, dan juga agar keluarganya dapat dimenangkan oleh Kristus. Kami pun bersama-sama mendoakan kerinduannya tersebut dengan dipimpin oleh Andi. Selesai berdoa, kami semua langsung antre untuk bersalaman sambil mengucapkan ucapan selamat ulang tahun kepada Yuni.

Selamat ulang tahun Yuni, Tuhan Yesus memberkatimu selalu.

Pelatihan BGA di STT Amanat Agung, Jakarta

Blog SABDA - Wed, 2015-06-10 12:53

Pada tanggal 1 -- 6 Juni 2015, saya, Mbak Liana, dan Pak Victor berkesempatan untuk mengikuti training Baca Gali Alkitab (BGA) yang diselenggarakan oleh Scripture Union Indonesia di STT Amanat Agung, Kedoya, Jakarta Barat. Saya pribadi sungguh bersyukur karena mendapat kesempatan untuk belajar memahami proses BGA dan pelajaran dalam Biblika Alkitab selama 1 minggu.

Pelatihan BGA ini adalah pelatihan tingkat nasional, jumlah peserta yang mengikuti ada 55 peserta dan didominasi oleh peserta dari Papua dan Halmahera. Dosen pengajar yang dipilih adalah ahli-ahli Biblika di bidangnya, yaitu Ev. Inawati Teddy (Perjanjian Lama) dari Sekolah Tinggi Teologi Reformed Injili yang membawakan Eksposisi Daud dan Memahami Kitab Kejadian, Pdt. Yongky Karman (Perjanjian Lama) dari Sekolah Tinggi Teologi Jakarta yang mengajar Memahami Kitab Amsal dan Roh-Roh dalam Perjanjian Lama, dan Pdt. Yohanes Adrie Martopo (Perjanjian Baru) dari STT Amanat Agung yang mengajar Memahami Injil Matius. Selain para dosen, ada pula para fasilitator dari Scripture Union yang mengajarkan metode BGA kepada semua peserta. Ada Pdt. Armand Barus yang menjadi fasilitator Surat 1 Yohanes, Ibu Tety yang menjadi fasilitator Kitab Amsal, dan Ibu Rondang Sitompul yang menjadi fasilitator Injil Matius.

Saya sungguh mengingat baik-baik pesan Ibu Yulia sebelum kami berangkat, "Selama pelatihan BGA, kalian harus belajar sebaik mungkin, serap sebanyak mungkin ilmu, dan harus melayani semua peserta". Dalam pelatihan ini, kami tidak hanya datang sebagai peserta, tetapi kami juga membagikan produk-produk SABDA di sana. Dapat dikatakan tugas kami cukup berat, tidak hanya belajar, kami juga harus melayani. Dalam semua itu, kami sungguh mengucap syukur kepada Tuhan, sebab Ia menolong dan memampukan kami. ^_^

Selama mengikuti pelatihan BGA, saya pribadi belajar banyak. Misalnya dari pelajaran Pengantar Kitab, saya belajar bahwa masing-masing kitab dalam Alkitab memiliki kekhasan dan keunikannya sendiri, sementara dari kelas BGA saya belajar bagaimana melakukan PA dengan melihat satu per satu ayat dalam teks yang sedang dipelajari. Dalam kelas BGA, ada beberapa varian yang diajarkan, tetapi karena kami berada di level Executive Ministry 1 (EM 1), varian yang kami terima adalah varian 1. Ada tiga hal penting dalam varian 1 ini, yaitu:
1) Kupelajari (Siapa dan Apa yang kutemukan dalam teks?)
2) Pesan
3) Respons

Sementara untuk booth SABDA, kami sungguh bersyukur karena semua peserta antusias dan terberkati dengan produk-produk pelayanan SABDA. Sejak hari pertama, booth SABDA "laris manis" dikunjungi peserta, dapat dikatakan bawaan kami tinggal separuh. Akan tetapi, booth tetap dibuka sampai hari terakhir. Peserta juga sangat berminat dengan aplikasi-aplikasi Android dari SABDA, dan mereka sangat bersyukur mendapatkan aplikasi-aplikasi tersebut. Beberapa Pendeta dari Papua, Ambon, dan Halmahera berkata, "Akhirnya, saya dapat juga apa yang saya butuhkan untuk belajar Alkitab dan berkhotbah." Dalam bahasa dan dialeknya, Pdt. Otniel dari Papua mengucapkan terima kasih kepada SABDA, "Kasumasa, SABDA!" Harapan kami, semua peserta yang sudah menerima produk dari SABDA dapat terus dipacu untuk melek teologi dan menggunakan bahan-bahan yang sudah ada di tangan mereka. Bahkan, kami berdoa mereka akan membagikannya kepada lebih banyak orang.

Akhirnya, kami mengucap syukur karena selama satu minggu di Jakarta, kami dapat belajar dan melayani semua peserta dengan baik. Kasih dan pemeliharaan Tuhan sungguh kami rasakan setiap harinya. Sebagaimana motto Scripture Union Indonesia "Segar, Kuat, Sigap", saya pun merasakan segar dengan pelajaran yang saya terima, iman saya dikuatkan, dan saya harus selalu sigap dalam melayani pekerjaan Tuhan.

Soli Deo Gloria!

Nonton Bareng Film “The Gospel of Luke”

Blog SABDA - Wed, 2015-06-10 11:58

Oleh: Viktor Kristianto*

Minggu lalu, saya baru menyelesaikan review terhadap Injil Lukas versi Alkitab Yang Terbuka, kemudian kami berkesempatan menonton sebuah film berjudul "The Gospel of Luke" berdurasi 4x30 menit dengan narator musisi Michael Card. Kami menonton film tersebut bersama-sama seluruh staf Yayasan Lembaga SABDA, dengan tujuan agar memperoleh wawasan yang lebih lengkap tentang Injil Lukas, terutama dengan latar belakang daerah di mana Yesus dulu pernah tinggal dan melayani. Latar belakang film adalah Palestina, khususnya lokasi-lokasi yang bernilai historis seperti sungai Yordan, danau Galilea, Hotel King David di Yerusalem, dan lain-lain.

Ada beberapa kesan yang saya peroleh dari film tersebut, di antaranya:

a. Injil Lukas memiliki ciri yang khas dibandingkan dengan ketiga Injil yang lain, yaitu banyaknya pujian yang ditulis Lukas. Ada pujian Maria, pujian Zakharia, pujian malaikat di padang, dan juga pujian Simeon. Dari puji-pujian itu, Injil Lukas menonjolkan pesan sosial yang kuat.

b. Ada kontras yang mencolok antara para pemimpin yang gagal menangkap pesan Yesus, dan orang-orang sederhana yang tersisih dari masyarakat yang justru menangkap pesan Yesus. Orang-orang yang tersisih itu termasuk para gembala, pemungut cukai, orang Samaria, dan juga para perempuan. Dengan kata lain, para pahlawan dalam Injil Lukas adalah orang-orang yang tersisih dalam masyarakat.

c. Kontras yang lain adalah kedatangan Yesus ke dunia dalam kondisi yang sangat sederhana, dibandingkan dengan pola hidup raja-raja pada masa itu seperti Herodes, Tiberius, dan Pontius Pilatus yang cenderung hedonis.

d. Narasi yang dibawakan oleh Michael Card sangat baik, apalagi dengan latar belakang daerah-daerah di Palestina ataupun Roma, seperti sungai Yordan atau Circus Maximus (arena perlombaan kereta zaman dulu, dan konon tempat Petrus disalibkan secara terbalik).

Latar belakang tempat-tempat bersejarah di sekitar Galilea dan Yerusalem itu sangat membantu saya untuk dapat lebih memahami makna tindakan-tindakan yang dilakukan Yesus.

Di penghujung film, Michael Card mengisahkan tentang dua orang murid Yesus yang tidak mengenal Yesus walaupun Ia berjalan bersama-sama dengan mereka cukup jauh. Mereka sepertinya kehilangan pengharapan, tetapi ketika Yesus memecahkan roti di depan mereka, barulah mereka menyadari bahwa itu Yesus. Jadi dari harapan yang rendah, mereka kembali memiliki harapan yang tinggi. Demikian juga para perempuan yang datang ke kubur Yesus pada hari Minggu pagi, sebenarnya hanya ingin meminyaki jenazah Yesus. Mereka pun memiliki pengharapan yang rendah, tetapi ketika mereka mendapati kubur yang kosong dan berjumpa dengan malaikat, barulah mereka kembali memiliki harapan yang tinggi akan Yesus. Sampai di sini, Michael Card lalu bertanya, "Bagaimana dengan Anda? Harapan apakah yang Anda miliki di dalam Yesus?"

Akhirnya, film ini direkomendasikan tidak saja bagi para hamba Tuhan dan para pendeta agar dapat lebih memahami konteks Injil Lukas, tetapi juga bagi semua orang Kristen awam yang belum sempat membaca Injil Lukas dengan penuh rasa hormat. Dengan melihat film ini, dalam 2 jam saja Anda akan belajar memahami kekayaan pesan yang disampaikan oleh Injil Lukas.

Seminar Doktrin Predestinasi dan Kebebasan

Blog SABDA - Wed, 2015-06-10 11:51

"Datang ya, ke seminar 'Doktrin Predestinasi dan Keselamatan' besok ...," kata Evie mengingatkan kami semua pada akhir persekutuan staf Jumat siang itu. Kebetulan di beberapa persekutuan staf sebelumnya, Ibu Yulia memberikan training mengenai dosa dan keselamatan kepada seluruh staf YLSA. Didorong oleh perasaan ingin tahu lebih banyak tentang doktrin John Calvin mengenai predestinasi, saya berniat datang ke seminar yang berupa tayangan langsung dari Katedral RMCI Jakarta oleh Pdt. Dr. Stephen Tong dan rekan-rekannya. Saya datang ke MRII Solo bersama tante saya yang juga berminat untuk belajar tentang Predestinasi. Berikut adalah sharing yang saya dapat dari seminar tersebut:

Seminar dibuka dengan sesi pertama tentang dosa manusia dan kedaulatan Allah. Pembicara membuka dengan kata-kata Paulus dalam Roma 3, yang menyatakan bahwa semua manusia telah jatuh ke dalam dosa dan tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Hal ini penting agar kita memahami bahwa keselamatan adalah sepenuhnya karya Allah dan tidak ada usaha manusia sehingga manusia tidak dapat membanggakan dirinya. Jika sampai saat ini masih ada kebaikan, keindahan, dan kemampuan manusia untuk melakukan hal yang baik, misalnya untuk mencipta dan menikmati keindahan, itu pun karena Allah yang memberikan anugerah umum kepada setiap manusia.

Kemudian, pembicara mengajak kami untuk membuka Ayub 42:2, yang menyatakan tentang rencana Allah yang tidak pernah gagal karena Allah kita adalah Allah yang berdaulat. Allah berdaulat, artinya:
1. Allah berhak dan berkuasa untuk menentukan segala sesuatu demi kemuliaan-Nya.
2. Allah melaksanakan apa yang ditetapkan-Nya demi kemuliaan-Nya.
3. Allah mengendalikan ciptaan-Nya demi kemuliaan-Nya.
Dari sini, disimpulkan bahwa kedaulatan Allah sesungguhnya adalah usaha-usaha yang dilakukan Allah demi kemuliaan nama-Nya. Namun, sifat kedaulatan Allah itu harus dipahami dalam integrasi sifat-sifat Allah; yang suci, yang tidak akan berbuat dosa, dan yang bijaksana, sehingga tidak ada yang dilakukan Allah yang sia-sia. Peristiwa penciptaan sendiri merupakan ekspresi dari kedaulatan Allah.

Pembicara berikutnya adalah Pdt. Stephen Tong, yang memulai pembicaraannya dengan mengatakan bahwa doktrin itu penting. Mengapa? Karena dengan doktrin, kita dapat memelihara pengajaran para rasul dengan setia dan benar, sehingga kita tahu apa dan siapa yang kita percayai. Tidak ada agama yang tidak memiliki doktrin atau pengajaran. Salah memilih doktrin, kita menjadi tersesat. Beliau menceritakan tentang kehidupan Agustinus, seorang tokoh gereja yang besar, yang pada awalnya hidup dalam kesesatan dan doktrin yang salah, sehingga berdampak pada kehidupan yang dijalaninya. Namun, ketika akhirnya ia bertobat dan mengikuti doktrin yang benar, yang tidak didasarkan pada pengalaman, pendapat, atau kebiasaan yang dimilikinya, Agustinus akhirnya menjadi salah satu filsuf Kristen terbesar di sepanjang masa, yang memuliakan Tuhan dengan iman dan akal budinya.

Selanjutnya, beliau berbicara mengenai definisi kebebasan. Bagi manusia, kebebasan berarti dapat melakukan segala sesuatu sekehendak hati. Namun, pada kenyataannya, hal itu tidak mungkin terjadi karena kebebasan manusia dibatasi oleh kebebasan manusia yang lain. Immanuel Kant mendefinisikan kebebasan yang mutlak sebagai kebuasan karena kebebasan sesungguhnya memiliki definisi yang bersifat mengikat dan terbatas. Menarik apa yang diungkapkan oleh Pak Tong mengenai makna dari kebebasan sejati, yaitu: "Ketika saya dapat melakukan apa yang tidak ingin saya lakukan". Ketika manusia jatuh dalam dosa, ia menjadi hamba dosa, dan hanya dapat melakukan apa yang menjadi keinginan daging, yaitu keinginan dosa. Hanya ketika menerima keselamatan dalam Yesus Kristus, maka manusia dapat menjadi manusia yang merdeka, karena Roh Kudus memampukan manusia untuk tidak melakukan keinginan kedagingannya.

Kebebasan manusia berasal dari Allah, oleh karena itu manusia harus mempertanggungjawabkan kebebasannya kepada Allah. Hanya Allah satu-satunya Pribadi yang memiliki kebebasan yang benar-benar bebas. Allah mampu membatasi kebebasan-Nya yang mutlak di bawah prinsip kebenaran-Nya, sehingga ia tidak berdosa dan menjadi satu-satunya Pribadi yang dapat menghakimi manusia. Yesus Kristus adalah teladan yang sempurna dalam menggunakan kebebasan-Nya, terutama ketika tunduk pada kehendak Bapa-Nya pada peristiwa penyaliban 2000 tahun yang lalu.

Sayang sekali, saya tidak dapat mengikuti acara sampai selesai sehingga tidak dapat membagikan materi dengan lengkap. Meskipun demikian, saya bersyukur dapat mendengar sebagian dari seminar Doktrin Predestinasi dan Kebebasan ini sehingga saya mendapatkan penjelasan yang lebih dalam mengenai doktrin yang dianut oleh gereja-gereja aliran reformed. Kata "diselamatkan" tidak lagi memiliki makna sama seperti yang saya ketahui sebelumnya. Semoga ini bukan menjadi euforia sesaat, melainkan menjadi pupuk bagi pertumbuhan iman dan menjadikan iman saya semakin lebih hidup.

To God be the Glory!

Training Kepenulisan di SABDA (10 April 2015)

Blog SABDA - Mon, 2015-06-08 15:23

Dalam mengerjakan pelayanan yang telah dipercayakan oleh Tuhan bagi kita, ketetapan dan kesungguhan hati memang merupakan hal yang paling utama bila dibandingkan dengan yang lain. Akan tetapi, hal ini juga perlu diimbangi dengan kemauan untuk terus belajar dan menemukan hal yang baru untuk menjadikan kualitas pekerjaan pelayanan kita terus meningkat hari demi hari. Oleh karena itu, Yayasan Lembaga SABDA selalu memotivasi dan memfasilitasi para stafnya untuk meningkatkan kompetensi mereka melalui berbagai macam pelatihan yang terus diberikan untuk mencapai tujuan tersebut.

Pada hari Kamis tanggal 10 April 2015 yang lalu, Yayasan Lembaga SABDA juga kembali mengadakan pelatihan untuk para stafnya. Ada dua topik yang diangkat dalam pelatihan kali ini. Topik yang pertama adalah tentang cara menyusun paragraf yang logis. Topik ini sangat bermanfaat, khususnya bagi para staf divisi publikasi yang memang berkecimpung dalam bidang tulis-menulis. Sekalipun tidak semua bahan yang ada dalam divisi publikasi ditulis sendiri oleh para stafnya, hal-hal yang didapatkan melalui pelatihan ini akan sangat membantu ketika mereka harus membuat editorial, menulis kesaksian, menyunting artikel, dll.. Tidak hanya bagi divisi ini saja, topik ini juga bermanfaat bagi para staf dari divisi-divisi yang lain untuk membantu mereka dalam mengerjakan tugas-tugas menulis artikel, blog atau sejenisnya.

Topik lain yang dibahas dalam pelatihan kali ini adalah kelebihan dan kekurangan penggunaan slide PowerPoint sebagai alat bantu presentasi. Tentu saja, topik ini sangat relevan karena memberikan pemahaman bagi kita bahwa sekalipun memiliki kelebihan yang cukup banyak, kita tidak boleh bergantung kepada slide PowerPoint yang kita buat. Slide PowerPoint hanyalah alat bantu untuk kita dalam menyampaikan materi agar lebih mudah diterima oleh orang lain, bukan sebaliknya. Oleh karena itu, kita seharusnya lebih menguasai materi sehingga ketika listrik padam dan slide yang kita buat tidak dapat ditampilkan pun kita masih tetap bisa menyampaikan materi dengan maksimal.

Bersyukur untuk pelatihan kali ini karena wawasan saya semakin ditambah melalui materi-materi yang disampaikan. Semoga dengan lebih banyak lagi pelatihan-pelatihan semacam ini, potensi setiap pelayan Tuhan bisa lebih lagi dikembangkan dan kinerja mereka bisa semakin ditingkatkan. Hanya, perlu selalu diingat bahwa segala sesuatu datangnya dari Tuhan dan harus dikembalikan kepada Tuhan demi kemuliaan nama-Nya. Tuhan Yesus memberkati.

Tidak Pernah Menyesal Berada di SABDA

Blog SABDA - Fri, 2015-05-29 14:12

Oleh: Wiwin*

Dari perusahaan farmasi masuk ke SABDA?? Ehm, jelas hal yang cukup besar bedanya. Tidak sekadar istilah-istilah yang berubah, tetapi juga metode kerja pun berubah. Memang perlu adaptasi, tetapi saya sangat percaya bahwa Allah tidak pernah salah menempatkan saya di SABDA. Setiap hari saya dibawa untuk berjumpa dengan firman Tuhan di sela-sela jam kantor, yang secara otomatis mengarahkan hati dan pikiran saya juga kepada TUHAN sebagai pribadi di balik firman Tuhan itu sendiri. Pikiran saya semakin difokuskan kepada hal-hal yang bernilai kekal.

Karena saya tidak punya background IT, selama 8 bulan saya hanya bisa membantu pelayanan di divisi AYT (Alkitab Yang Terbuka), Komunitas , dan Publikasi , sekalipun kadang saya berpikir akan sangat senang jadi Hadi atau Khenny (Personal di divisi ITS) yang dipakai Tuhan untuk menghasilkan produk-produk IT. Demikian juga jadi seperti Mbak Lusi dan Yans yang dipakai Tuhan menghasilkan produk-produk Multimedia. Namun, bersyukur Allah mengizinkan saya untuk belajar banyak hal juga di divisi AYT, Komunitas, dan Publikasi.

Di divisi AYT, saya mengerjakan proses interlinier, membaca cepat kitab Markus, Bilangan, Hakim-Hakim, Rut, Nehemia, dan 1 Samuel. Melalui pekerjaan ini, ketelitian, kemampuan bahasa Indonesia, dan kemampuan bahasa Inggris saya diasah lebih lagi.

Di divisi Komunitas, saya belajar menjadi moderator PA online di e-Renungan Harian dan e-Santapan Harian. Suatu pengalaman yang unik karena biasanya saya memimpin PA secara langsung. Dibukakan kembali bahwa teknologi yang diberikan Tuhan bisa digunakan dalam mengenal Tuhan dan menjalin relasi yang luas dengan sesama tubuh Kristus lainnya.

Di divisi Publikasi, saya membantu pengerjaan publikasi e-Wanita, e-Doa, e-JEMMi, dan KADOS. Saya tidak saja mencari artikel-artikel untuk beberapa publikasi, tetapi saya juga membantu menerjemahkan beberapa artikel. Sangat menyenangkan ketika saya bisa melihat Allah menambahkan banyak hal dari tugas-tugas ini.

Typing test yang diwajibkan bagi staf baru pun bisa saya cicipi. Sekarang, saya tidak lagi mengetik dengan 4 jari saja karena latihan tes tersebut. Hal ini tentu memberi nilai tambahan dalam kemampuan saya. Sepertinya, hanya di SABDA yang memberikan pelatihan ini bagi staf-stafnya.

Hal yang menyenangkan lagi di SABDA adalah Griya SABDA itu sendiri, ruangan yang didesain sangat asri dan alami. Saya beberapa kali menggunakan suasana yang teduh di griya untuk berdoa dan saat teduh sendiri di sana, tentunya di luar jam kantor. Selain itu, ada ribuan buku di Griya SABDA yang siap dibaca setiap saat oleh staf. Di Griya SABDA ini juga semua staf rutin berkumpul untuk bersekutu bersama tiap Senin dan Jumat. Tempat ini menjadi saksi bisu perjuangan saya untuk berjuang melawan rasa malas saya untuk berbicara di depan umum dan berpikir kritis. Benarlah jika saya menyimpulkan Allah sangat sengaja membawa saya ke tempat ini untuk meng-"upgrade" saya.

Teman-teman di mess, temasuk keluarga Bu Yulia, juga memberi warna indah dalam hidup saya selama 8 bulan ini. Mereka membuat saya semakin menyadari saya punya banyak saudara di dalam Tuhan. Sekalipun dengan temperamen dan kebiasaan berbeda, semua pribadi menoreh kesan yang indah dalam hidup saya. Saya masih ingat Desember tahun lalu saat saya makan bersama dengan keluarga Ibu Yulia di malam Natal, saya begitu bahagia karena merasa seolah-olah saya mendapatkan orang tua saya kembali.

Hal yang paling saya sukai adalah ketika diikutkan roadshow ke luar kota. Melayani bersama teman-teman SABDA dan langsung bertemu dengan para pengguna produk SABDA adalah hal yang mengasyikkan. Selain menambah kedekatan antarsesama staf yang ikut roadshow, hal itu juga membuka wawasan saya terhadap lingkungan Kristen di luar Solo. Melalui roadshow, saya bisa berkenalan dengan para pelayan Tuhan dari Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, bahkan sampai luar pulau Jawa.

Sepertinya akan cukup panjang untuk menuliskan kisah-kisah menyenangkan di SABDA. Bagi saya, SABDA adalah tempat yang aman untuk menjaga hidup semakin fokus pada Allah, tempat yang subur untuk mempraktikkan hidup sederhana, jujur, disiplin, dan kerja keras. Tempat yang subur juga untuk membuat diri semakin pandai. Hal ini bisa terjadi bukan sekadar sistem dan prasarana yang didesain sedemikian rupa untuk hal-hal tersebut. Namun, karena teladan hidup dari pemimpin SABDA dan keluarga yang terus bisa dilihat setiap hari oleh staf-staf SABDA.

Saya sendiri berharap semua yang saya dapat di SABDA akan saya terus lakukan dalam hidup saya. Terima kasih untuk Ibu Yulia sekeluarga dan teman-teman semua. Kalian semua adalah berkat Tuhan yang tidak ternilai, yang saya dapatkan selama 8 bulan ini. Sekalipun berpisah, ikatan persaudaraan di dalam Kristus tidak akan pernah diputuskan. Adalah sukacita bagi saya jika saya bisa terus menjadi keluarga besar SABDA dengan cara yang lain. Saya yakin tempat seperti SABDA adalah tempat yang harus dilestarikan dan digandakan di semua tempat. Sampai bertemu lagi semua!! I will miss u all.

*Wiwin adalah staf magang YLSA.

Jaga Booth SABDA “Sendiri”? Inilah Pengalamanku ….

Blog SABDA - Thu, 2015-05-21 14:34

Bersyukur kepada Tuhan Yesus karena YLSA diberi kesempatan untuk melayani para pendeta GMII di Bogor. Kesempatan ini ada karena terselenggaranya acara sidang sinode GMII. Dalam acara ini, semua pendeta GMII hadir, ada sekitar 300 pendeta. GMII mempunyai 150 gereja, dan semua gereja diwajibkan mengutus dua orang (pendeta & majelis), jadi ya minimal 300 orang ada dalam acara ini, itu belum termasuk panitia dan tamu. Acara ini berlangsung selama tiga hari, 25 -- 27 Maret 2015, di Hotel Seruni, Bogor.

Saya mewakili tim SABDA hadir di sana untuk melayani banyak pendeta. Mulai dari mempersiapkan booth SABDA, menjelaskan produk, meng-"instal" HP/Laptop, dan membagikan produk-produk SABDA, saya melakukannya seorang diri. Ada sekitar 40 HP yang saya instal. Banyak dari mereka yang tertarik dengan Kamus Alkitab (karena 'kan pendeta ... hehe). Selain itu, semua gereja mendapatkan 1 paket SABDA (DVD Anak 1.3, DVD Dengar Alkitab, dan DVD TELAGA). Pengalaman saya jaga booth SABDA sendirian cukup berkesan. Ya awalnya sih semangat, tetapi waktu mulai buka booth ... baru terasa susah karena semua harus ditangani sendiri. Yang paling terasa waktu makan siang/malam. Awalnya, saya berpikir bahwa "pasti bisa saya tangani sendiri" dan juga "tempat makannya akan dekat dengan booth", tapi ya, kenyataannya tempat makan jauh sekali (di gedung yang berbeda), dan susah cari orang untuk bantu jaga booth waktu saya makan. Namun, saya bersyukur karena ada orang-orang yang akhirnya bisa membantu. Dari pengalaman ini, saya punya saran untuk SABDA. Kalau buka booth SABDA, minimal ada dua orang yang terlibat supaya bisa saling menolong kalau ada hal-hal yang "urgent"/tidak direncanakan sebelumnya. Kita harus bisa berkomunikasi aktif dengan panitia. Sering kali dalam acara-acara seperti ini, ada beberapa hal yang berubah tanpa sepengetahuan kita, jadi kita harus aktif menghubungi panitia untuk mendapatkan informasi.

Oh iya, anggota GMII yang sudah mendapatkan produk SABDA sangat senang dan bersemangat, khususnya mereka yang mendapatkan produk Android, seperti Kamus Alkitab. Ada juga pendeta-pendeta dari pedalaman Kalimantan, mereka senang bisa membawa banyak bahan (paket SABDA) ke gereja mereka. Puji Tuhan!

Dari pengalaman ini, saya belajar "you can't do it alone", seperti yang dipelajari teman-teman sewaktu training. Saya sudah sering melakukan roadshow , dan awalnya sih saya pikir bisa dilakukan sendiri karena acara gereja sendiri dan sudah kenal banyak orang. Akan tetapi, ketika acara berlangsung, panitia sangat sibuk untuk mengurus acara, apalagi karena acara dilakukan di luar (di hotel). Jadi, karena semua sangat sibuk, tidak ada orang yang punya waktu untuk membantu saya kalau saya butuh bantuan. Bersyukur kepada Tuhan karena memang saya tidak mengerjakannya ini sendirian. Selalu ada Tuhan yang menyertai pelayanan SABDA di mana pun dan kapan pun. Terpujilah Tuhan!

Ulang Tahun Pertama Mei di YLSA

Blog SABDA - Wed, 2015-05-13 07:57

Hari Minggu sore, tanggal 10 Mei 2015, saya membaca notifikasi dari Facebook tentang orang-orang yang berulang tahun hari itu. Eh, ternyata salah satunya adalah Mei, teman "semeja" di kantor Griya SABDA dari Divisi PESTA, yang belum genap setahun bergabung bersama kami di YLSA. Tanpa pikir panjang, saya pun langsung mengucapkan selamat ulang tahun di wall profil Facebooknya dengan ucapan, "Eh, ada yang ultah niy ... besok ada ting ting berarti. Selamat tambah tua ya, Mei. Tambah geulis, gesit, gempi, dan gemilang. Tak doakeun ^_^." Itu adalah ungkapan doa sekaligus harapan tulus dari lubuk hati terdalam (ciee ... :-p) untuk Mei, yang selama ini dikenal sebagai salah satu staf YLSA yang cekatan, baik hati, rajin, ramah, dan tidak sombong, plus selalu asyik untuk jadi ajang ledekan teman-teman di kantor. Seperti ungkapan yang sedang 'in' saat ini, "Mei mah emang gitu orangnya ...."

Nah, hari Seninnya, saat Persekutuan staf pagi di kantor, Mei pun didaulat untuk memberi kesan dan pesan untuk hari ulang tahunnya yang perdana di YLSA, sekaligus juga pokok-pokok doa untuk disharingkan kepada kami semua. Mei dengan bijak (cie ...) mengatakan bahwa ia sungguh bersyukur kalau ia dan sebagian besar anggota keluarganya telah mengenal Tuhan Yesus. Itu adalah anugerah terbesar yang ia terima, yang sangat berarti bagi diri sendiri beserta ibu dan kakak serta adiknya. Namun, di sisi lain, ia juga berharap agar ayah dan kakak keduanya yang masih belum mengenal Kristus juga dapat beroleh kesempatan untuk mendapat anugerah keselamatan dalam pengenalan akan Kristus. Itu kemudian menjadi pokok doanya, selain juga pokok doa lainnya untuk keluarga kakak pertamanya serta adik-adiknya agar semakin berakar dan bertumbuh di dalam Kristus. Kami pun kemudian mendoakan kerinduan Mei pada keluarganya itu, disertai dengan permohonan agar Mei sendiri semakin diteguhkan dalam pelayanannya, agar semakin menjadi berkat dan memberi dampak yang baik di mana pun ia ditempatkan oleh Tuhan.

Last but not least, i wish you a very Happy Birthday, Mei. May your life will be full of love, laugh, joy, and blessings from above. Semoga lima, sepuluh, atau dua puluh tahun lagi, kalau bertemu dengan Mei dan buntut-buntutnya (haha ... Amin!), masih tetap bisa menemukan Mei yang sama, yang suka ber-haha hihi dan membawa suasana ceria di kantor, di mana saja. Kami doakan.

Perjalanan Roadshow yang Menegangkan ke GKI Ngupasan

Blog SABDA - Tue, 2015-05-12 12:58

Oleh: Wiwin*

Suasana mendung siang hari, Sabtu, 2 Mei 2015, tidak menyurutkan persiapan kami untuk memulai perjalanan ke GKI Ngupasan, Yogyakarta. Kami (Bu Yulia, Jesica, saya, dan Yans) berangkat dari Solo sekitar pukul 14.00 WIB dengan menggunakan si "Opel" yang setia. Sebelum si "Opel" melaju, kami tentu tidak lupa berdoa bersama untuk pelayanan kami. Di tengah perjalanan, kami baru sadar bannernya ketinggalan di kantor, hemm. Kesedihan berlanjut ketika Pak Hartono, kontak person kami dari GKI Ngupasan, memberi tahu bahwa di Yogyakarta kendaraan ramai sekali, dan kami disarankan untuk tidak lewat Jalan Malioboro supaya tidak terjebak kemacetan. Ternyata belum sampai masuk Yogya, beberapa kilometer sebelum bandara Adi Sucipto, kemacetan sudah terjadi. Walaupun sempat tegang karena mobil kami hanya bisa berjalan merayap, kami berhasil keluar dari jalan utama sesuai dengan petunjuk Pak Hartono. Akan tetapi, karena ada beberapa jalan yang ditutup untuk demo buruh, maka kami terpaksa berhenti di alun-alun Keraton dan menunggu Pak Satpam gereja menjemput Bu Yulia, yang harus mengisi kebaktian jam 17.30. Walaupun tidak terlalu terasa, tetapi kami cukup panik mencari cara untuk sampai ke tempat tujuan tanpa terhalang macet. Waktu sudah menunjukkan jam 18.00 lewat ketika akhirnya Bu Yulia sampai di GKI Ngupasan bersama Pak Satpam.

Setelah melewati pengalaman yang cukup menegangkan itu, kami menjadi lega melihat Bu Yulia sudah bisa berdiri di atas mimbar dan memulai khotbahnya. Sedangkan kami juga tidak membuang waktu, langsung mengerjakan tugas kami menyiapkan booth SABDA untuk melayani jemaat GKI Ngupasan. Hadi yang sudah datang lebih dahulu di GKI Ngupasan juga langsung menyiapkan booth instalasi. Kami menyiapkan booth di Atrium di samping ruang utama ibadah. Selesai ibadah, Yans harus pulang ke Solo naik kereta api karena besok (hari Minggu) dia ada tugas di gerejanya. Malam itu, Hadi, Jesica, dan saya berjuang untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi mereka yang datang ke booth.

Booth langsung diserbu jemaat setelah ibadah usai. Booth SABDA menjadi penuh dengan gawai (handphone) Android untuk diinstalkan enam aplikasi SABDA, dan banyak jemaat melihat-lihat booth SABDA. Jemaat GKI Ngupasan sangat antusias mendapatkan aplikasi yang dipromosikan Bu Yulia di akhir khotbahnya. Mereka sangat berharap aplikasi-aplikasi itu akan menolong mereka belajar firman Tuhan dengan lebih luas dan menarik. Tidak hanya itu, mereka juga bisa menambah bahan-bahan audio dan DVD bahan pelayanan anak yang dipajang di booth SABDA. Untuk mereka yang tidak memiliki handphone Android, mereka cukup lega mendapatkan DVD Telaga, DVD Dengar Alkitab, dan DVD Anak serta CD Audio Alkitab dari berbagai bahasa. Bagi mereka yang ingin lebih praktis, tersedia SD Card 16 GB yang sudah diisi dengan bahan-bahan dari 3 DVD tersebut. Roadshow malam itu berhasil kami selesaikan sampai sekitar pukul 20.30 WIB. Akhirnya, kami bisa menghela napas dan mengisi perut kami di sebuah rumah makan bersama Pak Hartono dan keluarga Pak Natan. Kami beristirahat malam itu dengan nyaman di guest house gereja. Sedangkan Hadi pulang ke rumahnya di Yogya.

Antusias jemaat GKI Ngupasan untuk mendapatkan aplikasi Alkitab Android juga kami saksikan di hari Minggu, 3 Mei 2015. Setiap selesai ibadah, banyak jemaat yang menyerbu booth SABDA untuk instalasi handphone Android dan laptop, juga untuk mendapatkan CD Alkitab Audio, DVD bahan-bahan, SD Card, dan traktat. Saya senang dengan beberapa remaja dan anak sekolah minggu yang sempat mampir ke booth dan melihat video yang kami putar di Tablet. Dengan sangat semangat, saya menjelaskan isi DVD Library Anak dan menawarkan 2 traktat; Tuhan Yesus Menyelamatkanmu dan Hatiku Rumah Kristus. Semoga traktat-traktat itu mereka baca dan bagikan berkatnya kepada teman-temannya yang lain.

Ibu Yulia berkhotbah 3 kali dalam ibadah minggu di GKI Ngupasan dan senang sekali mendengar respons yang mereka sampaikan secara langsung ke Bu Yulia. Firman yang dikhotbahkan diambil dari Kisah Para Rasul 8:26-40. Khotbah itu sekaligus menjadi contoh cara penggalian ekspositori yang bisa dilakukan oleh jemaat dibantu dengan aplikasi Kamus Alkitab, AlkiPEDIA, dan Tafsiran.

Dalam 4 kali ibadah itu, Sabtu dan Minggu, antara Hadi dan Jesica telah sempat menginstal aplikasi SABDA di hampir 140 handphone dan beberapa laptop. Benar-benar kerja keras sehingga mereka tidak berinteraksi dengan bebas dengan para pengunjung. Saya juga bersukacita dapat membagikan 82 DVD Library Anak, 60 DVD Telaga, 78 DVD Dengar Alkitab sehingga jemaat dapat membawa pulang bahan-bahan yang dapat memperlengkapi pelayanan mereka. Pelayanan SABDA di GKI Ngupasan dapat berjalan baik karena didukung oleh pelayanan yang sangat bersahabat dari pihak gereja. Selain memberi perhatian, mereka juga ikut membuat kami bersemangat dan bersukacita, terutama Bapak Hartono dan ibu-ibu yang sangat ramah menemani kami melayani. Terima kasih Tuhan untuk teman sekerja yang baik dari GKI Ngupasan!

Yans datang lagi ke Yogyakarta sekitar jam 20.00 untuk membawa kami dan "Opel" pulang ke Solo. Kami tiba di kantor dengan selamat sekitar pukul 21.30. Terima kasih Tuhan untuk kuasa dan pemeliharaan-Mu yang menyertai kami! Terpujilah nama-Mu!

*Wiwin adalah staf magang YLSA.

Pengalamanku di SABDA

Blog SABDA - Mon, 2015-05-11 10:39

Oleh: Eben Gunadi*

Saya bersyukur bahwa selama lebih dari setengah tahun ke belakang ini diberi kesempatan untuk magang di SABDA. Jarang di dunia ini ada komunitas seperti SABDA -- komunitas yang dibenamkan di dunia teknologi modern yang begitu canggih, tetapi masih hidup dan berinteraksi di tengah-tengah pedesaan yang sederhana. Namun, justru karena kontradiksi itulah, saya bisa bertumbuh dalam dua aspek yang berbeda (tetapi sama pentingnya), yakni dalam keterampilan teknologi maupun dalam kebudayaan Kristen yang ditegakkan di SABDA.

Dalam segi teknologi, hal pertama yang harus dipelajari adalah bahwa tidak ada satu orang yang bisa memberi dampak besar kalau hanya sendirian. Karena dunia teknologi begitu luas dan berbagai jenis, sangat diperlukan kemampuan untuk berkerja sama sebagai satu tim dalam menyelesaikan tugas dengan efektif. Dalam konteks ini; hal-hal seperti workflow (sistem kerja), komunikasi (bahkan komunikasi yang berlebihan), dan sikap positif, menjadi hal-hal yang sangat penting dalam lingkungan IT. Ini tidak mudah karena IT menuntut perkembangan karakter dari pelakunya. Saya sendiri masih ingat bagaimana sulitnya berjuang untuk tetap fokus di rapat-rapat tim; untuk mendengar usulan rekan-rekan yang lain dengan terbuka, dan bahkan untuk bisa merasa senang ketika menemukan masalah (karena itu membuka kesempatan untuk perkembangan!).

Dunia teknologi yang berkembang secepat kilat juga menuntut para pekerjanya untuk senang belajar hal-hal yang baru. Bahkan, salah satu pengurus di SABDA merekomendasikan kami untuk membaca paling tidak 100 halaman buku IT setiap hari! Tapi memang sangat penting juga bagi setiap anggota dalam tim IT untuk bisa belajar secara mandiri. Akan sangat membebankan tim jika ada orang yang harus terus-menerus meminta bantuan/penjelasan dari rekan-rekannya, dan orang yang tidak gemar belajar hal-hal baru tentang IT kemungkinan besar juga tidak akan membawa sikap positif ke dalam kantor kerja. Bagi saya sendiri, butuh waktu yang cukup lama -- juga diperlambat dengan penyesuaian fisik, transisi dari LA ke Solo -- untuk menemukan rutinitas belajar yang produktif. Hal yang saya temukan berguna bagi saya adalah belajar memakai situs-situs interaktif, pertama-pertama dengan codeacademy.com, dan sekarang dengan teamtreehouse.com (codeschool.com juga situs yang layak diperiksa). Untuk membuat fondasi yang kuat sebagai web designer, saya sedang berusaha untuk menekuni HTML & CSS, JS & JQ, serta sedikit PHP untuk coding.

Di jam kerja SABDA sendiri ada banyak hal teknis yang harus dipelajari, mulai dari hal-hal mendasar seperti cara membuat proposal situs, menginventarisasi konten, dan merencanakan layout situs, sampai ke hal-hal yang lebih teknis seperti membuat script PHP yang bisa interaktif dengan database MySQL untuk mengelola data. SABDA memakai CMS Drupal untuk membuat situs-situsnya, dan program ini juga sesuatu yang tidak mudah dipelajari. Saya masih ingat, pada bulan-bulan awal di SABDA, saya menghabiskan banyak jam di kantor untuk menonton video tutorial satu demi satu untuk bisa menggunakan Drupal.

Mungkin semua hal teknis tersebut bisa pelajari di luar SABDA, tetapi hal yang membuat SABDA unik adalah cara semua hal itu dapat diintegrasikan ke dalam kebudayaan dan komunitas Kristen yang erat. SABDA memiliki fasilitas mess yang cukup luas, yang memungkinkan sekitar setengah dari stafnya bisa hidup bersebelahan dengan kantor dan dengan sesama. Ditambah lagi lingkungan pedesaan yang tidak memiliki terlalu banyak hiburan materi, dan hasilnya adalah sekelompok orang yang bisa berkawan akrab dan bukan sekadar rekan kerja biasa. Rata-rata, lebih dari satu jam kerja disisihkan setiap hari untuk kami merenungkan firman bersama, berbagi berbagai macam pergumulan yang sedang dialami, serta mendukung sesama dengan kata-kata penghiburan dan doa. Sekitar sebulan sekali, kami juga pasti ada semacam acara di luar kantor, misalnya persekutuan di salah satu rumah staf ataupun retret ke tempat wisata.

Bagi orang luar yang mendengar kisah ini pasti berkata alangkah indahnya komunitas erat seperti ini. Namun, dalam aspek ini pun, saya membutuhkan waktu cukup lama untuk penyesuaian. Saat kita ada persekutuan staf yang bisa berlanjut sampai dua jam atau lebih, dibutuhkan disiplin yang tinggi untuk saya bisa fokus terus-menerus, apalagi kalau topik yang sedang dibahas tidak terkait dengan saya secara langsung. Saya masih ingat perjuangan untuk melawan pikiran saya yang melayang-layang, sampai mencoba menerapkan metode-metode meditasi ataupun mengambar muka-muka orang yang sedang berbicara. Metode-metode tersebut adalah temuan instan yang saya pakai ketika akar masalahnya, yaitu kurangnya hati yang peduli akan orang lain, sedang diperbaiki dengan perlahan. Sebab, memang tidak ada jalan pintas untuk mengembangkan kebesaran hati seperti itu. Untuk keluar wedangan bersama ketika ada kesempatan, atau untuk "nongkrong" seolah-olah tidak ada tujuan, atau menggunakan bahasa Jawa (apalagi Jawa kromo!) ketika saya bisanya hanya memakai bahasa Indonesia atau Inggris -- hal-hal kecil inilah yang sedikit demi sedikit mengubah hati saya untuk lebih peduli dengan rekan-rekanku di SABDA.

Untuk maju di masa depan, saya merasa cukup diperlengkapi SABDA; untuk bisa masuk ke dalam dunia IT maupun untuk bertumbuh secara rohani dengan konsisten dan dengan tujuan. Banyak pelajaran di dunia ini yang kita tidak bisa pelajari lewat sekolah, sebaliknya harus dengan pengalaman. Walaupun tidak dengan cara yang mudah, SABDA telah memfasilitasi pengalaman ini untuk saya agar saya bisa belajar berkerja sama dengan orang lain, mengembangkan visi dan misi yang sehat untuk hidup ini, mengubah sikap terhadap pekerjaan, dan membangun relasi dengan sesama dan dengan Allah.

Sekali lagi, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bu Yulia dan keluarganya, serta semua rekan di SABDA, termasuk Snoopy, untuk pengalaman yang tak akan terlupakan untuk saya. Kiranya Tuhan terus memberkati dan menyertai pelayanan SABDA di abad-abad yang akan datang.

SABDA di Kongres X Gabungan Gereja Baptis Indonesia

Blog SABDA - Fri, 2015-05-08 15:23

Berawal dari tawaran Pak Bambang Sriyanto yang saat itu sedang memimpin seminar "Menjawab Tantangan Kepemimpinan Kristen Abad 21", yang diselenggarakan oleh STT Berita Hidup, kami mendapat kesempatan untuk membuka booth di acara Kongres X Gabungan Gereja Baptis Indonesia yang diadakan pada Maret yang lalu di Surabaya. Pada roadshow ini, saya pergi dengan ditemani Khenny dan anak saya, Jesica, yang kebetulan sedang libur sekolah.

Selama dua hari, YLSA membagikan produk-produk SABDA, di antaranya 3 macam DVD sumber bahan, CD-CD Alkitab Audio dari berbagai bahasa, traktat, dan informasi-informasi produk YLSA supaya para hamba Tuhan Gereja Baptis yang hadir bisa membawa pulang bahan-bahan SABDA untuk memperlengkapi pelayanan mereka. Ada cukup banyak hamba Tuhan yang datang di booth SABDA, bahkan tidak saya sangka ada banyak yang tertarik dengan DVD Alkitab Aksara Jawa dan juga DVD bahan-bahan dalam bahasa Chinese .

Selain membagikan produk-produk tersebut, YLSA juga menjalin relasi dengan hamba-hamba Tuhan dari Gereja Baptis. Itulah salah satu tujuan saya ikut dalam roadshow ini. Walaupun cukup kecewa karena tidak mendapat kesempatan untuk memberikan presentasi, tapi kami cukup bersemangat melayani para hamba Tuhan yang datang ke booth kami, termasuk teman-teman dari STBI. Semoga melalui pertemuan ini, akan disambung dengan pertemuan-pertemuan berikutnya.

Ketika kami sedang berjalan keluar dari tempat pertemuan, kami bertemu dengan Bu Anna dari STTIAA Pacet yang sedang kunjungan ke rekan pelayanan dari Gereja Baptis yang ikut kongres. Pertemuan itu ternyata berbuntut panjang ... karena gara-gara pertemuan ini, beberapa minggu kemudian Bu Anna mengirim Mas Anin untuk mengikuti training di SABDA.

Kesempatan ke Surabaya juga kami manfaatkan untuk berkunjung ke rekan pelayanan yang sudah lama sekali kami kenal, yaitu Pdt. Jusuf B.S. dari Gereja Bukit Zaitun, Surabaya. Sambil saling berbagi berkat, kami banyak berbincang-bincang tentang proyek penerjemahan yang sedang dikerjakan, baik oleh Pdt. Jusuf (Alkitab Wasiat Baru) maupun oleh SABDA (Alkitab Yang Terbuka). Sungguh senang bertemu dengan hamba Tuhan yang punya passion terhadap penerjemahan Alkitab. Semoga Tuhan terus mendorong kami untuk berbagi berkat sebagai sesama pelayan Tuhan.

Perjalanan pulang ke Solo cukup unforgetable karena terjebak macet setelah Mojokerto karena ada trailer yang terguling di jalan ... wow, berjam-jam kami menunggu jalan dibuka lagi. Kami bersyukur bisa pulang dengan selamat.

To God be the glory.

Training Kepenulisan Divisi Publikasi

Blog SABDA - Fri, 2015-05-08 11:10

Pada bulan April, divisi Publikasi mengadakan training kepenulisan. Training kepenulisan bulan ini membahas tentang penggunaan tanda baca dan huruf kapital sesuai EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), bagaimana menyusun paragraf yang logis, dan dasar-dasar jurnalistik. Divisi Publikasi mengadakan training kepenulisan secara rutin. Dengan adanya training kepenulisan, setiap staf Publikasi diperlengkapi dengan pengetahuan dan wawasan yang mendukung kemampuan staf dalam membuat karya tulisan. Training kepenulisan sangat penting diadakan karena staf Publikasi setiap hari bergelut dengan dunia literatur. Oleh karena itu, setiap staf dituntut untuk dapat meningkatkan keterampilan tulis-menulis, sesuai aturan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar. Pada umumnya, peserta yang dilibatkan dalam training kepenulisan divisi Publikasi adalah seluruh Pemimpin Redaksi (PemRed), tetapi pada bulan ini divisi-divisi YLSA yang lain juga dilibatkan dalam training kepenulisan, khususnya dalam training bagaimana menyusun paragraf yang logis. Semua staf yang lain diikutsertakan dalam training ini karena mereka pun dijadwalkan menulis blog, baik untuk menceritakan pelayanan yang diikuti, mempromosikan produk-produk baru divisi, dll.. Oleh karena itu, training bagaimana menyusun paragraf yang logis sangat perlu dibagikan kepada semua staf YLSA.

Saya senang karena diberi kesempatan untuk terlibat dalam training kepenulisan, baik yang ditujukan untuk staf Publikasi maupun seluruh staf YLSA. Dengan mengikuti training kepenulisan ini, saya semakin didorong untuk mencintai dunia literatur dan tata bahasa yang berlaku di negara kita, Indonesia. Dengan adanya training kepenulisan, saya ditolong untuk semakin kritis khususnya tentang bagaimana menyusun kalimat yang benar, logis/masuk akal, dan jelas, sekaligus tidak menyalahi aturan bahasa yang berlaku. Jika bukan kita, siapa lagi yang harus menjunjung bahasa Indonesia secara tertulis dan lisan?

Training Intern di SABDA

Blog SABDA - Thu, 2015-04-30 16:31

Oleh: Liana*

Inilah training intern SABDA. Hari pertama, kami diberikan rencana materi training. Banyak istilah yang masih asing di telingaku, tetapi aku berusaha mengikuti terus karena materi training menarik, dan ternyata SABDA pun sudah mempersiapkan proyek untuk menyambut tahun 2020. Luar biasa .... O ya, pada awal training ini ada satu motto yang selalu kami ingat yaitu "We can't do it alone".

Hari kedua, kami mempelajari tentang scrum. Scrum adalah cara sistem kerja manajemen yang bertumpu pada kekuatan kolaborasi tim. Tanpa kerja sama tim yang baik, kerjaan pasti banyak yang tersendat. Sangat penting ada komunikasi dan koordinasi antartim. Kemudian, diajarkan juga "agile development", yaitu sebuah proyek manajemen yang terfokus pada user dan fleksibel terhadap perubahan-perubahan sehingga tujuan dapat tercapai, tanpa harus mengulang dari nol bila terjadi kesalahan. Kami juga belajar PACE, yaitu Planning, Act, Check, dan Evaluation. Dalam dunia kerja, "P" artinya planning. Namun, kami membuat "P" yang berarti 'Pray' sehingga sebelum kami memulai sesuatu, baiklah kita berdoa dan memohon hikmat Tuhan. Jam terakhir training, kami diminta menggambar model rumah seperti yang ada di pikiran kami. Mulailah kami menggambar seperti yang terlintas dalam pikiran kami. Daaaaannnnnn ..., tiba-tiba kami diminta memperlihatkan hasil gambar kami. Kami tertawa karena ternyata kami mempunyai berbagai konsep model rumah unik. Ada yang berbentuk apartemen (seperti punyaku), model perpustakaan, model rumah makan padang, model rumah eskimo, bahkan sampai model rumah susun dengan tinggi 100 meter dengan 100 kamar tetapi dengan super mini design. Wah, teman-teman memang kreatif.

Hari berikutnya, kami mulai mengaplikasikan "planning" kami. Kami juga membantu teman kami dari Scripture Union Indonesia (SUI) dan STTIAA Pacet supaya apa yang sudah dipelajari di SABDA dapat menjadi bahan masukan yang positif bagi kemajuan masing-masing tim. Dari banyak diskusi selama training, kami jadi tahu kesulitan yang dialami teman-teman dari luar; membuat proposal, menentukan visi dan misi, membuat sitemap sampai membuat situs. "Full day but fun" karena ilmu adalah harta yang paling berharga.

Kami juga mempelajari SWOT (strength, weakness, opportunity, threat). Ternyata SWOT itu penting lho supaya kelebihan kita bisa dimaksimalkan dan peluang-peluang baru bisa kita raih. Kami juga belajar memberi feedback yang interaktif, dan yang terakhir kami melakukan studi banding.

Selama training 10 hari, kami selalu ingat bahwa kami tidak dapat melakukan semua ini sendiri dan tanpa penyertaan Tuhan, kami pasti sudah lelah. Bersyukur teman-teman antusias dan bisa menciptakan tim yang kompak. Semoga ini bisa berlangsung terus dan semakin hari semakin baik dan solid. Untuk teman-teman dari SU dan STTIAA Pacet, kalian harus tetap semangat ya..... bersama Tuhan kalian pasti bisa. Terima kasih untuk semua teman yang sudah mendukung dan membantu hingga training ini dapat menjadi bekal bagi kami di masa yang akan datang. Karya dan perubahan yang kami ciptakan bukan semata-mata untuk menyenangkan bos di tempat kami bekerja, tetapi yang terpenting kiranya apa yang kami buat itu mendapat perkenanan Tuhan. Immanuel!

Awal harimu dengan doa....

Galau; “I Survived SABDA Training”

Blog SABDA - Thu, 2015-04-30 16:15

Oleh: Yusak*

Begitu mendarat di kota Solo, ternyata tidak seperti yang kubayangkan. Biasanya, ada background musik gamelan Jawa atau tembang-tembang Jawa (seperti kalau di film-film Indonesia jika mengambil setting di kota-kota di Jawa). Benar-benar salah besar dugaanku. Tapi ya wes lah, toh tidak sedang main film atau sinetron. Dijemput oleh salah seorang staf SABDA, kami langsung menuju ke tempat tujuan, Griya SABDA.

Aktivitas pertama yang kami lakukan adalah sharing dengan staf SABDA secara keseluruhan, yang kesan keramahan dan kekeluargaannya erat dan kental terjalin di antara staf SABDA. Setelah percakapan singkat dalam pertemuan pertama itu, mulailah kami dengan aktivitas training. Tadinya sempat kupikir semua staf SABDA juga akan mengikuti training. Ternyata hanya beberapa rekan saja, ditambah seorang peserta dari STTIAA di Jawa Timur.

Saat pemaparan materi training dan rencana training, mataku jadi terbelalak. Alamaaaak! Buanyaaknyaa rancangan materi training. Dan, masih ditambah dengan kalimat "Seharusnya training ini dibuat dalam 3 minggu ...." Tada! Seperti ada kejutan ulang tahun yang tidak pernah diduga. Terlebih lagi, materi yang hendak disampaikan adalah intisari pengalaman perjalanan SABDA selama kurang lebih 20 tahun. Dan, lebih dahsyatnya lagi ... harus di-"compress", diajarkan selama kurang lebih 2 minggu.

Tugas hari pertama diawali dengan laporan kegiatan, yang harus dikirim via email tiap malam; "Ya, dicatat ya, tiap malam" ... Next day, harus bergumul dengan materi baru, tugas baru, dan laporan kegiatan hari itu.

Galau juga rasanya, mengikuti materi yang benar-benar memeras otak. Materi sekian lama dipadatkan dalam beberapa hari. Sepertinya, bertanya-tanya sanggup tidak menerima materi yang terkompres. Bersyukur, tiap hari sebelum memulai aktivitas, ada persekutuan doa kelompok staf yang melibatkan peserta secara aktif. Walaupun dibagi dalam kelompok kecil, tetapi rasanya cukup membantu mengatasi kegalauan karena melalui firman Tuhan, dikuatkan bahwa "aku harus semakin kecil, dan Dia harus semakin besar".

Semangat Guys!

Salah satu anggota kelompok persekutuan doaku adalah mas Yans. Perawakannya besar, tapi friendly. Mungkin bisa dikatakan "badan gedhe, hati hello kitty ...." Setiap kali membahas renungan pagi dalam persekutuan doa, semua peserta membagikan apa yang diperoleh dari ayat Alkitab yang dibaca, apa yang dipelajari dari renungan yang diambil dari Oswald Chambers, sharing mengenai pokok doa, dan apa yang ingin diterapkan dalam hidup atau aplikasinya.

Suasana yang akrab dan nyaman menjadikan persekutuan doa pagi kami tidak monoton. Namun, malah menjadi lebih hidup dan mengakrabkan kami dengan 6 peserta persekutuan doa lainnya. Banyak sekali pemahaman-pemahaman baru mengenai firman Tuhan yang kami peroleh dari persekutuan doa ini dan tambahan-tambahan pengalaman pribadi di balik setiap ayat yang kami pelajari. I think I’m gonna miss all of you guys ....

Memang hari-hari berat di minggu pertama cukup membuat kebingungan, kegaduhan, dan kegalauan luar biasa. Saking fokusnya kami pada materi, kami tidak sempat tahu bahwa harga BBM mengalami perubahan. Lagian, mana sempat mikirin dampak kenaikan BBM, ngerjain tugas untuk presentasi besok saja sudah bikin galau. Tapi, setiap kali mulai galau, kita ingat kata-kata mas Yans "Semangat guys!" dengan logat Jawanya yang kental.

I survived SABDA Training Facility

Pada minggu kedua, semuanya mulai berubah. Walaupun kegiatan tetap kurang lebih sama dengan hari-hari sebelumnya di minggu pertama, tetapi beban rasanya mulai berkurang. Gambaran besar mengenai visi dan misi mulai dipertajam dan mulai mengerti apa yang akan dan harus dikerjakan untuk diterapkan di tempat pelayanan selanjutnya.

Dalam sebuah percakapan saat makan siang bersama dengan seorang rekan yang biasa dipanggil Iben (actually his name is Eben), ada sebuah jargon ringan dan lucu namun memiliki makna yang dalam "I survived SABDA Training." Dan, benar, walaupun secara jasmani kegiatan demi kegiatan yang dikerjakan setiap hari cukup menguras tenaga dan memeras otak, tetapi di akhir kegiatan semuanya memberikan kekuatan dan pengetahuan baru. Starts with 'We cannot do it alone' dan diakhiri dengan pemahaman bahwa proses itu akan membawa kepada 'With Him we can do it'.

Thanks buat all of you guys, Mbak Evi SCRUM master yang sering "mak jleb" kata-katanya, Mas Yans yang "gokil dan pecinta batu", Mas Hadi dengan kata-kata kuncinya,... Wah, kalau disebut satu persatu bakal jadi panjang seperti credit title di film...

Keep on the spirit to serve our Lord, and God Bless you all.

Happy Birthday, Mbak Elly!

Blog SABDA - Thu, 2015-04-30 07:47

Oleh: Yohanes*

Di hari Kamis yang cerah ini, ada sedikit suasana yang berbeda dalam persekutuan staf YLSA. Selain membaca dan sharing mengenai Firman Tuhan dan bahan renungan, ternyata dalam persekutuan kali ini ada acara menonton film yang sangat menarik. Film yang ditampilkan bukanlah film yang biasa, karena film yang ditampilkan ini mengenai pengantar Injil Lukas. Banyak sekali pengetahuan mengenai Alkitab yang ditampilkan dalam film dokumenter itu, yang tentu saja menambah wawasan kami mengenai kebenaran Firman Tuhan.

Dan ternyata, hari ini juga ada staf YLSA yang sedang berulang tahun, yaitu Mbak Elly, salah satu staf YLSA yang terkenal kocak, unik dan menarik. Tepat pada tanggal 30 April 2015 ini Mbak Elly genap berusia 43 tahun, yang ternyata juga menandakan 14 tahun pelayanannya sebagai staf YLSA. Usia boleh dikata tidak muda lagi, namun semangat jiwa muda masih terpancar dalam raut wajah Mbak Elly.

Hal yang menarik adalah ketika Ibu Yulia bertanya kepada Mbak Elly, setelah kami menyanyikan lagu Happy Birthday untuknya, "Elly, kamu mau minta apa?" Dengan kalem dan tenang, Mbak Elly mengatakan bahwa hal yang paling dia rindukan adalah agar anaknya dapat bertumbuh sesuai dengan Firman Tuhan dan semakin mencintai Firman Tuhan. Sesudah itu, kami semua secara bergilir menyampaikan ucapan berkat untuk Mbak Elly, mulai dari damai sejahtera, sukacita,kesabaran, kesehatan,
awet muda dan sebagainya. Dengan semakin bertambahnya usia, kiranya Mbak Elly dapat dijadikan teladan bagi semua staf yang lebih muda untuk tetap setia dalam melayani Tuhan.

Kiranya ucapan berkat dan sukacita yang diucapkan teman-teman semua dapat menjadi dorongan dan berkat untuk Mbak Elly agar semakin semangat di dalam melayani Tuhan. Nah, selamat ulang tahun, Mbak Elly, salam IT for God (^_^)

*Yohanes adalah staf paruh waktu YLSA.

Berbagi Pengalaman Mengikuti Klub e-Buku SABDA

Blog SABDA - Wed, 2015-04-29 12:31

Oleh: Linda Cheang*

Saya mau bercerita sedikit tentang "dahsyatnya" isi buku "Gods At War" (oleh: Kyle Idleman), yang diskusinya saya ikuti di Klub e-Buku SABDA (KBS) tahun lalu.

Setelah saya merasakan sendiri banyaknya pengetahuan yang dibukakan melalui pembacaan dan pembahasan buku ini di kelas diskusi KBS di Facebook, saya tergerak memberikan buku ini kepada beberapa orang yang saya pikir layak dan perlu untuk membacanya. Maka beberapa kali saya membeli buku ini, yang kebetulan di jaringan Toko Buku Kristen "Visi Bookstore" di kota saya ada. Menantu keponakan saya adalah penginjil, jadi saya bisa nebeng beli buku dengan menggunakan keanggotaan menantu saya itu di jaringan toko buku tersebut sehingga dapat diskon sampai 20%.

Salah satu penerima adalah Bp. Pdt. Hada Adriata, pengajar mata kuliah Etika Kristen serta Filsafat Fenomenologi di STT Kalam Mulia dan Universitas Kristen Maranatha, Bandung. Beberapa minggu setelah saya memberikan buku tsb., beliau mengatakan sangat bersyukur mendapatkan buku tersebut karena isinya sangat berguna bagi pembinaan iman umat di gereja tempat beliau menjadi gembala sidangnya. Isi buku tersebut akhirnya dibahas dalam pertemuan khusus acara pembinaan jemaat karena membahas langsung tentang pergumulan sehari-hari yang dialami jemaat.

Bp. Pdt. Hada Adriata meneruskan buku tersebut kepada salah seorang muridnya yang bernama Ev. Yaman, seorang penginjil, yang sekarang menjadi pengajar Dogma Kristen di STT Kalam Mulia. Pada Minggu, 19 April, beliau juga menyampaikan kepada saya ucapan terima kasih atas buku tersebut. Namun, yang saya tidak sangka, beliau memberitahukan bahwa buku "Gods at War" sekarang menjadi buku bacaan wajib bagi para mahasiswanya untuk mata kuliah tsb..

Saya bersyukur pernah mendapat kesempatan untuk ikut dalam Klub e-Buku SABDA dan berdiskusi bersama tentang buku tsb. sehingga saya mendapatkan manfaatnya. Namun, yang membuat saya lebih bersukacita dan lebih bersyukur adalah ketika saya membagikan buku itu, sehingga manfaatnya bisa dirasakan banyak orang juga, apalagi untuk pembinaan umat gereja dan mahasiswa sekolah tinggi teologi.

Dari manfaat yang disampaikan Pdt Hada dan Ev. Yaman, saya memberanikan diri memberikan 1 eksemplar lagi buku itu kepada Uskup Bandung, Mgr. Antonius Subianto, pemimpin umat Katolik se-Keuskupan Bandung. Saya memberikan buku tersebut sebagai hadiah untuk ulang tahunnya, beberapa waktu yang lalu. Saya belum bertemu Bapak Uskup lagi untuk menanyakan tanggapannya, tapi saya yakin beliau pasti menyediakan waktu untuk membacanya.

Demikian cerita pengalaman saya. Saya berharap, diskusi buku, khususnya buku-buku yang berkaitan dengan dogma Kristen, bisa diadakan kembali. Mana tahu, manfaat dari buku-buku tsb. bisa dibagikan oleh para peserta diskusi kepada teman-temannya sehingga dapat menyentuh lebih banyak orang lagi. Memang tentunya harus ada inisiatif dulu dari para peserta diskusi untuk berbagi, membangun sesama saudara-saudarinya di dalam Kristus.

Salam dan Tuhan memberkati.

*Ibu Linda Cheang adalah anggota aktif komunitas PESTA dan Klub e-Buku SABDA (KBS). Seorang yang menyukai filsafat, kulinari, dan jurnalistik. Ibu Linda adalah sosok yang memiliki semangat tinggi dalam belajar. Oleh karena itu, ia mengikuti kelas Teologi Online yaitu PESTA, dan mengikuti diskusi buku "Hatiku Rumah Kristus" (HRK), "Membesarkan Anak dengan Kreatif", dan "God's at War".

SABDA dan Generasi Digital di PPA GBIS Samaan

Blog SABDA - Thu, 2015-04-23 11:38

Tanggal 14 April 2015 yang lalu, tim SABDA mendapat kesempatan untuk melayani para remaja di PPA (Pusat Pengembangan Anak) GBIS Samaan, Surakarta, dengan memberikan presentasi bertema "Media Digital: Kawan atau Lawan?" Sebelumnya, ada briefing oleh Mbak Evie dan Bu Yulia kepada tim yang akan berangkat untuk membahas persiapan dan apa yang akan dilakukan di sana. Tim SABDA yang berangkat untuk melayani dalam roadshow kali ini adalah Mbak Santi, Mbak Indah, Odysius, dan saya sendiri, Bayu. Briefing dilakukan setelah makan siang dan hanya berlangsung selama 30 menit. Pukul 14.00 WIB, kami berangkat dari kantor dengan mengendarai motor. Kami berangkat pkl. 14.00 supaya kami dapat mengantisipasi acara, kalau-kalau ada perubahan susunan acara, sekaligus untuk melakukan persiapan dengan matang di sana. Dalam perjalanan, Mbak Santi menjadi penunjuk jalan, sedangkan kami bertiga mengikutinya.

Sampai di sana, yakni sekitar pukul 14.30, kami bertemu dengan para mentor PPA dan langsung diantar ke ruangan yang akan digunakan untuk acara presentasi. Dalam ruangan tersebut, lebih tepatnya ruang perpustakaan, di sana telah disiapkan LCD untuk menolong jalannya presentasi, dan kami pun langsung menyiapkan alat-alat yang akan kami gunakan. Setelah memastikan semuanya berjalan lancar, kami juga menyiapkan perlengkapan untuk meng-"instal" HP sembari menunggu kedatangan peserta. Berangsur-angsur adik-adik PPA berdatangan. Setelah pkl. 15.00, sudah banyak dari mereka yang berkumpul sehingga kegiatan PPA pun dimulai. Acara dimulai dengan doa, kemudian dilanjutkan dengan presentasi tentang media digital oleh Mbak Santi.

Presentasi ini disambut dengan meriah oleh adik-adik PPA. Selama presentasi berlangsung, Mbak Santi cukup kewalahan dengan suasana yang gaduh karena ada beberapa anak yang terlambat serta adanya gangguan dari teman-teman mereka sendiri. Mbak Santi cukup tegas dalam menangani adik-adik PPA ini dengan beberapa kali mengingatkan mereka untuk tenang, terutama para peserta anak laki-laki. Dalam presentasinya, cukup banyak peserta yang yang merespons Mbak Santi sehingga presentasi tidak hanya berjalan satu arah, melainkan ada partisipasi aktif dari beberapa peserta. Di akhir sesi, diadakan diskusi kelompok untuk mereka, yang bertujuan agar kami dapat mengetahui sejauh mana mereka mengerti dan menangkap presentasi yang telah diberikan.

Ada 26 peserta PPA yang datang ke acara ini, dan ada 12 HP yang di-instal untuk aplikasi Alkitab SABDA, Renungan PSM, dan Kamus Alkitab. Dari sekian banyak HP yang dibawa oleh peserta, mayoritas menggunakan Android sehingga memudahkan saya untuk meng-instal semua HP tersebut. Meskipun saat presentasi ada beberapa gangguan kegaduhan dari peserta serta microphone yang tidak lancar, tetapi hal-hal itu dapat diatasi berkat anugerah Tuhan. Kami dapat merasakan penyertaan Tuhan dalam roadshow kali ini sehingga segala sesuatunya dapat berjalan dengan lancar.

Saya bersyukur dapat mengikuti roadshow kali ini dan belajar bahwa segala sesuatu harus dilandasi dengan doa, sekecil apa pun itu. Dengan menyerahkan semua kepada Tuhan, kita pun akan merasakan penyertaan Tuhan serta dimampukan-Nya untuk melakukan apa yang menjadi bagian kita. Selain itu, saya juga belajar untuk terus rendah hati dan mengembalikan segala kemuliaan itu hanya bagi Tuhan.
Soli Deo Gloria!

Selamat Tua Ayub!

Blog SABDA - Fri, 2015-04-17 14:05

Hari ini, tanggal 16 April adalah momen bahagia bagi Ayub, karena hari ini merupakan hari ulang tahunnya yang ke 25 tahun. Ayub adalah staf YLSA dari divisi PESTA, yang rumahnya di Karanganyar dan tiap hari naik motor ke kantor, hehehe. Nah, kembali ke topik ulang tahun, kebetulan tadi pagi saat baru tiba di kantor, saya bertemu dengan Ayub di parkiran kantor. Setelah itu, kami menuju ke kantor masing-masing karena kantor kami berbeda tempat. Saat saya sedang berada di kantor bersama Mbak Eli, tiba-tiba Ayub datang dan mengatakan sesuatu. "Mbak, aku ulang tahun," katanya. ^o^ Dalam hati saya berucap, "Ulang tahun kok malah ngomong-ngomong." Hehehehe. Yah, lalu saya memberi ucapan kepada Ayub bersama dengan Pak Gunung dan Mbak Eli.

Dan, karena saya sudah mengetahui bahwa dia berulang tahun hari ini, maka muncullah gosip di sana sini. "Ayub ulang tahun ya?" Tanya staf yang lain. Nah, baru pada waktu makan siang, gosip itu terjawab.:-) seperti biasa, jika ada staf yang berulang tahun, maka akan ada sesi kesan dan pesan, serta pokok doa dari yang bersangkutan. Dalam kesannya siang itu, Ayub mengatakan kalau dia bersyukur bisa berada di YLSA. Lalu, dalam bagian pokok doa, Ayub minta kepada kami untuk mendoakan keluarganya, khususnya untuk Ibunya yang baru saja mengalami kecelakaan tangannya dan mengalami patah di bagian bahunya sehingga harus digibs. Satu lagi doa pergumulannya adalah kiranya Tuhan selalu memberi hikmat dan kebijaksanaan seperti pada renungan pagi kami dari Oswald Chambers yang mengingatkannya supaya jangan hanya berangan-angan tetapi untuk segera melakukan apa yang Tuhan inginkan. Lalu, saya diberi tugas untuk berdoa syafaat bagi Ayub sekaligus berdoa untuk makanan jasmani yang telah disiapkan oleh Mbah Reso dan Bu Dikem.

Kiranya dengan umur yang sudah semakin bertambah ini Ayub semakin dekat dengan Tuhan, dan segala pergumulan serta keinginannya akan dijawab oleh Tuhan.

Selamat ulang tahun Ayub. Tuhan Yesus memberkati!

Persekutuan Doa Staf di Rumah Yans

Blog SABDA - Thu, 2015-04-16 14:50

Oleh: Indah*

Jumat 10 April 2015, tidak seperti hari Jumat biasanya. Persekutuan doa siang hari itu digantikan dengan training kepenulisan yang dibawakan oleh Pak Berlin , sedangkan acara persekutuan staf akan diadakan setelah pulang kerja. Saat jam sudah menunjukkan pukul 16.48, Mbak Evie pun woro-woro kepada kami untuk segera kumpul dan bersiap-siap untuk berangkat. Kami segera saja bergegas menyelesaikan laporan dan siap-siap berangkat ke lokasi persekutuan staf diadakan, yaitu di rumah Yans.

Pukul 17.30 kami tiba di rumah Mas Yans dan disambut oleh Bapak Daniel Widi, ayahnya Mas Yans. Mas Ayub , Pak Berlin, saya, Mbak Anik, dan Mbak Mei tiba lebih dulu karena kami naik motor. Kami pun lalu menunggu kedatangan teman-teman lainnya yang datang dengan naik mobil bersama-sama dari kantor.

Acara dimulai dengan doa dan lagu pembukaan, yang kemudian disusul dengan keluarnya makanan kecil yang sudah disiapkan oleh ibu Mas Yans. Karena kami juga sudah cukup kelaparan, makanan kecil itu pun kami nikmati dengan senang Setelah lumayan kenyang, Mbak Setya membuat acara games dengan membagi kami ke dalam 2 kelompok. Acara sore itu pun menjadi lebih seru berkat acara games karena membuat kami banyak tertawa dan bercanda ria. Sesudah itu, acara berlanjut dengan membaca renungan dari Oswald Chambers. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, dan masing-masing kelompok membaca dari 1 hari renungan yang berbeda-beda, sehingga hari itu kami membahas tiga hari renungan sekaligus. Banyak berkat yang kami dapat dari renungan malam itu. Kesimpulan saya dari membaca ketiga renungan adalah kita harus disalib, mati, dan bangkit bersama Tuhan Yesus, karena kita tidak bisa melakukannya sendiri.(Roma 6:5,6; Roma 9-11). Setelah acara renungan, para staf yang kost di mess YLSA memberikan persembahan pujian mereka "Hanya Kau" dengan iringan gitar.

Setelah pujian lagu dibawakan, kami segera menyantap makanan yang sudah dimasak dan dipersiapkan oleh Ibu Reso dari kantor. Makanan yang kami persiapkan sangat banyak sehingga banyak juga yang menambah makannya pada saat itu Sebagai makanan penutup, ada tape ketan yang dituang dengan air hangat serta puding yang disediakan oleh tuan rumah. Wah, pokoknya, kami kenyang sekali malam itu.

Dengan beramai-ramai, kami kemudian mengakhiri acara persekutuan malam itu untuk membersihkan semua kotoran dari sisa makanan di piring, mencuci gelas yang kotor, serta membersihkan lantai dan tikar. Sesudah berterima kasih dan berpamitan kepada tuan rumah, kami pun pulang ke rumah dan kost masing-masing dengan membawa berkat dari persekutuan staf YLSA di bulan April itu.

Bagi saya yang baru saja bergabung dengan YLSA, banyak berkat yang diperoleh melalui persekutuan staf tersebut. Saya merasakan pertemanan antar staf yang sangat baik dan akrab, yang menciptakan suasana kekeluargaan yang kuat dalam YLSA. Tidak ada sekat atau perpecahan antar teman atau kelompok meskipun YLSA terdiri dari beberapa divisi yang berbeda. Semua saling membantu dan mendukung, dan kekompakan itu terlihat sekali dalam acara persekutuan staf. Senang rasanya memiliki keluarga baru di YLSA

Nah, sampai jumpa lagi di persekutuan rumah staf YLSA selanjutnya!