Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Mencari idola dalam gereja

Purnomo's picture

Saat ini lebih banyak gereja yang pendetanya berkualitas “ala kadar”nya atau “ala mak,” banyak kurangnya; tak punya kesaktian menyembuhkan orang sakit dengan satu kali jamah; tidak dapat mengoplos minyak urapan yang bisa menaikkan omzet penjualan toko jemaatnya dalam waktu satu bulan; tidak bisa bertutur dengan bahasa malaikat; tidak bisa melihat roh jahat dengan mata jasmaninya; tidak bisa menerawang masa depan seseorang.

Idola ayahku

Dulu ketika Bung Karno memerintah negeri ini, Ayah mengidolakannya. “Ini pemimpin sejati,” katanya, “biar punya kekuasaan tak terbatas tetapi tetap hidup sederhana.” Saya tidak senang. Karena dalam kemiskinan kami, Ayah selalu saja membeli buku-buku pidato Bung Karno, seperti Sarinah, Di Bawah Bendera Revolusi, walaupun ia tak pernah menyukai politik. Harga buku itu sama dengan 3 ekor ayam. Coba Ayah tidak membeli, jatah anak-anaknya untuk makan ayam tentu tidak dikurangi. Karena punya idola, jatah gizi anak-anaknya dikorbankan.

 

Dari dunia selebriti, Ayah juga punya idola bintang filem. Seperti juga para penggemar sinetron saat ini, ia hafal benar jalan hidup idolanya. Kalau filemnya sedang diputar di kota kami, ia membujuk, mengajak, bahkan memaksa teman-temannya pergi ke gedung bioskop menontonnya. Untuk idola yang ini saya tidak protes, karena tidak mengurangi uang belanja untuk Ibu. Bagaimana bisa? Karena pekerjaannya adalah penjaga pintu masuk gedung bioskop sehingga ia bisa menyelundupkan teman-temannya tanpa bayar. Tetapi bukankah karena idolanya ini ia telah menyalahgunakan jabatannya?

 

Idola punya akar kata ‘idol’, berhala. Mengidolakan seseorang berarti menempatkan orang itu sejajar dengan Tuhan.

 

Idola dalam Alkitab

Sewaktu mulai menjadi guru Sekolah Minggu, saya mencoba mencari tokoh Alkitab, selain Tuhan Yesus, yang bisa saya sodorkan kepada anak-anak untuk menjadi idolanya. Ternyata tidak ada. Alkitab kita ternyata sangat manusiawi, setiap tokohnya terpapar telanjang bagi pembacanya. Kelemahan mereka juga ditulis. Sehebat-hebatnya rasul Paulus, dengan mudah kita bisa menemukan ketidaksempurnaannya. Apalagi tanpa risih ia menulis sendiri kekurangannya dalam surat-suratnya kepada jemaat mula-mula.

 

Seseorang bisa dijadikan idola apabila ia sempurna, tidak punya kelemahan sama sekali. Apabila ia mempunyai kelemahan, masyarakat tidak boleh mengetahuinya. Dan inilah yang terjadi dalam menciptakan idola-idola di dunia politik dan dunia hiburan, di mana mass media gencar menggelembungkan kehebatan mereka dan apabila ada kelemahan yang harus diberitakan, pasti disertai alasan-alasan yang membuat masyarakat mudah dan segera memaafkannya. Sayang sekali, Alkitab kita tidak begitu. Karena itulah dulu Alkitab pernah dilarang dibaca oleh kaum awam agar para pendeta bisa aman jadi idola di mata umatnya, berjalan anggun dalam jubah kuning keemasan, bicara berwibawa di mimbar tinggi.

 

Idola diperlukan sebagai pengarah opini masyarakat. Ketika Bung Karno meminta rakyat Indonesia mengencangkan ikat pinggang dalam gerakan penghematan nasional, semua patuh. Sekarang, langsung demo digelar, karena SBY belum lulus jadi idola. Ketika seorang idola dalam dunia hiburan berkata “saya makan kapsul ini dua kali sehari” langsung saja kapsul ini laris manis karena fansnya segera menirunya.

 

Idola dalam gereja

Seorang pendeta yang mumpuni sangat berpotensi menjadi idola bagi jemaatnya walaupun di atas mimbar ia berteriak “Jangan idolakan saya” dengan setengah hati. Apabila kita mengalami kesusahan (sakit berkepanjangan, bisnis lesu, konflik rumah tangga), atau ketidakpastian (maju ujian, cari kerja, cari jodoh, bepergian jauh), doa, berkat dan nasehat pendeta kita butuhkan. Rasa hormat kita kepadanya akan makin tinggi apabila apa yang didoakannya segera dikabulkan Tuhan. Tidak, kita tidak menjadikannya berhala. Tetapi kedudukannya dalam kerajaan surga tepat di bawah Tuhan Allah, sehingga ia bisa kapan saja bercakap-cakap langsung dengan Allah, bahkan konon diundang berwisata ke surga. Kita tidak bisa menerima tuduhan bahwa kita memberhalakannya, selama kita tidak pernah merasa takut terhadap “kesaktian”nya itu. Tetapi bila kita sudah tidak berani berkata “tidak” kepadanya, karena takut ia mengirim kutuk ke rumah kita, jelas kita sudah mengidolakannya. Apalagi bila kita melakukan sesuatu dengan dasar “pendeta saya yang menyuruh” bukan “Firman Tuhan yang menghendaki ini saya lakukan.”

 

Banyak orang ingin gerejanya mempunyai pendeta seperti itu, yang bisa memberi apa yang dibutuhkan setiap jemaatnya. Dengan pendeta sakti seperti itu, jumlah jemaat akan terus bertambah, dan para aktivis bisa membanggakan gerejanya kepada setiap orang yang ditemuinya. Bukankah dengan demikian pengabaran Injil dapat dilakukan dengan mudah?

 

Sayang sekali saat ini lebih banyak gereja yang pendetanya berkualitas “ala kadar”nya atau “ala mak,” banyak kurangnya; tak punya kesaktian menyembuhkan orang sakit dengan satu kali jamah; tidak dapat membuat minyak urapan yang bisa menaikkan omzet penjualan toko jemaatnya dalam waktu satu bulan; tidak bisa bertutur dalam bahasa malaikat; tidak bisa melihat roh jahat dengan mata jasmaninya; tidak bisa melihat masa depan seseorang.

 

Teladan dalam pelayanan

Sering seorang aktivis mengalami stagnasi (jalan di tempat) dalam pelayanannya karena tidak ada idola dalam gerejanya. Tak ada keinginannya untuk meningkatkan jumlah atau pun mutu pelayanannya karena ia tidak lagi menghormati pendeta atau penatuanya sehingga apa pun ajakan mereka untuk maju, tidak didengarnya. Aktivis gereja diam-diam mencari orang yang sempurna untuk dijadikan panutannya, pemimpinnya, motivatornya.

 

Seumpama Paulus hidup kembali dan menjadi pendeta di gereja saya, saya yakin ia juga tidak bisa memenuhi keinginan para aktivisnya. Ia jago berbahasa lidah, punya karunia supranatural lainnya, dalam penginjilan tidak membedakan warna kulit. Tetapi dulu dia preman. Bukankah dosa masa lalu seorang pendeta sering diungkit kembali oleh jemaatnya untuk menyingkirkannya walaupun ia pernah diidolakan?

 

Karena itu Paulus tidak pernah mau diidolakan (Kisah 14:11-18). Tetapi ia mau apa yang dilakukannya menjadi teladan, menjadi sebuah contoh untuk diikuti. Dalam 1 Korintus 4:16 ia memberi contoh menjadi bapa bagi orang lain. Filipi 3:17 mencatat contoh usahanya untuk makin mengenal kasih karunia Tuhan Yesus. Tetapi Paulus juga menyebut jemaat Tesalonika yang keteguhan imannya dalam penderitaan telah menjadi contoh bagi jemaat di Makedonia dan Akhaya (1 Tes 1:7). Teladan adalah contoh yang bisa ditiru atau diikuti, dan memberi manfaat bagi banyak orang. Karena itu Paulus tidak menjadikan kepiawaiannya dalam berbahasa roh untuk diteladani. “Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua. Tetapi dalam pertemuan jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, daripada beribu-ribu kata dengan bahasa roh” (1 Korintus 14:18,19).

 

Mencari teladan, menyegarkan semangat.

Idola berbicara tentang siapa, teladan berbicara tentang apa. Jika seorang pendeta secara totalitas (dalam arti seluruh aspek kehidupannya) tidak bisa dijadikan idola, apakah tidak ada satu pun tindakan atau karakternya yang bisa dijadikan teladan?

 

Walaupun saya tidak pernah belajar di seminari, dalam pengetahuan Alkitab saya berani bertanding dengan pendeta yang satu ini. Mengapa saya berani sesombong itu? Karena saya membaca lebih banyak buku daripada dia yang honornya pas-pasan. Tetapi, saya betul-betul mengagumi ketrampilannya ketika memimpin penyelidikan Alkitab. Ia bisa menjelaskan sesuatu yang sulit dalam bahasa yang sederhana dan dengan kesabaran yang tak pernah saya miliki sebelumnya. Ketrampilannya dalam mengajar menjadi teladan bagi saya untuk meningkatkan pelayanan saya di Sekolah Minggu. Ternyata saya butuh waktu 6 tahun untuk mendekati tingkat ketrampilan beliau.

 

Ia isteri pendeta. Kadang-kadang majelis memintanya berkotbah di kebaktian Minggu. Kotbahnya tidak njelimet, bahkan sangat sederhana. Mahasiswa teologia semester tiga pasti bisa mengalahkannya. Tetapi saya merasakan ada kuasa dalam kotbahnya. Selalu saja saya mendapat berkat mendengarkan kotbahnya. Secara pribadi saya tidak menyukainya karena sifatnya tertutup. Sabtu siang itu saya akan menyertai rombongan pendeta untuk pelayanan di pedalaman. Sebelum berangkat, kami akan makan siang di rumah makan sebelah gereja. Tetapi ibu ini menolak ikut serta. Saya bersikeras mengajaknya. “Ibu tak ikut, kami juga tak makan,” kata saya. “Saya sedang puasa,” jawabnya. Puasa untuk apa? “Bapak ke pedalaman, jadi besok saya harus menggantikannya berkotbah di gereja. Saya tidak bisa berkotbah kalau tidak berpuasa hari Sabtunya.”

 

Itulah rahasia kuasa kotbahnya. Ia biasa berpuasa hari Senin dan Kamis. Tetapi bila akan naik mimbar, ia menambahnya dengan hari Sabtu. Caranya mempersiapkan diri habis-habisan dalam membawakan Firman, menjadi teladan bagi saya. Tidak banyak orang yang mengetahui kebiasaannya berpuasa. Karena itu ketika rahasia ini saya buka di Komisi Sekolah Minggu, kegiatan doa puasa mulai diperkenalkan kepada guru SM. Ternyata, kegiatan ini diketahui oleh anak-anak SM kelas SMP sehingga mereka juga minta acara doa puasa untuk keterlibatan mereka menyelenggarakan bazar Sekolah Minggu.

 

Ketika saya mencari teladan untuk menyegarkan kembali semangat pelayanan saya, Tuhan memberikannya melalui diri banyak orang, yang tidak harus datang dari gereja saya. Tentu juga kepada Anda, asalkan Anda mau mencarinya.

 

(selesai)

 

erick's picture

Ehmmmmm,....

Sepertinya tinggal tunggu waktu saya tahu siapa penulis dgn nick purnomo

Entahlah,....... nanti kata bung hai nubuatan lagi......... (kerja lagee ah....)

*sambil bersenandung lagu I Will Sing of the Mercies

__________________

Lord, when I have a hammer like YOU, every problem becomes a nail. =)

Penonton's picture

@Pak Purnomo

Numpang tanya,

 

Pak Purnomo menulis:

Idola punya akar kata ‘idol’, berhala. Mengidolakan seseorang berarti menempatkan orang itu sejajar dengan Tuhan.

Penonton bertanya:

Apakah memang selalu begitu?

Apakah meng-idolakan seseorang selalu berarti menempatkan sang idola sejajar dengan Tuhan?

Kayaknya nggak selalu deh Mas Pur....

 

 

From OZ....far...far...away..

__________________

xxx

Mikhael Romario's picture

@Purnomo

Pak Pur, anda lagi mabok atau lagi caper?

Jawab dulu ya dua pertanyaan saya itu, biar nti diskusinya gak mubazir kalo ternyata anda emang lagi mabok atau caper

 

 

Damai Kristus

__________________

Damai Kristus

Purnawan Kristanto's picture

Provoaktif

 Pertanyaan ini provokatif dan cenderung menyudutkan. Bisakah diajukan pertanyaan yang elegan dan netral, sehingga bisa berdiskusi dengan baik?

 

Wawan

“If any man wishes to write in a clear style, let him be first clear in his thoughts; and if any would write in a noble style, let him first possess a noble soul” ~ Johann Wolfgang von Goethe

 

 

 

__________________

------------

Communicating good news in good ways

Mikhael Romario's picture

@wawan

saya bukan provokator & tidak sedang memprovokasi. Pertanyaan saya di atas adalah sekedar keingintahuan saya. Maaf kalau penyampaiannya dirasa kasar. Harap jangan ada yang tersinggung & terprovokasi. Emang sayalah yang lagi cari perhatiannya Pak Purnomo biar dapat jawaban secepatnya.

 

Damai Kristus

__________________

Damai Kristus

Purnawan Kristanto's picture

Lanjut

Oke. Dimengerti. Silakan lanjutkan diskusinya.Peace!!

“If any man wishes to write in a clear style, let him be first clear in his thoughts; and if any would write in a noble style, let him first possess a noble soul” ~ Johann Wolfgang von Goethe

 

 

 

__________________

------------

Communicating good news in good ways

Mikhael Romario's picture

@wawan

trims Pak Wawan

 

Damai Kristus

__________________

Damai Kristus

ebed_adonai's picture

@purnomo

Salam kenal sdr Purnomo!

Baiklah, saya hanya menanyakan satu hal saja. Dalam tulisan anda di atas tadi, sebenarnya anda 100% menolak istilah idol (termasuk dalam pengertian "sangat dihormati", bukan "berhala", seperti yang dikemukakan bung penonton di atas), atau masih menerimanya dalam batasan tertentu?

Maju terus sdr Purnomo!

Shalom!

__________________

(...shema'an qoli, adonai...)

Penonton's picture

@Pak Purnomo

Pak Pur,

Kok pertanyaan saya nggak dijawab?

 

From OZ....far...far...away..

__________________

xxx

agamaitucandu's picture

dicatet

[Idola punya akar kata ‘idol’, berhala. Mengidolakan seseorang berarti menempatkan orang itu sejajar dengan Tuhan. ]

*dicatet, walau dengan berat hati*

__________________

.

agamaitucandu's picture

kodok dan kebo bupak

[..., anda lagi mabok atau lagi caper?]

*dicatet, kategori kodok dan pahlawan kodok*

<ojo cedak kebo bupak MODE:ON>

__________________

.

Purnomo's picture

Purnomo cari perhatian

 Mikhael Romario bertanya, “anda lagi mabok atau lagi caper.” Respon saya impromptu pasti gampang banget, “saya lagi caper sambil mabok.” Vinito, selesai, tidak ada diskusi berkepanjangan. Tetapi setelah Pak Wawan datang, ia bilang dialah yang cari perhatian. Gimana seh orang ini?


 

Setelah memeriksa database saya, ternyata ini komentar ke-2 MR terhadap blog saya. Forgive me MR, saya tidak bereaksi atas komentar perdana Anda di blog saya “Bosan di Sekolah Minggu?” karena saya pikir tulisan Anda hanya untuk merespon komentar Dedy Yanuar.


 

Purnomo cari perhatian? Betul! Blog-blog saya terakhir kurang laris. Setelah 24 jam di’launching’ hanya menghasilkan sekitar 75 hits saja. Saya harus promosi agar mendapat perhatian. Tetapi saya tidak bisa meniru Penonton, Clara Anita, Pak Wawan yang bisa menghias potongan awal artikelnya yang terpajang di halaman depan dengan gambar-gambar yang menarik, tematis dan artistik. Saya tidak punya waktu untuk mencari gambar. Tetapi saya tidak mau kalah bersaing dengan mereka. Kalah sedikit tak mengapa, kalah banyak jangan.


 

Saya menunda memposting artikel-artikel saya yang sudah siap untuk mencari kemasan yang menarik. Akhirnya saya melihat solusinya pada blog Inge Triastuti “Pilihan dalam sebuah kurungan ayam”. Ia tidak memasukkan ke kolom pajangan itu alinea pertama artikelnya (seperti yang biasa kita lakukan), tetapi ia memilih sebuah alinea yang berada di tengah artikelnya yang tampaknya ia anggap bisa menggoda orang untuk membuka blognya. Tetapi sayang blognya tidak mengumpulkan banyak hit. Mengapa? Karena alinea itu tidak provokatip. Juga judul blognya tidak membuat mata pedih. Dia perempuan, tak pantas jadi provokator.


 

Sambil mengedit penyajian stok artikel, saya membuka situs ini dan membaca blog Nada “Sepenggal cerita dari banyaknya cerita”. Saya sedih membacanya. Saya memeriksa stok artikel yang saya persiapkan untuk situs ini. Ada satu yang cocok, saya buka, saya poles sedikit, saya posting.


 

Saya mabok? Kelihatannya demikian karena saya memajang alinea yang dimulai dengan, “Saat ini lebih banyak gereja yang pendetanya berkualitas “ala kadar”nya atau “ala mak, . . .” Dari member SS yang aktif menulis, paling tidak ada 8 orang yang punya hubungan keluarga dengan pendeta atau tinggal seatap dengan pendeta dan pasti alisnya naik bila kata “pendeta” dilantunkan dalam nada minor. Kalau mereka mengomentari blog ini sambil mencak-mencak, pasti blog ini makin bertambah daya tariknya. Dan Ms Ericka bergegas masuk. Thank so much, Ms Ericka. Ini komentar Anda yang ke-4 selama saya menulis 42 blog di sini. Sayang sekali hai hai tidak merespon ajakan Erick. Kalau Empek ini masuk, pasti blog saya kebanjiran hit. Agaknya Empek sudah membaui adanya jebakan di sini. Apalagi dalam waktu 24 jam blog ini telah mengumpulkan 217 hit. Dia takut saya jadi sombong bila 24 jam berikutnya gara-gara ia ikut mengobok-obok, argo saya naik ke angka 500.


 

Kalau saya punya rumah makan, saya tidak akan menolak orang masuk hanya sekedar beli teh tawar atau hanya pinjam tempat untuk main catur, asalkan ia membawa mobil berkelas dan diparkirkan di depan tempat bisnis saya. Saya berharap orang yang melintas berpikir, “Masakan rumah makan ini pasti enak sampai-sampai orang bermobil mewah mau mampir. (Padahal yang datang itu kepala gangster yang sedang mengompas saya) Biar aku ikut mampir untuk tahu seberapa enak masakannya.” Ada blogger yang pernah mengusir 2 orang tamunya gara-gara mereka mempergunakan lapaknya untuk adu panco. Tetapi saya tiarap diam sehingga dikira melarikan diri ketika blog saya “Menyiasati Biaya Pendidikan” dijadikan ajang tawuran. Bukankah sering orang masuk ke sebuah blog hanya karena ingin membaca komentar seorang blogger papan atas? Apalagi bila komentator itu musuh bebuyutannya. Kemana blogger itu pergi ia akan mengintili (arti kata ini bisa ditanyakan kepada Oom Cahyadi) untuk mencari kesempatan membokongnya (ini istilah milik Kho Ping Hoo yang artinya bukan ‘mengelus bokong’). Bukankah sebuah blog juga menggoda orang untuk membukanya bila ia melihat angka komentarnya tinggi? Sebetulnya sih bukan komentar, tetapi chatting karena sela waktunya begitu singkat, bahkan isinya juga singkat sekali, “gundulmu!” misalnya.


 

Ada orang yang membuka sebuah blog melalui ketertarikannya atas judul komentar yang terpampang dalam daftar komentar. Sayang sekali, sampeyan-sampeyan tidak menulis judul yang provokatif pada komen Anda. Lha mbokyao diberi judul, “Awas, Purnomo kumat gilanya” gitu. Ada orang yang berulang-ulang masuk ke sebuah blog yang sama hanya untuk mengikuti score tawuran yang terjadi. Di sini contohnya Penonton yang sampai jengkel kok komentarnya tidak cepat-cepat direspon. Setidaknya ia sudah 2 kali masuk ke mari. Berarti jumlah hit yang besar itu semu? Ya iyalah. Saya sendiri juga senang melihat kesemuan ketika keniscayaan tidak menyenangkan hati. Namun demikian saya tidak boleh berpaling terlalu lama dari kenyataan. Setelah 1 bulan berlalu, dengan asumsi para client situs ini telah melupakan blog saya karena telah tergusur (pinjam istilah Pak Wawan), saya menghitung berapa hit/day yang muncul pada bulan ke-2 ke-3 dstnya. Hit ini muncul dari para netter yang menemukan blog ini melalui mesin pencari karena ketertarikannya kepada judulnya yang provokatip (contohnya “Berapa banyak pacar Yesus?”). Keterangan lebih rinci mengenai hal ini telah saya tulis di blog “Tergusur tapi tidak terkubur”.


 

Lhadalah, Purnomo malah menggelar promosi? Berniat menjawab komentar atau tidak sih? Mau ngeles ya? Ini enaknya menulis respon terhadap komentar tidak impromptu. Tidak emosional, bisa mikir yang lainnya, bisa menyelipkan iklan di sana-sini. Pokoknya di mana ada kesempatan, iklan jalan terus, begitu kata penunggu Rowo Pening. Namanya juga usaha. Laku terima kasih, tidak laku ya ngiklan lagi.


 

Inti komentar-komentar yang datang adalah tentang penggunaan kata “idola”. Penonton bertanya, “Apakah memang selalu begitu? Apakah meng-idolakan seseorang selalu berarti menempatkan sang idola sejajar dengan Tuhan? Kayaknya nggak selalu deh Mas Pur...”


 

Jawaban saya, “Penonton betul.” Kata ‘idola’ memang tidak selalu begitu artinya. Dalam KBBI, idola adalah sesuatu atau orang yang menjadi pujaan. Tidak dijelaskan di situ “jumlah kadar”nya. Dalam arti positip berarti yang disenangi, dikagumi, dihormati. Misalnya penyanyi, bintang filem, penulis novel, atlit atau politikus seperti yang saya kisahkan dalam sub-judul “Idola ayahku”. Kekagumannya kepada Bung Karno tidak sampai memberhalakannya, seperti yang saya pagari dengan kalimat “walaupun ia tak pernah menyukai politik”.


 

Tetapi alinea terakhir dalam sub-judul itu berbunyi, “Idola punya akar kata ‘idol’, berhala. Mengidolakan seseorang berarti menempatkan orang itu sejajar dengan Tuhan.” Ini tidak klop, tidak sesuai dengan yang diuraikan pada alinea-alinea sebelumnya. Alinea ini harusnya ada di bawah sub-judul “Idola dalam gereja” di mana kata idola telah saya geser ke arah kutub negatip dari mana akar katanya berasal, idol=false god, as of a heathen people. Tetapi mengapa alinea ini ada di situ? Purnomo mabok?


 

Setelah membaca alinea itu kira-kira apa yang akan terjadi? Pembaca akan berpikir, “orang goblog, ngeblog, apa minta diblok?” Iya ‘kan? Dan kemudian dengan antusias tinggi ia akan melalap alinea-alinea berikutnya untuk menemukan kebodohan-kebodohan berikutnya. Ini trik presentasi. Beri pernyataan kontroversial di awal presentasi agar mata pendengar mendelik terus, tidak mengantuk.


 

Di bawah sub-judul “Idola dalam Alkitab” saya mulai mengingatkan bahwa orang-orang yang kita kagumi, yang kita jadikan panutan, bahkan yang tercantum dalam Alkitab, yang namanya kita pinjam waktu baptisan, masih punya kelemahan.


 

Di bawah sub-judul “Idola dalam gereja” kita tiba pada arti negatip kata ‘idola’ yang saya jelaskan dalam kalimat, Tetapi bila kita sudah tidak berani berkata “tidak” kepadanya (pendeta), karena takut ia mengirim kutuk ke rumah kita, jelas kita sudah mengidolakannya. Apalagi bila kita melakukan sesuatu dengan dasar “pendeta saya yang menyuruh” bukan “Firman Tuhan yang menghendaki ini saya lakukan.”


 

Dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari kita telah memberi berbagai arti pada kata ‘idola’. Ketika kata ‘idola’ kita lekatkan kepada diri seorang penyanyi atau penulis novel atau seorang atlit, pasti yang kita maksud adalah ‘kekaguman’. Tetapi ketika kata ‘idola’ kita tempelkan kepada diri seorang pendeta, mudah-mudahan kata itu berhenti pada arti ‘kekaguman’ saja, yang berarti “pendeta yang saya hormati”, tidak lebih. Menyedihkan sekali bila kata ‘idola’ sudah memiliki aura ketakutan dan teror.


 

Pesan moral yang ingin saya sampaikan adalah jangan berharap pendeta Anda menjadi pelayan jemaat yang paripurna tanpa cacat. Ia tidak akan mampu memenuhi harapan ini. Jangan kecewa bila mendapati cacat cela dalam kerja pelayanan atau hidup kesehariannya. Ia masih punya sesuatu untuk diteladani, masih ada karakter positip dalam dirinya yang bisa Anda “manfaatkan” untuk menumbuh-kembangkan kerohanian Anda.


 

Bukankah dengan demikian hidup kita bersama para beliau ini – tanpa harus jadi istri atau suaminya – akan lebih nyaman? Kita pun tidak risih, tanpa rasa takut, tulus membantunya berjalan lebih baik. Alangkah indahnya bila Nada bisa tiba di titik ini.


 

Semoga.


 

PS: Purnomo Picky berterima kasih atas komentar Erick, MR, Penonton, Pak Wawan, Ebed Adonai dan AIC.

Mikhael Romario's picture

@purnomo

Sun Tzu menulis:

'orang yang gegabah/emosi adalah orang yang mudah dihasut'

itulah salah satu karakter saya yang sebenarnya ingin sekali saya buang jauh-jauh. Gegabah dan mudah emosi jikalau ada yang dirasa kurang 'sreg' di hati.

Saya sudah membaca beberapa blog anda. Meski sebelumnya saya belum pernah memberikan komentar secara langsung, namun itu tidaklah mencermikan kalau saya tidak suka dengan blog anda. Toh ada pepatah bilang 'cinta tidak harus memiliki'. Demikian juga saya tidak mesti memberikan komentar terhadap blog yang disuka. Paling tidak dengan pernyataan saya ini, anda sudah tahu pandangan saya terhadap blog-blog anda.

Terkejut dan 'aneh' itulah perasaan saya setelah membaca blog ini. Karena ini dirasa sangat berbeda dengan blog-blog anda yang sudah saya baca. Saya merasa blog ini tidak mencerminkan karakter Purnomo yang sebelumnya saya kenal  meski itu hanya dari  sejauh membaca blog anda.

Pak Pur, anda lagi mabok atau lagi caper? adalah awal komentar saya. Trims untuk Pak Wawan yang sudah mengingatkan saya karena kalimat tsb dirasa provokatif meskipun tidak terlintas sedikitpun dari saya untuk memprovokasi. Untuk itulah kemudian saya mengklarifikasinya.

Saya memang mencari perhatian anda karena ada berberapa hal  yang ingin anda menjelaskannya lebih jauh. Tapi kalau tujuan anda menulis blog ini hanya sekedar mencari rekor 'hit'', saya rasa saya sudah mendapatkan penjelasannya.

 

 

Damai Kristus

__________________

Damai Kristus

hai hai's picture

@ Purnomo, JUDUL, TAGGED dan ISI TULISAN

Mas purnomo, sudah lama saya menjadi penggemar tulisan-tulisan anda sama seperti saya menggemari tulisan-tulisan Anak Partisa dan Mas Wawan.Sudah lama pula saya prihatin dengan jumlah hit pada tulisan-tulisan anda bertiga. Menurut saya, tulisan anda bertiga harusnya mendapat jumlah hit yang jauh lebih banyak dari pada apa yang terjadi selama ini.

Selain judul, hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah TAGGED pada tulisan anda bertiga.Tagged harus berhubungan dengan tulisan anda.Sebelum membuat TAGGED,anda harus memikirkan, apa yang akan DIKETIKKAN orang ketika mencari dengan mesin pencari. TAGGED juga harus berhubungan dengan tulisan anda. Apabila anda ingin para pencari dengan kata IDOLA menemukan tulisan anda, maka anda harus membuat definisi tentang IDOLA.

Untuk tulisan ini anda membuat TAGGED Iman Kristiani. BErapa banyak orang Kristen yang masuk internet lalu mencari dengan kata IMAN KRISTIANI? Mas Wawan, banyak menggunakan kata ARTIKEL untuk tulisannya, pertanyaannya sama, berapa banyak orang Kristen yang ingin mencari tulisan anda dengan mencari menggunakan kata ARTIKEL? Anda harus memikirkan, apa yang dicari ketika orang mengetikkan kata IMAN KRISTIANI. Mas Wawan juga harus memikirkan apa yang dicari orang ketika mencari dengan kata ATIKEL.

JUDUL, ISI, TAGGED dan KOMENTAR. Ketiganya penting sekali bagi para pencari. Nah, mas Purnomo, silahkan memikirkannya.

Karena Di Surga, Yang Terbesar Adalah Anak-anak

__________________

Karena Di Surga, Yang Terbesar Adalah Anak-anak

Purnawan Kristanto's picture

Tx utk ilmunya

Makasih Ko untuk ilmunya. Sekarang saya akan lebih thinkfull lagi dalam mengetik tag.


 

 

__________________

------------

Communicating good news in good ways

hai hai's picture

Thanks Welcome Mas Wawan

Terima kasih kembali mas Wawan. Sudah berkali-kali saya memprovokasi mas daniel untuk menulis tentang tulisan yang disenangi oleh Google dan Yahoo, namun nampaknya mas Daniel masih sibuk dengan kerjaannya sehingga tidak terprovokasi sama sekali. Mas daniel menguasai hal itu dengan baik.

Karena Di Surga, Yang Terbesar Adalah Anak-anak

__________________

Karena Di Surga, Yang Terbesar Adalah Anak-anak

Purnomo's picture

hai hai: Pentingnya TAG sudah dipikirkan dan diuji

Terima kasih telah berbagi ilmu. Saya sudah menguji di mesin pencari Google apakah tag ikut diperhitungkan. Ternyata tag dan keyword (untuk situs lain) bisa memunculkan artikel yang bersangkutan dalam daftar hasil pencarian, walaupun kata yang ditulis dalam tag dan keyword itu tidak ada dalam artikelnya.

Btw, kunjungan Ketua Kaypang di lapak ini terbukti menambah keramaiannya. Catatan saya menunjukkan angka hit 217 (day 1) – 228 (day 3) – 233 (day 4) dan day 5 dini hari Ketua Kaypang melompat masuk. Berapa hit yang mengikutinya? Tidak usah ditulis di sini, nanti kena PPh.

Salam.

 

Penonton's picture

Cas.. cis.. cus.. jurus penglaris..

Salam Mas Pur,

 

Terima kasih banyak Mas Pur, atas komentar jawaban yang telah ditujukan kepada saya, Penonton.

Sekedar memberikan komentar terhadap penggunaan kata "Idola" di dalam blog tulisan Mas Purnomo....

Saya setuju bahwa dalam pelaksanaannya proses meng-idolakan seseorang seringkali dapat berkembang kepada tahap yang mas Purnomo maksudkan.

Purnomo menulis:

Dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari kita telah memberi berbagai arti pada kata ‘idola’. Ketika kata ‘idola’ kita lekatkan kepada diri seorang penyanyi atau penulis novel atau seorang atlit, pasti yang kita maksud adalah ‘kekaguman’.

Tetapi ketika kata ‘idola’ kita tempelkan kepada diri seorang pendeta, mudah-mudahan kata itu berhenti pada arti ‘kekaguman’ saja, yang berarti “pendeta yang saya hormati”, tidak lebih.

Menyedihkan sekali bila kata ‘idola’ sudah memiliki aura ketakutan dan teror.

 

Jika kita melihat penggalan kalimat di atas maka yang akan kita dapatkan adalah kalimat yang menjelaskan mengenai penggunaan kata "Idola" di dalam penerapan kehidupan nyata sehari-hari.

Mas Purnomo dalam tulisannya berusaha menjelaskan tentang arti kata Idola yang intinya sangat erat berkaitan dengan kekaguman ( bisa dilihat di penggalan kalimat di atas).

Disinilah mulai terlihat perbedaan yang jelas antara meng-idola-kan seseorang ,dengan meng-tuhan-kan seseorang.

Jika seseorang mempunyai seorang idola, adalah biasa jika dalam pelaksanaannya sang idola dianggap sebagai sosok yang serba ditinggikan.Seorang "fans" mungkin saja rela melakukan apa saja demi sang idola'nya.seorang "fans" juga mungkin saja membela sang idola mati-matian demi kepuasan diri ataupun sebagai rasa hormat kepada sang idola.

Selain daripada rasa suka yang berlebihan, meng-idolakan seseorang juga dapat ditunjukan dengan meng-koleksi barang-barang, cendramata, foto-foto, baju, dan segala jenis barang asesoris yang berkaitan dengan sang idola.

Tidak jarang seseorang meniru model rambut dan pakaian dari sang idola.Seorang fans yang setia bahkan sampai mempelajari tentang pola hidup serta kebiasaan sang idola, guna mengetahui hal-hal apa saja yang disukai atau dibenci oleh sang idola.
 




 

  

 Yang menjadi pertanyaan disini adalah:

Apakah dengan melakukan hal-hal yang biasa kita lakukan terhadap idola kita ,dapat menjadikan/menempatkan idola kita sejajar dengan Tuhan?

Apakah memang sesederhana itu?

Dalam pengakuannya, Mas Pur memang sekedar hanya menempatkan potongan kalimat penjelasan dari kata "idola" sebagai taktik guna memancing rasa ingin tahu dari pembaca.

Hal tersebut tentunya berakibat minimnya penjelasan serta kurangnya minat daripada Mas Purnomo untuk dapat menggali lebih lanjut arti daripada kata "idola" itu sendiri.

Lebih lanjut lagi...

Berhubung kata "idola" telah terlanjur dikaitkan di dalam blog tulisan Mas Purnomo maka respon serta keingin tahuan daripada pembaca tidaklah dapat dihindari lagi.

Berhubung kata "idola" menjadi fokus/inti perhatian daripada isi/judul tulisan mas Purnomo maka menjelaskan arti daripada kata "idola"  menjadi sebuah keharusan (agar kata idol tidak kehilangan maknanya).

Bagi saya, mensejajarkan seorang idol dengan Tuhan yang saya sembah ,sangat  tidaklah mungkin diterapkan di dalam kehidupan seorang Penonton.

Bagi Penonton sosol Tuhan tidaklah sekedar sosok yang patut dikagumi dan di perhatikan.Tuhan yang Penonton sembah menginginkan banyak hal lain  daripada sekedar di sanjung-sanjung serta di puja-puja.

Sebagai penutup...

Penonton berpendapat bahwa meng-idolakan seseorang tidak dapat disamakan dengan meng-Tuhan-kan sosok Tuhan.

Adalah mungkin bagi seorang penggemar untuk menyamai idolanya......akan tetapi adalah tidak mungkin bagi seseorang untuk menyamai Tuhan.

Terima kasih,

 

 

 

From OZ....far...far...away..

__________________

xxx

Purnomo's picture

Penonton, terima kasih sekali

mau berlelah meluruskan apa yang bengkok, melengkapi apa yang kurang, sehingga pembaca tidak tersesat jalan.

 Adalah mungkin bagi seorang penggemar untuk menyamai idolanya......akan tetapi adalah tidak mungkin bagi seseorang untuk menyamai Tuhan.

 Amin.

 

hai hai's picture

Mas Purnomo, Namanya Juga Usaha

Wah, jadi besar kepala nich ni dipuji mas Purnomo. Menurut saya bukan komentar saya yang bikin blog anda ramai, namun hal itu terjadi karena beberapa hari ini di Klewer memang kekurangan tulisan yang menggigit. Itu sebabnya tulisan adna dilirik kembali.


Kalimat di dalam tulisan juga sangat berperan untuk melariskan tulisan di mesin pencari, demikian pula dengan komentar atas tulisan itu. Saya pernah mengujinya dengan memberi komentar pada tulisan Aku Tidak Perawan Lagi II. Dalam jumlah hit, tulisan itu hanya kalah dari Pecandu Masturbasi, Jangan Kuatir. Menurut saya, tidak lama lagi tulisan itu akan melampauinya. Saya menulis komentar itu setelah mempelajari tulisan-tulisan di Internet.

Gambar juga bisa digunakan untuk menarik pembaca. Saya mengujinya ketika memasukan gambar pada tulisan, Damianus Wera - Membongkar Misteri Operasi Gaib. Banyak mahasiswa kedokteran menghit tulisan itu dari pencarian gambar. Saya mencobanya setelah bertanya kepada mahasiswa-mahasiswa kedokteran, gambar apa yang mereka cari di Internet?

Mas Purnomo, mungkin sudah saatnya kita memulai pertarungan di mesin pencari. Jangan membiarkan orang mencari situs atau sebuah tulisan yang SALAH tanpa melihat tulisan kita. Ha ha ha ha ... Nampaknya kita harus mendiskusikan hal ini secara tertutup agar tidak ditiru orang-orang tidak bertanggungjawab. Saya bermimpi, ketika klewer ulang tahun, kita adakan kopi darat besar-besaran dan di sana salah satu acaranya adalah seminar, tentang bagaimana cara JUALAN di pasar Klewer.

Karena Di Surga, Yang Terbesar Adalah Anak-anak

__________________

Karena Di Surga, Yang Terbesar Adalah Anak-anak

ebed_adonai's picture

permisi,..permisi,..

Permisi, mau numpang tanya saja sama semua. Saya lihat pernyataan bro MR yang katanya mengenal om Purnomo, tapi tulisannya sekarang berbeda (cmiiw). Saya lalu jadi mikir sendiri, apa mungkin, accountnya om Purnomo dihijack sama orang yang tak bertanggung-jawab? Soale dulu di kampus saya pernah ada kasus mahasiswa yang ceroboh menyimpan password account registrasinya, lalu seluruh mata kuliahnya di server kampus diutak-atik sama orang iseng. Sekali lagi sori kepada semua pihak yang terkait, saya tidak bermaksud memperburuk keadaan, hanya sekedar sharing saja.

Shalom!

__________________

(...shema'an qoli, adonai...)

Mikhael Romario's picture

@ebed

Salam Lae Ebed,

wah anda berpikir terlalu jauh heheheh......

Saya gak kenal Pak Purnomo, saya hanya tau beliau dari SS ini. Ketemupun apalagi. Kalau papasan di tengah jalanpun saya saat ini tidak akan mengenalinya.

Tentang komentar saya ke Pak Purnomo, sebenarnya saya hanya mau bilang kalau blog dia 'mencari idola dalam gereja' sangat berbeda dengan blog-blog yang dipost sebelumnya.

 

 

Damai Kristus

__________________

Damai Kristus

ebed_adonai's picture

@MR: Ok, deh..

Ok, dah kalau begitu Bro. Saya tadi itu tiba2 teringat kasus di kampus dulu.

Shalom!

__________________

(...shema'an qoli, adonai...)

Purnomo's picture

Ebed & MR: Ada hacker di Sabdaspace?

Mas Ebed, komen Anda membuat saya kaget. Saya tidak ceroboh menyimpan account saya. Tetapi bisa saja orang pintar jadi hacker di situs ini. Apakah pemikiran itu muncul karena saya mempergunakan kata ‘Purnomo’ alih-alih ‘saya’ (meniru Ms.Joli) yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan? Puteri saya yang diam-diam sering menjelajahi situs ini karena kuatir peristiwa-peristiwa hidupnya saya tulis, juga belum saya warisi blog saya. Malah kemarin mendadak saja ia bilang, “kok melas banget blog kamu ndak punya hiasan, biar nanti aku carikan avatar yang keren.” Gara-gara warning dari Mas Ebed terpaksa saya memeriksa ulang artikel itu dan ternyata, syukurlah, masih sama dengan aslinya. Situs ini keamanannya masih bagus.

 

 Saya mengerti keterkejutan MR terhadap blog ini yang berbeda dengan blog-blog sebelumnya. Sebelumnya seperti dikerjakan di ruang kuliah, yang ini seperti dikerjakan di kelas TK. Sebelumnya antar alinea bertaut erat, yang ini malah patah-patah dan bergeser jauh. Ikut-ikutan musim longsor, ‘kali.

 MR, saya mengungkit komen Anda adalah yang ke-2 bukan untuk bertanya “kok tidak pernah berkomentar, sih?” Tetapi untuk mengatakan “forgive me” atas kesenyapan saya terhadap komen Anda yang pertama. Terhadap komen ke-2 ini memang emosi saya naik. Bukan  marah, tetapi semangat untuk segera meresponnya, karena pernyataan dalam pertanyaan Anda itu pas banget. Karena itu pertanyaan Anda saya pergunakan sebagai titik awal respon saya kepada semua komentator. Anda teliti dan kekaguman (wah saya mulai menyombongkan diri) Anda yang lalu tidak membuat Anda langsung saja menelan pernyataan-pernyataan saya. Ini yang seharusnya.

 Blog ini runtutannya berantakan – seperti yang dijelaskan oleh Penonton – karena kemungkinan besar tanpa saya sadari saya sudah tergulung kelelahan dan kejenuhan sehingga melakukan eksperimen yang bisa membahayakan orang lain. Jadi, bagaimana kalau saya merubah rutinitas, atau melakukan sesuatu yang berbeda dari biasanya? Pernyataan MR “Cinta tidak harus memiliki” memberi saya sebuah solusi. Frase itu membuat saya teringat syair lagu Camelia, Rindu Yang Terlarang dan Blue Blue My Love is Blue. Jika selama ini saya berjualan roti bakar, mungkin beralih menjadi pedagang sop buah akan mengembalikan semangat yang hilang. Tentu sebuah tantangan menarik untuk merubah penampilan, merubah cara bertutur waktu menawarkan dagangan, merubah aroma keringat, merubah sesuatu menjadi sesuatu yang lain yang belum pernah saya jalani selama ini. Kalau biasanya berkalung dasi nanti leher saya akan berkalung serbet.

 Jika blog saya berikutnya tidak muncul dalam waktu singkat, itu lebih dikarenakan saya harus mempersiapkan diri, bukan ngambek lho. Lalu dagangan macam apa yang akan saya jual? Tidak jauh dari lagu-lagu di atas. Saya akan menulis blog genre baru ini sambil mendengarkan sebuah lagu, “Tiga puluh menit, kau di sana, tanpa cela-  a  n.” Gitu.

 Mohon pamit sampai jumpa.

Haiya, ada yang lupa. MR terima kasih atas frase yang begitu menggoda.

 

ebed_adonai's picture

@purnomo: aduuhh,...

Aduhhh,...jangan jadi kepikiran bro Purnomo (saudara-saudara yang lain juga), itu cuma spontanitas saya saja melihat diskusi anda dengan MR, karena dulu di kampus saya memang pernah terjadi seperti itu. Semoga jangan jadi saling curiga-mencuriga di antara sesama saudara yang terkasih di sini

Shalom!

__________________

(...shema'an qoli, adonai...)