Lomba Menulis SABDA Space

Purnawan Kristanto's picture

Catatan Kecil Lomba Menulis Sabdaspace

Sebagai penyelenggara lomba saya terkesima dan tidak menyangka atas antusiasme peserta lomba. Dalam kurun waktu 31 hari, ada 35 tulisan yang diikutertakan dalam lomba. Rata-rata dalam satu hari ada 1,1 tulisan yang diposting. Namun jika dilihat dari peserta yang ikut lomba, angkanya cukup memprihatinkan. Dari 1508 user, hanya ada 18 user yang terlibat, atau sebanyak 0,01 persennya saja. Dengan kata lain, di antara seratus user hanya ada satu orang yang ikut lomba. Ada beberapa variabel yang mungkin menjadi penyebabnya:

THE WAR OF THE WARoengS - bag.4

Be creative

Ketika saya sedang berbincang-bincang dengan pemilik warung di sebuah desa di punggung Pegunungan Bukit Barisan, mendadak ada aroma harum lembut menyambar hidung saya. Seorang kernet angkutan umum berdiri di dekat saya membeli air mineral. Saya hafal bau itu karena pernah mengakrabinya. Rambutnya kinclong. Itu bau pomade merek beken yang pernah saya pakai. Krismon membuat saya beralih merek. Tetapi di sini malah seorang kernet bisa memakainya. Keluar dari warung itu, melihat angkutan umum berlalu lalang, saya heran. Kebanyakan rambut kernetnya rapi berminyak. Saya mendekati seorang kernet yang sedang mencari penumpang. Hidung saya menangkap bau wangi lembut merek lain. Saya penduduk kota besar, mengapa kalah dengan kernet di pelosok pegunungan ini? Pertanyaan “mengapa” memberi tantangan untuk berburu.

Ari_Thok's picture

Ibu Penjual Karak

Tangan ibu itu seperti tak kenal lelah menumbuk nasi yang baru saja diangkat dari dandang. Tangan ibu itu pula yang sejak puluhan tahun yang lalu memegang kemudi sepeda ontel, menempuh puluhan kilometer menjajakan sepatu dan sandal kulit ke desa tempat tinggalnya semasa dia kecil. Seorang ibu yang tak kenal menyerah memperjuangkan dan membesarkan anak-anaknya.

KEN's picture

Mengungkap Misteri di Alam Bawah Sadar (3)

...

Ketika siuman, aku melihat matahari senja menyinari ruangan menembus jendela kamar tempat saya dibaringkan, sinar itu menyilaukan mataku, seolah-olah aku seperti baru terbangun dari tidur yang panjang. Di kepalaku sebelah kiri, begitu terasa darah yang dikeluarkan itu mengalir melalui selang yang dipasangkan di kepalaku. "Ma, tolong tutupkan gerai jendela itu, sinarnya terang sekali, aku tidak bisa melihat", kataku kepada ibuku yang sedang menjagaku.

Penonton's picture

Kunjungan ke Perth (Bagian 2)

Salam Para Pembaca,

Bagian ini merupakan sambungan dari pada tulisan "Kunjungan ke Perth" bagian pertaman.Silahkan menikmati.

 

THE WAR OF THE WARoengS - bag.3

Skandal talenta 521

Di sebuah negeri entah di mana, ada seorang pedagang besar yang mau pergi ke luar negeri. Karena itu ia mempercayakan kelangsungan bisnisnya kepada pegawai-pegawainya. Yang pertama diberi modal 5 talenta, yang kedua dapat 2 talenta dan yang ketiga, cliiiiing, 1 talenta saja. Masing-masing menurut ketrampilannya. Pegawai yang pertama dan kedua segera memanfaatkan uang itu dan mendapat laba 100%. Yang ketiga, menguburnya dalam tanah agar tidak hilang karena dulu tidak ada bank. Ketika Bigboss kembali, ia meminta laporan keuangan mereka. Pegawai yang pertama dan kedua mendapat pujian setelah memaparkan usaha yang dilakukan. Yang ketiga mengembalikan modal tanpa SHU. Ia kena marah. Bahkan dihukum berat.

Love's picture

Lima Ribu

Tahun 1976, sepasang suami istri sedang melangkahkan kaki, keluar dari sebuah stasiun kereta api. Mereka baru saja tiba dari Jakarta. Dua minggu yang lalu, mereka belum membayangkan ada di tempat mereka berdiri saat ini.

THE WAR OF THE WARoengS - bag.2

Dalam mengelola warung, “ketulusan merpati” saja tidak cukup. Kita harus juga memiliki “kecerdikan ular” (Matius 10:16) dalam mendapatkan barang murah tapi tidak kadaluwarsa; mengelola persediaan barang dengan modal kecil; menentukan laba dalam ketatnya persaingan; mengefisiensikan ruang warung yang sempit; melakukan promosi kecil berdampak besar. Dari berbagai pengetahuan ini, manakah yang paling penting? Anda pasti setuju bila saya mengedepankan ketrampilan menentukan laba. Bukankah kepandaian ini yang membuat sebuah warung berjaya?

B U L E

Namanya
Riyanti, umur 38 tahun dan belum menikah. Dia bekerja di Rumah Sakit
tempat aku magang. Karena dia masih tinggal dengan bapak ibunya tiap
hari dia pulang-pergi Cilacap-Purwokerto, pagi sampai di Purwokerto
jam 8, pulang sekitar 4 sore.

Penonton's picture

Kesaksian Bernard Nababan (Bag 1)


Salam saudara pembaca sekalian,

 

Pertama-tama saya hendak menceritakan bahwa tulisan ini ditulis untuk memenuhi janji saya kepada saudara kita yang memakai nick "AHMADINEJAD".

hai hai's picture

Namanya Ellyus, Kedua Kakinya Cacat

Panggil dia Ellyus atau panggil dia Cio karena nama Hokiannya Suancio, artinya batu berlian. Saya tidak berani akrab dengannya karena tahu diri sendiri tidak mampu melakukan apapun untuk membantunya agar lebih mudah menjalani hidupnya. Sesungguhnya dia memang tidak membutuhkan apapun dari saya. Dia lahir dengan kedua kaki cacat sehingga mustahil mengalami apa itu jalan kaki. Wajahnya tidak cantik, namun dia perempuan. Keluarganya tinggal di kampung sehingga mustahil dia mengenyam pendidikan di sekolah luar biasa. Saya tidak tahu apakah dia pernah mengenyam sekolah? Saya tahu dia bisa membaca, namun tidak tahu apakah dia pernah sekolah? Saya meninggalkan kampungku akhir tahun 70, saat itu umur kami 6 tahun, saat itu saya sekolah, namun dia tidak sekolah.

iik j's picture

GARING


Musim panas tahun ini telah diawali kembali.

Suhu di sekelilingku begitu panas menyengat dan kering.

billyjoe's picture

Poltak kena kutuk?

Sejak kecil poltak hidup diantara keluarga yang bahagia menurut versi poltak, karena hampir setiap hari ada tawa cacian dengan makian, dan latihan perkelahian antara ayah pukul anak, mami pukul anak, ayah pukul mami, anak dengan anak saling pukul , anak dengan tetangga sampai tukang sayur pukul-pukulan, serta mempunyai barang yang ajaib seperti piring terbang, sendok garpu dan pisau terbang bahkan sayur dan roti isi strawberry pun bisa terbang, hanya lemari yang tidak terbang.

Penonton's picture

Dendam Kesumat

 

Dendam kesumat begitulah kira-kira kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan kejiwaan, dimana rasa benci yang telah lama mengendap bersiap-siap untuk keluar, meledak mencari pelampiasan.

THE WAR OF THE WARoengS

Beberapa tahun terakhir ini saya tinggal di pinggir kota dekat kawasan kampus universitas negeri. Bisnis eceran di sini ramai sekali. Warung internet ada 7 dan 2 di antaranya buka 24 jam. Ada yang sejamnya hanya 4 ribu rupiah. Rental komputer dan printer yang bagus mutunya setidaknya ada 3. Gerai fotokopi tak terhitung. Gerai ponsel dan kartu pulsa, juga banyak. Salon, kios reparasi sepatu, vermak jeans, bengkel sepeda motor, economic price fitness centre, bank, kantor pos pembantu, biro perjalanan, mini market juga ada. Warung kelontong dan tenda mamimu (makan-minum-murah) berlerot.

y-control's picture

Sekarang Ia Mumu

Aku melihatnya pertama kali di ruang kuliah. Hanya melihat posturnya dari belakang. Rambut kumal, sebagian beruban, dengan tubuh gemuk pendek. Mata kuliah yang berlangsung saat itu adalah Pendidikan Agama Kristen. Beberapa orang di ruang itu tertawa kecil dan segera menengok kanan kiri saat dosen mengabsen dan memanggil, “Muhammad Muhaimin Syamsudin.” Aku juga ikut penasaran, hanya saja ia mengacungkan tangan dengan sangat cepat. Aku pun tidak berhasil menemukan pemilik nama itu. Nama itu memang sempat kudengar dibacakan saat pertemuan pertama dengan dosen wali. Tapi ia tidak datang waktu itu. Baru ketika siang seusai kelas perkenalan Pelajaran Agama itu, aku mendengar seorang teman membicarakan tentang dia. “Yang ubanan kayak orang tua itu lho, tapi memang sudah tua juga sih dia…”

Kebenaran Mimpi

Mengapa mimpi itu terus datang menganggu tidur malamku, mengapa dari hari ke hari harus ada mimpi itu..., hush...hush...mimpi sana pergi, ganggu saja gadis-gadis lain, jangan aku.

-0-

Priska's picture

Cerpen Jakarta - Jogja

Dari Gambir - SMA Ketapang, itulah pertama kali aku naik angkutan umum di Jakarta sendirian. Takut??? So pati lah... tapi rasa pengen tahu, mengalahkan segala rasa takut. Tapi menurutku itu masih setengah-setengah karena aku pilih taksi. Harusnya sekalian aja aku naik bis, biar tahu rasanya naik angkutan umum di Jakarta... he he he... Tongue out

Setelah beberapa lama di atas taksi, ketemu juga dengan SMA Ketapang. Dan semua cerita sebelum ada di SMA Ketapang ada di blog Cerpen Semarang - Bekasi.

Priska's picture

Cerpen Semarang - Bekasi

Yogyakarta, 19 Juli 2008.

Tadi malam aku sampai di kota gudeg ini. Maksudnya mau liburan karena di Semarang sendirian, tapi ya gimana lagi. Yang diajakin liburan ternyata kerja. Jadi ya udah, tadi pagi-pagi nganter ke JEC (Jogja Expo Center), ada daftar ulang CPNS trus ditinggal di warnet sendirian karena hari ini yang disamperin masih kerja sampai jam 4 sore. Bingung mau ngapain,jalan2 aja deh ke Klewer, ternyata cerita kopdar kemaren dah dipasang Ko hai hai. Jadi pengen cerita juga ni....

Tampilan Terbaik di 1024 x 768