Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Happy Easter

Andreas Priyatna's picture

Sehari setelah saya menulis mengenai gecko yang sudah saya posting sebelumnya, saya menemukan sebuah bahan tulisan baru namun baru dapat saya tuliskan sekarang, yaitu berawal ketika saya beserta keluarga pulang ke malaman setelah menikmati indahnya sunset. Kebetulan kami menginap bukan di tempat yang famous dan ramai, tapi kami sengaja menginap di hotel yang agak jauh dari hingar bingar dan berjarak tempuh kira-kira 45 menit dari tempat kami menyaksikan sunset. Sebelum mencapai hotel di mana kami menginap, kami harus melewati sebuah jalan yang di kiri kanannya terdapat café dan sudah seperti biasanya kalau sudah sore café-café tersebut tumpah ruah sampai ke jalan, sehingga taksi yang kami naiki harus berjalan perlahan, bahkan kadang-kadang sampai berhenti beberapa saat. Di saat taksi harus berhenti, kami melihat sebuah pemandangan yang membuat kami terpana, seorang peramu saji membawa hidangan kepiting yang sangat menggugah selera. Anak saya nyeletuk: “Woww…, very nice crab”. Sesampainya di kamar, sudah seperti biasanya kalau ada sesuatu yang baru dilihat akan menjadi bahan perbincangan yang hangat. Kepiting…, akh…, kepiting…, kapan dong… makan kepiting…, begitu ujung-ujungnya.

Ngomong-ngomong soal kepiting, saya jadi teringat beberapa tahun yang lalu, ketika saya bersama istri dan teman saya makan kepiting alaska di sebuah restoran yang bernama Thanh Long di San Fransisco. Thanh Long ini adalah sebuah restoran kecil yang terletak di kota San Fransisco, dekat dari Golden Gate Bridge, tepatnya di jalan Judah no 47, posisinya terletak di pojokan ujung jalan. Waktu teman saya berputar-putar di antara beberapa block mencari tempat parkir, saya sama sekali tidak mengerti akan makan di mana. Sekilas saya melihat sebuah antrian yang cukup panjang juga, ada kiri-kira 15 orang begitu. Akhirnya teman saya dapat tempat parkir tidak jauh dari antrian tersebut dan saya terkejut juga ketika teman saya berhenti dan ikut mengantri. Ngantri di sini, katanya. Ini ngantri apaan…, tanya saya. Tenang…, ntar kalo udah belok baru kelihatan, katanya lagi. Karena posisi restoran itu dipengkolan, maka papan namanya tidak terlihat dari sebelah kanan. Setelah kedinginan mengantri kurang lebih setengah jam, barulah kami belok dan baru dapat melihat nama restorannya, Thanh Long. Tidak lama setelah belok kami dipersilakan masuk ke dalam restoran. Wah…,pas banget dah…, kalau saja nunggunya sampai satu jam..., walaupun sudah pakai jaket…, pasti gemeteran deh. Maklumlah…, karena suhu udara San Fransisco berkisar antara 12 sampai 18 derajat celcius di siang hari. Memang sih suhu segitu tidak terlalu dingin, tapi kalau ada angin dari arah utara atau dari arah Golden Gate Bridge…, whuuus…, dingin sekali rasanya. Dari luar restoran itu kelihatannya tidak terlalu bagus, tapi ternyata di dalamnya cukup luas dan rapi restorannya. Kami menempati tempat duduk agak di sudut, sehingga kami dapat melihat luasnya restoran. Teman saya memesan 3 buah Garlic Roasted Whole Crab and Chinese Tea. Saya bertanya-tanya dalam hati…, mengapa teman saya memesan makanannya singkat sekali. Waaah…, kalau cuma makan kepiting doangan…, bisa lapar lagi nih…, pikir saya. Ternyata…, woouw…, kepitingnya gede banget…, lebarnya hampir 30 cm…, dihidangkannya di sebuah piring oval yang ukurannya juga besar. Masih terpesona saya melihat kepiting itu…, tiba-tiba kaki saya ditendang istri saya…, ukh… seketika itu pula saya sadar. Teman saya memecahkan suasana keterpanaan saya dan katanya di Thanh Long ini…, yang ngetop kepitingnya…, ini pakai garlic dan black paper dan ini tidak dimasak atau direbus tetapi di panggang…, ayoo… cobain…, kita balapan yaa…., kata teman saya. Hmm…, smell is good dan rasanya nendang buanget…, gurih…, black papernya juga begitu mantap…, terasa menari-nari di lidah. Kalau mengingat Thanh Long…, hingga kini serasa masih di lidah lezatnya kepiting itu dan itu adalah pengalaman yang tak kan pernah terlupakan…, kepiting yang terbesar yang saya pernah lihat dan yang pernah saya santap.

Dalam perjalanan pulang ke hotel di Van Ness Avenue juga di San Fransisco, kami mengobrol ke sana kemari dan saya mencoba memberanikan diri untuk bertanya, sebenarnya makan kepiting itu diperbolehkan atau tidak sih…, kalau menurut Alkitab. Saya agak takut bertanya kepada teman saya karena teman saya itu adalah aktivis Gereja di Los Angeles. Ternyata dia terkejut…, mukanya kelihatan agak tegang “Ooo…, memangnya nggak biasa makan kepiting yaa…?, waah…, maaf…, saya memang nggak nanya dulu…, maksudnya biar surprise gitu…”. Akh…, biasa koq…, kata saya, buktinya tadi habis…, bersih…, sambil tertawa, saya cuma pengen tanya aja…, lanjut saya. Kelihatan mukanya kembali normal…, tidak tegang lagi. Dan katanya lagi, sebenarnya kalau menurut perjanjian lama…, ya… tidak boleh…, tapi kalau menurut pejanjian baru…, boleh…lah…, jadi tergantung kitanya…, lebih percaya yang mana.

Kalau menurut Perjanjian Lama, Imamat 11 ayat 2 kepiting memang tidak boleh dimakan karena disebutkan bahwa binatang di laut yang tidak bersisik dan bersirip, seperti kepiting, udang, siput (kerang), belut, dsb adalah binatang yang tidak boleh dimakan.

Tapi menurut Perjanjian Baru, Matius 15 ayat 10 dan 11 menyebutkan bahwa: Lalu Yesus memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka, dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut itulah yang menajiskan orang. Jadi…, makan kepiting tidak apa-apa…, masih lebih baik makan kepiting dari pada mengucapkan kata-kata dusta dan kotor, menghardik orang lain atau memfitnah orang lain atau yang sejenisnya.

Lebih baik lagi kalau kita gunakan mulut kita untuk memuliakan namaNya dan menyenangkanNya.

The words of a wise man's mouth are gracious...

The words of a wise man's mouth are graces...

Happy Easter to all of you…