cerpen

psikologila's picture

Empat Sahabat yang Bahagia (?)

Yang terdengar hanyalah suara bising “Dancing in The Moonlight” versi house club. Dentuman musik lengkap dengan gemerlap lampu diskotik ampuh menyuntikan atmosfir ekstasi ke seluruh ruangan! Hampir semua pengujung bar memenuhi “dancing floor”, tak  terkecuali temanku Hedi.

teograce's picture

Label

 

Angin semilir lembut menyentuh wajahku. Aroma rumput yang wangi menentramkan jiwa. Sinar matahari pun tidak terik. Sungguh suasana yang menyenangkan. Di hari yang bahagia ini, entah bagaimana pikiranku membawaku ke sepuluh tahun silam. Saat itu aku masih kelas 2 SMP.

anakpatirsa's picture

Gedung Baru Parlemen

        "Hanya pelacur yang mengangkangi jalan seperti itu," katanya. "Dan kalian tinggal di gedung yang mengangkangi jalan seperti pelacur."

anakpatirsa's picture

Angkot Air

        SEKALI lagi Ririn melihat layar ponselnya. Pesan itu tetap sama, AC pesawat A546 rusak. Khusus penerbangan hari ini, semua pramugari yang bertugas harus memakai deodoran sebanyak-banyaknya.

anakpatirsa's picture

Pelajaran Kesenian

        Indonesia Raya ...

        "Masa langsung kamu nyanyikan bagian Indonesia Raya-nya," kata Pak Ludie, "itu kan refrain-nya?"

        Tanpa ia potong pun, aku tahu ada yang salah. Rasanya bukan seperti ini bagian awal lagu yang kudengar Senin lalu.

anakpatirsa's picture

TUMBANG ANOI

Ada musimnya anak-anak hidup dalam ketakutan.

Orang tua punya musim sendiri—musim hujan, musim kemarau, musim buah, dan musim ikan mudik. Kami punya musim sendiri—musim enggrang, musim gasing, musim tembak tutus, dan musim kayau. Di musim enggrang, kami ke sekolah naik tiang kayu. Di musim gasing, kami menarik tali yang membuat kepala serasa ikut berputar. Di musim tembak tutus, kami membawa senapan bambu berpeluru kertas basah di tas sekolah. Di musim kayau, kami hidup dalam mimpi buruk dan ketakutan.

anakpatirsa's picture

Atik Mati

Atik mati, kamu pulang secepatnya untuk menguburkannya.

Atik akhirnya mati. Aku tidak mampu menangisi kematiannya. Bukan karena tidak mampu bersedih. Ada saatnya kesedihan begitu mendalam sehingga air mata tidak mampu keluar. Sejak meninggalkan kampung halaman enam belas tahun lalu, aku tidak bisa melupakan kemanjaannya. Sampai sekarang pun sering kurindukan tingkah-polahnya yang membuat jengkel, padahal aku juga sering membuatnya jengkel. Tidak pernah bisa kulupakan tatapan marahnya karena kucium saat tidur. Tatapan marah itu tetap seindah tatapan bola mata bulatnya di keremangan lampu lima watt.

anakpatirsa's picture

Kisah Seorang Mantan Tentara

Bis mengurangi sedikit kecepatannya, memberiku kesempatan memerhatikan deretan tanaman yang memagari komplek. Empat tahun lalu, di jalan yang sama, aku melihat deretan rumah di belakang pagar itu. Bukan pagarnya yang menarik perhatian, juga bukan rumahnya. Saat itu aku memerhatikan apapun yang ada di pinggir jalan, semuanya tampak menarik. Deretan rumah tak terputus dan tembok tinggi kelihatannya lebih indah daripada deretan pohon di pinggir sungai kampungku.

antowi's picture

Memeluk Dinda

 Ada bunga di sudut ruangan, lalu disampingnya meja dengan beberapa teman – teman setiaku, ada Teddy si beruang, Windy boneka cantik dan Bombom si orang hutan. Mereka semua adalah teman – teman yang masih bersamaku untuk saat ini. Sungguh aku nggak tahu kenapa sehabis kehujanan pulang sekolah kemarin aku langsung jatuh sakit dan kini berada disebuah rumah sakit. Mengherankan, aku kan Cuma sakit flu saja. Kenapa mereka sangat ketakutan dan memperlakukanku seperti ini?  Aku ingin pulang. Pulang, ya aku nggak tahu apakah aku pantas pulang ke tempat itu. Tempat itu bukanlah suatu rumah yang bisa disebut rumah. Tidak ada kehangatan mama. Tidak ada canda adik ataupun kakak.

Tante Paku's picture

Ketika Mengetahui Adam Masuk Neraka

     DADA Adam naik turun, berulangkali nafasnya ditarik pelan-pelan. Sesekali ia menyeka keringat yang mengalir di dahi. Matanya menatap bangga pada perempuan di depannya, telinganya mendengarkan dengan seksama pidato sang protokol. Acara pertunangan di rumah Meirina, calon pengantin perempuan, berjalan khidmat. Alunan gending jawa memenuhi segenap ruangan, menambah suasana semarak.

hai hai's picture

Papamu Adalah Papaku

"Siapa tuh?" Dia bertanya sambil menunjuk lelaki yang duduk santai memeluk ibuku di beranda rumahku.
"Itu papaku, kenapa? Jawabku enteng.
"Papamu?" Dia bertanya sambil mencengkram tanganku. Dia menatapku dan entah mengapa, aku merasa dia nampak seolah orang yang baru melihat setan. Mungkin aku salah, namun menurutku, mata itu menyiratkan ketakutan. Oh ….. tiba-tiba aku merasa bulu kudukku berdiri, entah mengapa, aku pun merasa takut tanpa mengetahui sebabnya.

anakpatirsa's picture

Pengemis dan Uang Logamnya

"Masuk, Mas," kata wanita pemilik salon menyambut pria yang barusan mendorong pintu kaca hitam.

"Di sini bisa pijat?" mulut si tamu memang mengajukan pertanyaan, tetapi matanya menjelajahi ruangan.

Ia sudah melihat tulisan Beauty Salon--Ladies and Gents sebesar gajah di depan. Di bawahnya, dalam tulisan kecil-kecil tertulis: Creambath, SPA, Massage, Lulur, dll. Ia masuk ke tempat ini karena kacanya berwarna hitam, dan tertutup rapat, seolah-olah menyembunyikan sesuatu.

sidiknugroho's picture

diburu seperti anjing

"tangkap!" keras sekali suara-suara itu mengucap kata yang sama. hampir bikin telinga pekak. "sikat! hajar!"

"jangan sampai lolos!" kata sebuah suara pengepung sambil mengacungkan sebuah tongkat pemukul. "dia bikin anakku rabies! hampir mati!"

mereka dikomando mengepung buruan yang mereka dapatkan.

anakpatirsa's picture

SOLOBALAPAN

Entah darimana ia mendapat nomorku. Akal sehatku sulit menerima bila ia mendapatkannya dari saudara di pedalaman sana. Kami menganggapnya sudah mati dan tidak pernah membicarakannya lagi. Bila ada yang menyebut namanya, seseorang langsung berkata, "Hus... jangan membicarakan orang yang sudah mati, pamali."

Bahkan di depan Tante, ibunya, kami tidak boleh memikirkan nama itu.

Tante Paku's picture

TRAGEDI PENGANTIN BARU

y-control's picture

Last Call Duration: 00:00:01

(Thanks to Melody Club)
 
Jempol menempel di tombol. Semua sudah direncanakan matang, aku yakin aku bisa mengontrol semua kata yang akan kuucapkan. Beberapa topik bahan pembicaraan telah rapi tersusun dalam pikiran, aku yakin kali ini tidak akan jadi konyol. Kalimat-kalimat apik telah kulatih untuk kuucapkan dengan suara dan lafal yang yang jelas dan tepat.
Tante Paku's picture

SEBUAH TAS BERWARNA HITAM

Tante Paku's picture

APAKAH INI KIAMAT?

    

cindy wijaya's picture

Aurelly, Jus Strawberry, dan Mister Koreanya

 
"Jenk...."
 
Sapaan itu muncul dari sesosok foto tersenyum di chat box-ku. Tanpa membaca namanya aku sudah tahu siapa yang mengajakku ngobrol malam itu.