YLSA SABDA.org Blog SABDA SABDA Katalog

Fiksi

anakpatirsa's picture

Atik Mati

Atik mati, kamu pulang secepatnya untuk menguburkannya.

Atik akhirnya mati. Aku tidak mampu menangisi kematiannya. Bukan karena tidak mampu bersedih. Ada saatnya kesedihan begitu mendalam sehingga air mata tidak mampu keluar. Sejak meninggalkan kampung halaman enam belas tahun lalu, aku tidak bisa melupakan kemanjaannya. Sampai sekarang pun sering kurindukan tingkah-polahnya yang membuat jengkel, padahal aku juga sering membuatnya jengkel. Tidak pernah bisa kulupakan tatapan marahnya karena kucium saat tidur. Tatapan marah itu tetap seindah tatapan bola mata bulatnya di keremangan lampu lima watt.

anakpatirsa's picture

Pengemis dan Uang Logamnya

"Masuk, Mas," kata wanita pemilik salon menyambut pria yang barusan mendorong pintu kaca hitam.

"Di sini bisa pijat?" mulut si tamu memang mengajukan pertanyaan, tetapi matanya menjelajahi ruangan.

Ia sudah melihat tulisan Beauty Salon--Ladies and Gents sebesar gajah di depan. Di bawahnya, dalam tulisan kecil-kecil tertulis: Creambath, SPA, Massage, Lulur, dll. Ia masuk ke tempat ini karena kacanya berwarna hitam, dan tertutup rapat, seolah-olah menyembunyikan sesuatu.

anakpatirsa's picture

Cinta Memang Tidak Bisa Dimakan

"Ada apa, Tuh?" tanyaku sambil menatapnya. Kami memanggilnya Tutuh, sesuai permintaannya waktu kecil. Tutuh kedengarannya manja dan mungil, katanya memaksa hampir dua puluh tahun lalu.

"Ada orang mati," jawabnya, "sudah berminggu-minggu membusuk. Kita kesana, ya? Tetapi aku makan dulu."

Rya A. Dede's picture

Sepenggal Cinta (bagian 1)

 Dengan hati-hati aku mengangkatnya dari tumpukan kardus di belakang rumah. Aku heran, bagaimana ia bisa ada di situ, sementara kemarin seharian aku mati-matian menjaganya, masih saja kecolongan. Aku tak tahu ini ulah siapa.

anakpatirsa's picture

MEI

Kecantikannya sama sekali tidak hilang, sebelas tahun tidak mampu memupuskannya. Tidak hanya sekedar cantik, ia tahu. Eksotis? Dulu teman-teman mereka berkata, Mei gadis eksotis. Belum terlalu ia pahami alasannya. Banyak yang mampu menilai seorang gadis berwajah manis, cantik atau menarik, tetapi  jarang yang mampu mengungkapkan alasannya dengan kata-kata.

Purnawan Kristanto's picture

Mereka Menuduhku Provokator!!!

 

"Kita harus mengambil tindakan!"
"Ya, ketidakadilan ini harus diakhiri!"
"Betul. Mereka tidak boleh menindas kita terus-menerus!"
"Pokoknya. Pimpinan kita harus diganti!"
Kamar kos yang sempit itu menjadi riuh. Udara yang panas dan pengap seolah membakar orang-orang yang berjejalan di dalamnya. Sutikno tersenyum puas karena berhasil membakar semangat teman-teman sekerjanya. Mereka sedang membicarakan tindakan pimpinan unit yang dirasakan sudah keterlaluan. Giyono mengaku jengkel karena dimarahi di depan orang banyak. Sinta mengeluh karena berkali-kali tidak diijinkan untuk pergi ke kamar mandi. Amin mengaku sering disuruh kerja lembur tanpa uang tambahan. Semua kekesalan karyawan ditumpahkan di kamar yang pengap itu.
John Adisubrata's picture

Tiga Orang Misionaris

TIGA ORANG MISIONARIS
Oleh: John Adisubrata

Beberapa puluh tahun yang lalu tiga orang misionaris dari Eropah telah memasuki pedalaman pulau Kalimantan. Mereka ditangkap oleh salah satu suku terasing yang menolak mentah-mentah Injil Tuhan Yesus Kristus yang mereka beritakan. Bertiga mereka digiring untuk menemui rajanya. Seketika itu juga sesuai undang-undang yang berlaku di sana mereka diadili dan dijatuhi hukuman mati.
 
Tetapi oleh karena sepanjang hari itu Sang Raja merasa mujur dan terus-menerus mengalami hal-hal yang menyenangkan hatinya, ia ingin bermurah hati dengan memberikan kesempatan kepada ketiga misionaris tersebut untuk menerima amnesti. Tetapi ... amnesti yang bersyarat.