Prasangka itu bak pedang bermata dua. Di sisi baik, prasangka memudahkan kita dalam memandang sesuatu. Karena sudah mengenali pola-pola di masa lampau, maka kita dapat langsung dapat melakukan tindakan antisipasi tanpa perlu melakukan analisis yang njlimet lagi. Sebagai contoh, kalau ada pemuda yang menyanyi di depan rumah sambil memetik gitar, kita dapat langsung berprasangka orang itu hendak mengamen. Tanpa perlu menyelidiki lagi tujuan dia melakukan itu, kita dapat langsung melakukan tindakan: Memberi uang receh.
Akan tetapi simplifikasi yang berlebihan dapat mengarah pada fitnah. Ini sisi buruk dari prasangka. Kita dapat terjebak dalam pusaran arus generalisasi. "Kalau dia biasanya begitu, maka dia akan selamanya begitu," demikian prinsipnya tanpa menyadari bahwa manusia itu dapat berubah, juga tidak menyadari adanya faktor determinan lainnya.






Kata orang, wartawan yang baik itu harusnya hasil blasteran antara ilmuwan dan diplomat. Maksudnya, wartawan itu harus memiliki otak yang berpikir kritis seperti ilmuwan. Setiap informasi tidak ditelan mentah-mentah tetapi diverfikasi, diuji dan diperiksa kebenarannya. Di sisi lain, meski bersikap kritis [bahkan kadang skeptis], tapi wartawan harus mahir menjalin hubungan pribadi dengan narasumber, luwes dalam pergaulan dan tidak boleh malu-malu. Akan tetapi kalau terlalu sok kenal dan sok dekat juga dapat membuat malu. Inilah yang saya alami. Begini ceritanya.
Persaingan antar operator seluler sudah sangat sengit. Akibatnya, TELKOMSEL melarang karyawannya menggunakan apa pun yang berkaitan dengan perusahaan pesaing. Untuk itu, TELKOMSEL melarang karyawannya menyanyikan lagu-lagu berikut. Alasannya, dalam syairnya terdapat kata-kata "MENTARI" (produk Indosat), "BEBAS" (Produk Excelcomindo) dan "CERIA" (milik Sampoerna). Jika ingin tetap menyanyikannya, maka mereka harus mengganti kata tersebut dengan "SIMPATI" Contoh: "Yesus segala-galanya, MENTARI hidupku" diganti Yesus segala-galanya, SIMPATI hidupku.


sabdaspace.org |