Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Akibat Tidak Mendengarkan

anakpatirsa's picture

Selama liburan, aku membaca satu dari sedikit buku tentang kebudayaan suku kami. Buku berjudul "Menyelami Kekayaan Leluhur" ini merupakan kumpulan dokumentasi tertulis mengenai kebudayaan kami. Gubernur pertama propinsi ini yang menyusunnya. Aku tertarik pada bagian yang menceritakan tentang reaksi masyarakat jika ada anggotanya yang meninggal. Terlalu banyak kematian selama dua minggu disini, sehingga tidak bisa kulewati begitu saja topik kematian dalam masyarakat pedalaman.

Menurut buku ini, apabila terjadi kematian, seketika keluarganya berupaya menyebarkan berita tersebut. Bisa melalui penyebaran berantai dari mulut ke mulut atau memukul gong dengan irama tertentu. Irama gong kematian.

Begitu beritanya tersebar, spontan penduduk menunjukkan perhatian dan kepeduliannya. Sekalipun sedang berada di ladang, di pinggir hutan, atau di tengah sungai, mereka meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Berduyun-duyun mendatangi rumah duka.

Setelah melihat jenazah dan menemui keluarga yang berduka, mereka bergotong royong meringankan beban keluarga yang ditinggalkan. Tanpa komando, langsung mengumpulkan bahan bakar, menyediakan tungku untuk tempat memasak, serta menggelar tikar. Di rumah duka, mereka berusaha menyesuaikan diri dengan suasana duka. Tidak membuat kegaduhan, bicara pelan serta tidak menunjukkan kegembiraan.

Aku melihat sendiri ini bukan hanya teori. Kulihat setelah beberapa minggu berada di kampung.

***

Dua hari yang lalu, sebuah mobil berhenti di depan rumah Koneng. Lima puluh meter dari rumah kami. Banyaknya orang yang mengerumuni mobil membuatku penasaran dan ikut bergabung. Ternyata anaknya sakit keras, akan dibawa ke kota kecil sekitar dua jam perjalanan naik mobil dari kampung. Anak berumur 3 tahun ini awalnya cuma sakit biasa, sehingga orang tuanya tidak terlalu memberi perhatian. Baru setelah anaknya menjadi parah, mereka memanggil dokter puskesmas. Si dokter langsung menganjurkan mereka membawanya ke rumah sakit terdekat.

"Itulah kesalahan mereka," kata ibu berkomentar setelah aku pulang kerumah, "mereka terlalu sibuk dengan ladangnya, sehingga lalai memperhatikan anaknya sendiri."

Aku tidak berkata apa-apa, apalagi mengingat kemarin Si Esen, anak SMA yang tinggal di rumah kami juga sakit. Hampir terlambat memanggil dokter.

Lalu pagi ini, sekitar jam sepuluh, anak perempuan tetangga depan rumah berteriak kepada ibunya, "Mah! anak itu sudah meninggal."

Aku langsung keluar rumah. Sudah bisa kutebak siapa yang dimaksud sudah meninggal. Awalnya kupikir jenazah si anak sudah ada didepan rumahnya. Tidak ada mobil di situ. Dari jalan, bisa kulihat kesibukan di sana. Beberapa orang menyeberangi jalan, membawa barang-barang dari rumah duka. Setelah yakin apa yang kudengar benar, aku kembali ke rumah. Memberi tahu ibu kalau ada orang meninggal. Terlalu bersemangat membawa kabar ini sehingga membuat betisku menghantam anak tangga.

"Mah! anaknya sudah meninggal," kataku kepada ibu yang sedang menyiapkan makanan untuk ayah.

Ibu terdiam sesaat. Mungkin sulit mencerna apa yang kumaksud, bingung dengan anak siapa yang meninggal. Beberapa saat kemudian, baru ia mengerti anak yang kumaksud.

"Aduh, sayang sekali! Anak sesehat itu harus meninggal karena kesalahan orang tuanya," kata ibu dengan sedih. Ada nada marah disitu. Lalu ia melanjutkan, "kamu yang terjatuh tadi ya?"

Kalimat terakhirnya bukan pertanyaan tapi pernyataan, tidak perlu kujawab. Ia pasti masih ingat kebiasaan lamaku, selalu teledor bila sedang terfokus pada sesuatu. Ia pasti tahu fokusku tadi bercerita tentang kabar kematian sehingga mengabaikan tangga itu.

Aku langsung berbalik supaya ia tidak melihat betisku yang sedikit berdarah.

Saat kembali ke jalan, semua orang keluar rumahnya masing-masing menuju rumah duka. Puluhan orang tampak sedang keluar masuk. Memikul lontong, alat pengangkut khas kami. Tentunya mereka sedang mengosongkan isi rumah untuk menampung para pelayat.

Aku ikut bergabung. Hasil panen keluarga ini sangat banyak, bahkan ruang tamu telah menjadi lumbung padi. Seandainya hanya satu orang memindahkan hasil panen ini, pasti baru selesai saat sore. Kami menyelesaikannya kurang dari satu jam. Bisa kulihat semua orang bekerja sukarela tanpa banyak omong. Tidak ada yang bertanya mengapa padi ini harus dipindahkan. Pasti satu orang memulainya dan orang lain, termasuk diriku mengikutinya tanpa bertanya.

Bisa kudengar tangisan dua orang anak. Pasti kakak anak yang sudah meninggal. Tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun. Seolah-olah tangisan itu begitu sakral sehingga tidak boleh ada bisikan sekecil apapun.

Spontanitas adalah kelebihan kami. Masing-masing menyibukan diri tanpa ada yang menyuruh. Setelah urusan memindahkan padi selesai, beberapa orang membersihkan rumah yang sudah kosong. Sebagian memasang tenda di luar. Entah darimana mereka mendapatkan terpal dan bambu-bambu itu.

Sunyi, hanya tangisan yang memecahkan kebisuan.

Aku risih karena hanya berdiri. Kulihat Econg, mantan adik kelasku sedang berusaha mengeluarkan meja kecil dari rumahnya. Kubantu ia mengangkat dan membersihkannya. Tanpa bertanya, aku sudah tahu untuk apa meja ini. Untuk membaringkan jenazah yang sedang dalam perjalanan. Juga tidak kutanyakan apakah Econg sudah minta ijin ayahnya. Meja ini harus dibakar setelah penguburan.

Semuanya bekerja tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Akhirnya rumah duka bersih dan kosong. Meja kecil itu terpasang di ruang tamu. Tenda juga sudah terpasang. Seseorang berwajah mirip Koneng mengeluarkan ponselnya. Pasti menelpon kakaknya. Bertanya jam berapa ambulans sampai, sekaligus memberitahu segala sesuatu siap di sini.

Tanpa berkata-kata, kami mengerumuni pria ini. Menyadari banyak yang ingin tahu, ia mengaktifkan speaker ponselnya. Semua orang bisa mendengar seluruh pembicaraan. Sepertinya ada yang tidak beres. Bisa kutangkap, tadi pagi Koneng menelpon, memberitahu kalau rumah sakit sudah angkat tangan. Merujuk si sakit ke rumah sakit propinsi. Ada dua pilihan. Membawa anaknya pulang untuk meninggal atau membawanya ke kota, dengan resiko meninggal dalam perjalanan. Ia tidak bilang anaknya sudah meninggal

Sekarang mereka memutuskan membawa anaknya ke kota, apapun resikonya.

Setelah semuanya jelas, satu persatu pergi. Tidak seorangpun berkomentar menyalahkan si penerima telpon jam sepuluh tadi. Juga tidak ada yang penasaran siapa penerimanya. Paling sudah bisa menebaknya, tetapi tidak seorangpun menyalahkan siapa-siapa.

Aku mendengar seseorang berkata, "Kalau tidak begini, rumahnya tidak akan bersih."

Seorang lagi menanggapi dengan santai, "Hari ini tidak perlu ke kebun karet, soalnya sudah siang."

Sorenya kulihat Econg membakar meja yang tidak jadi digunakan. Tidak perlu kubantu ia melakukannya. Beberapa orang sedang melepas tenda. Tidak kelihatan siapapun bolak-balik masuk rumah membawa lontong di pungung. Mungkin Koneng harus mengurus sendiri padinya.

Seminggu kemudian, saat mau kembali ke Solo, aku mendengar kabar pertama tentang anak ini. Sambil menunggu mobil yang menjemput, adikku—Dein--memamerkan tugasnya sebagai pendeta. Ia menelpon langsung ayah si anak. Speaker ponselnya aktif sehingga bisa kudengar si anak masih parah. Bahkan untuk urusan buang kotoran harus memakai selang dari perutnya.

***

Beberapa minggu setelah sampai di Solo, aku mendapat kabar dari adikku, Nyai. Saudara kembar Mantuh ini mengirimkan SMS:

jd ntu plnka tuh, dmah endah. Dio rajin nukep aku. tge di ngilar, hp kuh tuh, snyum2 nukep aku. Tge pesan mamah, ankndu nano nah jd brigas ndai. dhndk ktun ngbur bihin.

Artinya:

Aku sudah kembali ke Palangkaraya, datang tadi. Dio* suka mendekati aku. Ada yang diincarnya, hp-ku, senyum-senyum mendekati aku. Ada pesan Ibu, anaknya Indu Nano** sudah sehat sekarang. Itu... tuh, anak yang dulu mau kalian kuburkan.

***

Catatan:

*    Dio adalah keponakan kami yang baru berumur 2 tahun. Selalu mencari kesempatan untuk memasukkan hp siapa saja kedalam aquarium atau kedalam segelas air.

**   Dalam tradisi kami, orang yang sudah berkeluarga dipanggil menurut nama anak tertua. Jika anak anak tertua bernama Nano, maka kedua orang tuanya dipanggil Bapak/Ibu Nano.

ely's picture

@AP, untung

Untung saja kuburannya belum digali...

(Orang Indonesia memang selalu beruntung)

__________________

Lakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia ...

anakpatirsa's picture

Salah Gali

Kebetulan mereka beragama asli suku. Artinya, saat penguburan, jenazah dibawa ke kuburan, baru bisa orang menggali kuburnya.

Mungkin untuk mencegah kejadian salah gali. Tidak boleh ada penggalian tanpa jenazah di samping lubang.